Artikel

Rabu, 20 Desember 2017

Revitalisasi Bahasa Daerah di Aceh

PROVINSI Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki bahasa terbanyak di Pulau Sumatra. Tercatat ada sepuluh bahasa yang masih digunakan oleh masing- masing etnis pemiliknya, yaitu (1) bahasaAceh, (2) bahasa Tamiang, (3) bahasa Gayo, (4) bahasaAlas, (5) bahasa Singkil, (6) bahasa Kluet, (7) bahasa Jamee, (8) bahasa Sigulai, (9) bahasa Devayan, (10) bahasa Haloban.

Dari sepuluh bahasa tersebut, ada bahasa yang dituturkan oleh mayoritas, yaitu bahasa Aceh dan ada pula bahasa yang dituturkan oleh minoritas, yaitu bahasa Haloban danbahasa Kluet. Bahasa Aceh dituturkan oleh etnis Aceh yang mendiami wilayah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, sebagian besar Kota Sabang, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Aceh Barat Daya, sebagian wilayah Aceh Selatandan Aceh Tamiang. Bahasa ini dianggap berkerabat dengan bahasa Campa atau termasuk rumpun Chamic (daerah Kamboja dan Vietnam), cabang dari rumpun bahasa Austronesia Barat

Sementara itu, bahasa Gayo adalah bahasa yang sekarang digunakan di wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Bahasa di dataran tinggi Aceh ini merupakan bahasa dengan jumlah penutur kedua terbanyak di Aceh. Belum ada penelitian yang sahih tentang kekerabatan bahasa ini, meskipun dalam kebudayaannyaterdapat warna Batak dan Aceh.

Bahasa Alas adalah bahasayang dituturkan oleh masyarakat di Aceh Tenggara. Menurut penelitian SIL Internasional,bahasa ini memiliki pertalian erat dengan bahasa Batak di Sumatra Utara. Selanjutnya, bahasa Kluet adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di empat kecamatan di Aceh Selatan, yaitu Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Timur, dan Kluet Tengah. Bahasa Kluet oleh SIL Internasional juga dianggap berkerabat dengan bahasaBatak.

Untuk membuktikan kebenaran penelitian SIL tersebut diperlukan penelitian yang mendalam, baik secara sinkronik maupun secara diakronik. Bahasa Singkil adalah ba-hasa yang digunakan olehmayoritas masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil dan sebagian Kota Subulussalam.

Menurut SIL Internasional, bahasa ini diduga berkerabat dengan bahasa Karo. Namun, masyarakat etnis Singkil enggandikatakan bahasa mereka adalah dialek dari bahasa Karo. Bahasa Singkil memiliki beberapanama lain, seperti bahasa Julu, Boang, Kade-Kade, dan Kampong. Namun, secara politis tampaknya nama bahasa Singkil lebih berterima untuk digunakan di kalangan terdidik dan di jajaran pemerintahan.

Hal ini misalnya dapat dicermatidari penulisan kamus bahasaSingkil oleh Mu’azd Vohry yang berjudul NanggakhBasa Singkil (2016). Bahasa Jamee adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di sebagian Kabupaten Aceh Selatan, terutama di Kecamatan Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji Timur, dan Samadua. Bahasa ini juga digunakan di Kecamatan Kaway XI dan sebagian Meureubo di Aceh Barat, Kecamatan Susoh di Kabupaten Aceh Barat Daya, di sebagian Kota Subulussalam, Singkil, dan sebagian Kota Sinabang di Kabupaten Simeulue.

Bahasa inisebenarnya adalah bahasa Minangkabau yang dibawa bersamaandengan hijrahnya sebagian orang Aceh yang berkeluarga dengan orang Minang semasa Kerajaan Aceh Darussalam berjaya. Karena itu pula mereka disebut sebagai jamee atau tamu, yang dalam budaya Aceh harus dimuliakan. Di kemudian hari terjadilah migrasi orang Minang ke pantai Barat Selatan Aceh untuk mencarikehidupan yang lebih layak di negeri baru.

Tujuh bahasa yang sudah disebutkan merupakan bahasa yang hidup dan berkembangdi daratan. Tiga bahasa lagi hidup dan berkembang di kepulauan, dua di antaranya terdapat di Pulau Simeulue, yaitu bahasaDevayan dan bahasa Sigulai. Bahasa Devayan atau Simalur digunakan di Simeulue Timur dan sekitarnya. Bahasa Sigulai digunakan di Kecamatan Simeulue Barat dan Sekitarnya.

Kedua bahasa di Pulau Simeulue ini diduga mendapat pengaruh dari bahasa Nias. Meskipun terdapat sejumlah kata yang sama dari kedua bahasa ini, tetapi masih dianggap sebagai bahasayang berbeda sampai ada penelitian yang komprehensif untuk pembuktiannya. Satu lagi bahasa di kepulauan adalah bahasaHaloban. Bahasa yang diduga dipengaruhi oleh bahasa Nias ini dituturkan leh ribuan orang di Desa Haloban dan Asantola, di Kecamatan Pulau Banyak Barat.

Oleh para pemerhati, bahasa ini dirisaukan sudah diambang “sakratul maut” seiring dengan semakin menyusur jumlah penuturnya. Kekayaan budaya daerahAceh dari segi bahasa ini perlu mendapat perhatian serius dari pemangku adat dan pemerintahan. Hal ini karena perkembangan kesepuluh bahasadi Aceh ini tergolong stagnan, di samping bahasa Haloban yang berada para taraf krisis. Beberapa langkah nyata yang segera harus dilakukan sebagai wujud revitaliasi bahasa adalah sebagai berikut.

Pertama, menempatkan semua bahasa tersebut sebagai muatan lokal di jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Kedua, segera dihasilkan guru bahasa daerah Aceh dari perguruan tinggi yang ada di Aceh. Ketiga, perlu digalakkan satu hari wajib menggunakan bahasa daerah di daerah masing-masing pada perkantoran dan lembaga pendidikan. Keempat, perlu segera dibuat kamus yang komprehensif untuk bahasa dengan penutur minoritas, sepertibahasa Kluet, Haloban, Singkil, Sigulai, dan Devayan.

Kelima, perlu dihidupkan media massa yang menggunakan bahasa daerah masing-masing. Keenam, perlu ditumbuhkan kesadaran semua pemilik bahasa agar senantiasa menggunakan bahasa etnis masing-masing di lingkungan eluarga. Sebab, awal hilangnya sebuah bahasaadalah karena ia tidak lagi digunakan di dalam keluarga. ungkin itulah enam langkah yang perlu dilakukan untuk merevitalisasi bahasa daerah di Aceh.

* Dr. Mohd Harun, M.Pd, Kepala Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh, Universitas Syiah Kuala

 

sumber:http://aceh.tribunnews.com

Penulis: Dekgam Dekgam
Komentar
comments powered by Disqus