Dua Buku Dosen Hukum Pidana Islam UIN Dibedah

Jaringanpelajaraceh.com | BANDA ACEH – Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menyelenggarakan acara bedah buku di lantai 2 Ruang Kuliah Umum (RKU) Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Kamis (22/5).

Buku yang dibedah itu masing-masing Aceh Baru Post-Tsunamikarangan Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (KBA) dan Pergolakan Aceh Dalam Perspektif Syariat, karya Mutiara Fahmi Lc, MA, keduanya dosen pada Jurusan Hukum Pidana Islam UIN Ar-Raniry.

Panitia mengundang Dr Hasanuddin Yusuf Adan dari Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry dan Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia) sebagai pembedah buku.

Dalam paparannya Yarmen menjelaskan bahwa dalam membedah buku baru setidaknya ada enam hal yang ia namakan “6C” yang harus diperhatikan. Yakni, menarik tidaknya cover, context, content, correct, clear, dan (eye) catching sebuah buku. Namun, dari keenam aspek itu, Yarmen lebih fokus pada content ataupun isi buku, khususnya kesalahan semantik yang terdapat di dalam buku setebal 318 halaman itu.

Menurutnya, Aceh Baru Post-Tsunami merupakan buku yang sesuai dengan kondisi (konteks) Aceh saat ini. “Buku karya KBA ini berhasil menggambarkan dengan bernas dan cerdas kondisi Aceh pascatsunami plus prediksi brilian pada masa mendatang,” ujarnya.

Dalam menulis buku ini, menurut Yarmen, KBA bukan hanya memosisikan dirinya sebagai penulis, tetapi juga sekaligus sebagai investigator, pewarta, dan akademisi. Buku ini sangat layak dikonsumsi oleh semua kalangan, baik yang mencintai Aceh maupun yang mengharapkan Aceh bisa lebih baik pada masa mendatang,” ujarnya.

Sedangkan Dr Hasanuddin Yusuf Adan, dalam penjelasannya terhadap buku Pergolakan Aceh dalam Perspektif Syariat mengatakan, buku itu lebih kepada upaya memotret konflik Aceh melalui Ilmu Politik Islam. Menurutnya, dalam Islam istilah pemberontakan disebut dengan bughah.

Pemberontakan yang terjadi di Aceh, menurut Dr Hasanuddin, hendaknya dilihat dari beberapa sisi. Jika yang melakukan pemberontakan adalah orang muslim yang tidak cacat ibadahnya kepada pemerintah yang muslim, maka disebut dengan bughah. Tapi jika yang melakukan pemberontakan itu kelompok muslim kepada pemerintah yang cacat ibadahnya, maka itu dinamakan jihad.  Sedangkan jika yang melakukan pemberontakan adalah kelompok muslim yang cacat ibadahnya kepada pemerintah yang juga cacat ibadahnya, maka itu dinamakan apa? “Nah, hal inilah yang luput dari pembahasan di dalam buku Pergolakan Aceh ini,” ujar Hasanuddin. Pria yang dikenal luas sebagai mubalig ini menjelaskan bahwa buku Pergolakan Aceh dalam Perspektif Syariat layak dibaca oleh siapa pun, terutama mereka yang meminati ilmu politik Islam.

Acara yang dipandu Delfi Suganda LLM itu berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Selain dihadiri puluhan mahasiswa fakultas tersebut juga dihadiri M Adli Abdullah (sejarawan Aceh), Tgk Nashiruddin bin Ahmad (mantan juru runding GAM), Mukhlisuddin Ilyas (Direktur Bandar Publishing), dan Dr Burhanuddin Umar (Dosen UIN Ar-Raniry).

Zahlul Pasha selaku ketua panitia menyatakan, bedah buku ini diadakan, antara lain, agar peserta memahami kondisi sosialmasyarakat Aceh pada saat setelah terjadinya tsunami dan apa yang seharusnya dilakukan untuk membentuk tatanan kehidupan masyarakat Aceh yang lebih baik ke depannya.

Sumber :aceh.tribunnews.com | DF