Berita Terkini

Senin, 8 April 2019

UT dan Unsyiah Kerja Sama Garap Pendidikan Jarak Jauh

Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng (dua kiri) dan Rektor UT, Prof Ojat Darojat MBus PhD memperlihatkan naskah kerja sama di Kampus Unmuha Banda Aceh, Minggu (7/4).

Jaringanpelajaraceh.com.Banda Aceh-Minggu kemarin berlangsung penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama antara RektorUniversitas Terbuka (UT), Prof Ojat Darojat MBus PhD dengan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Prof Dr Samsul Rizal MEng, juga penandatanganan MoU antara Direktur Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT Banda Aceh, Drs Edy Syarif MPd dengan Pemimpin Perusahaan Harian Serambi Indonesia, Mohd Din, SE.

Penandatangan MoU itu berlangsung di Gedung UCC KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Banda Aceh, dilaksanakan di sela-sela wisuda sarjana UT yang diberi nama upacara penyerahan ijazah (UPI).

Dalam kesempatan itu, Rektor UT, Prof Ojat Darojat mengatakan, UT diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk membantu dan mendampingi perguruan tinggi konvensional agar dapat melakukan pendidikan jarak jauh. Dalam konteks itulahkerja sama dengan Unsyiah dilakukan kemarin.

Kita bekerja sama dengan Unsyiah agar Unsyiah juga bisa mempunyai kemampuan untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh sehingga mereka dapat mengembangkan bahan ajar untuk jarak jauh. UT siap mendukung program pemerintah agar angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia bisa meningkat,” ujarnya.

Saat kini, lanjut Prof Ojat, mahasiswa UT tersebar di 34 provinsi di Indonesia dan 36 negara. Di antaranya berada di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Arab Saudi, dan Korea Selatan.

Mereka adalah warga yang sedang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia di luar negeri. Ini sangat baik bagi mereka karena di samping bekerja pada saat bersamaan juga bisa meningkatkan kualitas pendidikannya,” kata Prof Ojat Darojat.

Sementara itu, Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal mengakui UT mempunyai kelebihan dalam hal pembelajaran jarak jauh, bahkan sudah memiliki insfrastruktur, platform digital, dan bahan ajar (modul). “Jadi, dengan kita melakukan kerja sama ini,Unsyiah tidak perlu lagi mengembangkan hal tersebut. Unsyiahmempunyai sumber daya manusia yang akan memperkaya UT dan UT pun akan memperkaya Unsyiah. Jadi, tidak perlu lagiUnsyiah mengembangkan hal sama yang sudah dikembangkan UT,” katanya.

Menurut Samsul, semua perguruan tinggi di Indonesia diminta untuk mengembangkan pembelajaran jarak jauh. Namun,Unsyiah tidak akan mengembangkan hal yang sama seperti dilakukan UT, melainkan akan blended. Artinya, ada yang secara online, ada juga secara tatap muka antara mahasiswa dan dosen.

Jadi Unsyiah akan gunakan hybrid learning. Nantinya ada yang secara online dan tatap muka, tidak semuanya 100 persen. Mungkin 50:50 atau 60:40, misalnya mata kuliah teknik itu harus praktik, maka harus blended,” ujar Samsul.

Dengan teknik seperti itu, kata Prof Samsul Rizal, Unsyiah akan dapat menerima mahasiswa lebih banyak lagi dan tidak terikat dengan jumlah ruang. “Sehingga kita bisa mendidik sebanyak mungkin mahasiswa,” katanya.

Di samping itu, lanjut Samsul, Unsyiah akan ditingkatkan menjadi Science Technology Park yaitu industri-industri berdasarkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang akan dilahirkan di sana bekerja sama dengan Pemerintah Aceh. “Ini kan generasi milenial, jadi banyak ide, inovasi, dan mereka bisa juga membuat start up di Unsyiah,” ujarnya.

Samsul juga mempersilakan seluruh perguruan tinggi di Aceh untuk menggunakan SDM yang ada di Unsyiah agar lulusan yang dilahirkan mumpuni dan mempunyai inovasi. “Begitu tamat di mana pun perguruan tingginya di Aceh dapat memberikan solusi bagi beberapa hal dan bagi masyarakat sekitarnya,” sebut Samsul Rizal.

Ia mencontohkan Korea yang pendidikannya maju, itu karena perguruan tingginya yang maju bukan hanya satu. Demikian pula halnya dengan Cina, puluhan universitasnya maju sehingga berdampak pada pendidikannya yang juga maju.

Sebelumnya, Rektor UT, Prof Ojat Darojat menyebutkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara seperti, Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Maka untuk mengakselerasi peningkatan APK pendidikan tinggi Indonesia, pemerintah harus menyelenggarakan program pendidikan jarak jauh yang merupakan program strategis pemerintah untuk meningkatkan APK tersebut,” ujarnya.

Prof Ojat juga bertanya mengapa pendidikan jarak jauh penting? Jawabnya adalah dengan pendidikan jarak jauh mereka yang selama ini terkendala untuk masuk perguruan tinggi negeri yang biayanya mahal, maka bisa masuk UT dengan biaya yang lebih murah dan terjangkau,” katanya. (una)

 

 

sumber:http://aceh.tribunnews.com/

 

 

Penulis: Dekgam Dekgam
Komentar
comments powered by Disqus