Bingkai Dunia

Selasa, 28 November 2017

Wow… Kantong kresek temuan anak bangsa di dimakan.

Gagasan bahwa rumput laut merupakan sumber bioplastikyang layak bukanlah sesuatu yang baru. Tanaman ini kaya akan polisakarida, bahan baku alami, dan penelitian di bidang ini membentang lebih dari satu dekade.

Pendiri Evoware memilihnya karena beberapa alasan. Seperti rumput laut tidak menciptakan limbah, dapat larut saat terkena air, menyedot karbon dioksida saat tumbuh dan dapat tumbuh tanpa pupuk, air, atau sumber tambahan lainnya. Rumput laut juga bergizi karena mengandung serat dan vitamin tinggi.

Dari sisi sosialnya mereka turut ingin membantu petani rumput laut di Indonesia meningkatkan mata pencaharian mereka.

Dibutuhkan satu hektare samudra untuk menghasilkan 40 ton rumput laut kering setiap tahunnya. Volume tersebut menyerap 20,7 ton emisi karbon dioksida (CO2) selama proses budi daya. Sumber utama aktivitas Evoware selama produksi percontohannya adalah budi daya rumput laut dari Sulawesi.

Untuk saat ini proses pengolahan rumput laut Evoware masih sangat manual. Meliputi proses persiapan (dan pengeringan) bahan baku yang diikuti oleh pembentukan, penekanan, dan pemotongan material menjadi satu lapisan.

Meski hasil akhir material tersebut hambar dan tidak berbau, jika diperkenankan dapat juga ditambahkan rasa.

Lapisan yang sudah jadi diklaim memiliki umur simpan dua tahun sehingga cocok untuk menjadi pembungkus makanan kering.

Lapisan luar halus, seperti plastik, tapi bagian dalamnya kasar. Ketebalannya bisa dikendalikan sesuai keinginan, tergantung juga dari jenis makanan atau barang yang dibungkus.

“Kami terus belajar,” kata Edwin Aldrin Tan, juga pendiri Evoware dan penasihat pengembangan bisnis dan penasihat keuangan yang berbasis di Jakarta dikutip dari Green Biz (1/11).

Meski dia tidak akan membagikan rincian lain tentang formulasi material tersebut, namun ia meyakinkan bahwa tidak ada bahan kimia yang ditambahkan di sepanjang proses.

Salah satu konsumen Evoware adalah Bruxel Waffle, yang menjual kue wafel vegetarian Belgia di festival di Bali. Evoware sendiri terus mengirim sampel ke perusahaan-perusahaan produk konsumen di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Selain itu, perusahaan ini sedang mengusahakan material versi berlapis-lapis yang mungkin lebih sesuai untuk mengemas cairan atau semi-cairan. Untuk ini bahannya tidak hanya rumput laut, “bahan sekundernya adalah permen karet damar,” tambah Edwin.

Berkata kepada BBCIndonesia.com (19/11), pengamat bisnis lingkungan, Agus Sari, mengatakan bahwa produk yang menawarkan solusi terhadap permasalahan sampah plastik semacam ini selalu segar. Sebab sampai saat ini persoalan sampah plastik di tanah air sudah memprihatinkan.

Jika pada akhirnya pemerintah akan keluar uang untuk menanggulangi masalah sampah yang luar biasa tersebut, ”kenapa tidak keluar uang untuk pencegahan, dan bukan penanggulangan?” ujar Agus.

Dari sisi ekonomi, menurutnya untuk bisa bersaing di pasar, produk semacam ini akan kalah bersaing jika hanya menawarkan solusi.

”Buat pasar, solusi itu urusan secondary. Yang primer, seberapa murah?” kata Agus. ”Hanya mengedepankan environmental awareness saja tidak akan cukup untuk jualan.”

Agus menyimpulkan, kalau harganya terlalu mahal untuk produksi massal maka produsen tetap akan membeli kemasan plastik, karena mereka tidak mau menambah biaya.

”Ini kan bukan produk yang tidak ada di pasar, tapi mengganti yang sudah ada di pasar.”

”Supaya mereka bisa berperan lebih banyak, satu, harus ada insentif pajak supaya harga bisa bersaing. Kedua, perlu ada regulasi, sekalian saja larang plastik diedarkan.”

Penulis: langet
Komentar
comments powered by Disqus