Berita Terkini » Dokumen

Jumat, 11 Oktober 2013

“Panggung Kecil” Itu Bernama Indonesia

Di atas kertas Indonesia memang berjaya. Lihat saja, jumlah penduduknya yang besar. Betapa kita kadang sangat berbangga dengan itu.

Lalu, lihatlah tingkat penggunaan ponsel di Indonesia. Tergantung siapa yang Anda tanyakan, penggunaan ponsel di Indonesia konon sudah melampaui jumlah penduduknya.

Di antara pengguna ponsel itu, menurut data GfK 2012, 20 persennya adalah pengguna smartphone. Kisarannya, di angka 15 juta pengguna.

Jadi, sebenarnya, besarkah pengguna smartphone atau gadget lainnya di Indonesia? Rupanya, bagi banyak pihak, angka ini memang cukup besar.

Apalagi ditambah prediksi dari berbagai lembaga riset yang menyebutkan pertumbuhan penggunasmartphone di Indonesia akan menjadi salah satu yang tercepat di Asia Tenggara.

Pasar besar, panggung kecil

Ya, Indonesia memang dianggap sebagai sebuah pasar yang besar. Maka entitas asing, baik produk ataupun layanan pun masuk Indonesia dengan derasnya.

Serunya, Indonesia memiliki karakter yang berbeda dengan pasar besar yang ada di tempat lain. Sebuah produk yang laris manis di Amerika Serikat, misalnya, belum tentu disambut gegap gempita di negeri ini.

Tapi bukan berarti tidak ada pelajaran yang bisa diambil dari Indonesia. Mereka yang terjun ke Indonesia, dengan upaya terbaiknya berusaha meraup pasar Indonesia, tentu bisa mendapatkan pelajaran untuk diterapkan di pasar yang lain.

Sebagai pasar yang besar, Indonesia bisa jadi semacam lahan percobaan. Sebut saja sebuah panggung kecil sebelum bergerak ke arena yang lebih besar (global). Walaupun, “panggung kecil” ini saja sebetulnya cukup untuk menjadi panggung utama bagi pihak tertentu.

Tak heran jika kemudian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak investasi di Indonesia saat membuka Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Bali, Minggu, 6 Oktober 2013.

“Sebagai marketing director Indonesia Inc, perusahaan yang berbentuk negara, saya mengundang Anda semua untuk meningkatkan bisnis dan peluang investasi di Indonesia,” tuturnya.

Siapa tokoh utamanya?

Di satu sisi ada keinginan mendatangkan investasi asing, yang akan membawa devisa dan (harapannya) ikut memutar roda ekonomi dalam negeri. Di sisi lain adalah keinginan untuk menumbuhkan industri dalam negeri.

Dan kedua hal itu memang bisa —bahkan harus— dijalankan secara bersamaan. Mereka yang datang berinvestasi (menginvasi?) Indonesia, silakan datang. Tapi Indonesia sendiri harus mampu melahirkan kekuatan yang mampu bersaing.

Di sektor gadget, harapannya sudah ada, meskipun baru sedikit saja. Lihat saja merek lokal, seperti Mito atau Cross (sekarang Evercoss) yang terus bergeliat di segmennya.

Atau, lihat juga lini Andromax dari Smartfren yang terbukti masih punya taring di segmen tertentu. Perangkat yang lahir dari kebutuhan untuk memasarkan layanan data berbasis CDMA ini sekarang menjadi segmen tersendiri yang cukup “menggigit” di pasaran.

Belum lagi produk dari MLW Telecom yang mengusung merek Speedup. Setelah banyak bertarung di arena modem dan kartu data, Speedup mulai berani unjuk gigi di arena tablet dan smartphone.

Ya, beberapa pihak mungkin akan berkomentar begini: “Itu kan produk-produk buatan China yang dikasih merek Indonesia!”

Pernyataan itu tak sepenuhnya benar. Pertama, produk-produk itu memang diproduksi di China (atau Taiwan). Apa salahnya dengan hal itu? Bukankah perangkat Apple juga Made in China, tapiDesigned in California?

Kedua, tidak semua jajaran produk “merek lokal” tadi adalah murni repackaging. Ada juga yang mengalami proses intelektual di Indonesia. Ya, semacam Designed in Indonesia, Made in China lah.

Tapi tulisan ini tidak bermaksud untuk meminta konsumen menggunakan produk-produk di atas semata-mata karena memiliki merek Indonesia. Keputusan untuk membeli haruslah berdasarkan: mutu produk, kebutuhan konsumen, dan nilai produk.

Jika prasyaratnya memang belum terpenuhi, untuk apa memaksakan diri menggunakan produk yang tidak cocok?

Berani premium dong!

Memang, produk merek lokal tidak seharusnya identik dengan harga murah. Produsen harus berani berkata: “produk kami bermutu bagus, dan layak bersaing dengan produk unggulan merek asing!”

Produsen perangkat lokal saat ini pun mulai berani menjual produk premium. Artinya, produk yang memiliki kualitas bagus, dirancang lewat proses intelektual di dalam negeri, dan harganya juga layak.

Sebagai contoh di negeri lain, lihat saja Oppo —produsen asal China— yang berani menghadirkan perangkat premium berbasis Android. Meski belum sebeken Samsung atau HTC, misalnya, produk Oppo sudah bisa dibandingkan dari sisi kualitas.

Masih dari tempat yang sama, lihatlah Xiaomi. Belum lama ini, perusahaan itu menarik perhatian karena berhasil menggaet Hugo Barra, eksekutif Google yang menangani Android.

Kalau mau melihat contoh lokal, tapi dari sektor industri yang berbeda, mari mengarahkan pandangan ke Yogyakarta. Pada sebuah produsen tas bernama Nokn Bag.

Produsen asal Yogya itu mampu menghadirkan rangkaian produk dengan desain unik dan sistem modular, yang membuat konsumen memiliki pilihan luas pada produknya.

Boleh dibilang, Nokn Bag ini ibaratnya Timbuk2, produsen tas dan apparel asal San Francisco. Kekuatannya ada pada local pride dan mutu yang tidak main-main.

Patut dicatat, harganya pun cukup premium. Nokn Bag tidak malu-malu menjual produk yang harganya “wah”, agaknya karena mereka yakin bahwa mutu produknya memang layak.

Sudah saatnya, di sektor produk teknologi alias gadget, Indonesia juga memiliki produk yang mutunya bisa disandingkan tanpa malu-malu dengan produk merek asing ternama.

Ini bukan soal nasionalisme. Ini soal meningkatkan mutu pelaku industri dalam negeri. Jadi di “panggung kecil, pasar besar” yang bernama Indonesia ini, kita juga harus bisa jadi tokoh utama.

Tentang Penulis: Wicak Hidayat adalah Editor KompasTekno dan merupakan salah satu pendiri DepokDigital. Tulisan ini merupakan opini pribadinya. Penulis bisa dihubungi lewat akun twitter@wicakhidayat.

Penulis: Admin Dua
Komentar
comments powered by Disqus