sekolah pinggiran perlu ditingkatkan

Jaringanpelajaraceh.com | BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, M Nasir mengatakan, mutu pendidikan di daerah pinggiran kota perlu terus ditingkatkan, sehingga pada tahun-tahun mendatang mutu pendidikan di ibukota propinsi Aceh ini, bisa merata di semua sekolah yang ada di Kota Banda Aceh.

Permintaan M Nasir sangat beralasan, karena persentase mutu pendidikan sekolah di pinggiran kota hasil ujian nasional belum lama ini, menurun 4 persen. Sedangkan sekolah-sekolah favorit atau sekolah unggul lainnya justru naik antara lima sampai 20 persen.

“Pemko Banda Aceh melalui dinas pendidikan kota harus bekerja keras lagi, sehingga UN tahun depan pesentase mutu sekolah pingiran tidak tambah turun. Tapi, persentasenya justru harus lebih baik dari tahun ini,” ungkap Nasir.

Apalagi, kata Nasir, Pemkot Banda Aceh bersama dewan kota sudah memasang tekat dengan moto “mutu pendidikan kota harus terus ditingkatkan”. Dari keinginan itu, dewan kota tahun 2014 ini mensahkan anggaran pendidikan Banda Aceh diatas 20 persen – lebih tinggi dari amanah UU pendidikan secara nasional.

Menurut M Nasir ada sejumlah sekolah dipinggiran yang kepedulian anak didik dan orangtua murid dalam bidang pendidikan masih rendah, sehingga mereka masih ada yang malas belajar dan kalau di beri sanksi malah orangtuanya marah.

Kondisi ini,  sangat menyulitkan guru dalam membimbing anak didik mereka untuk meningkatkan pengetahuan setara dengan sekolah favorit yang ada dalam kota Banda Aceh dan sekolah-sekolah di Aceh bahkan di Indonesia.

Akibat kurang peduli murid, terkadang membuat para guru bosan dengan keadaan tersebut. Guru dihadapkan dengan kondisi yang kurang menguntungkan – karena bila memberi sanksi berat. Misalnya, bagi yang tidak mengejarkan PR tiga kali berturut-turut, lalu menskor dengan tidak memberi izin masuk kelas – terkadang wali murid tidak bisa menerima dan  marah.

“Sekolah pinggiran, muridnya ada anak nelayan – ya terkadang sulit diatur. Keadaan ini, sering membuat guru bosan. Persoalan itu, tidak bisa serta merta diselesaikan – tapi terus saja terjadi sepanjang tahun.

Guru harus sabar menghadapinya,” M Nasir berharap, dinas pendidikan kota tidak pernah menyerah untuk terus meningkatakan   mutu pendidikan – terutama sekolah di pinggiran yang muridnya anak-anak nelayan. Dinas harus mencari pola yang tepat dan cepat, sehingga ada satu konsep mengajar yang efektif bagi anak-anak pinggiran untuk belajar lebih efektif dan memproleh hasil yang baik.

Begitu juga dewan guru, jangan bosan menghadapi anak-anak nelayan yang hidup mereka keras dan terkadang kurang peduli dengan pendidikan. Kondisi ini, tak lepas dari lingkungan hidup mereka yang mengutamaan mencari uang dari pada belajar.

Kepada wali murid yang berprofesi nelayan, M Nasir meminta untuk memotivasi anak-anaknya belajar lebih giat, sehingga generasi nelayan mendatang lebih baik dari kondisi keluarganya sekarang. Kalau jadi nelayan, akan jadi nelayan yang profesional yang bisa mensejahterakan keluarganya lebih baik.

Menyinggug keberadaan guru, Pemko Banda Aceh, sebut M Nasir, memiliki tenaga pendidik yang cukup. Namun, ada sejumlah bidang studi yang belum merata di sejumlah sekolah – seperti bahasa inggris dan pelajar lain. Sedangkan bahasa Indonesia dan mata pelajar lain justru ada yang lebih dari cukup.

Sumber : Waspada.co.id | DF