72 tahun Indonesia merdeka, nasib dunia pendidikan nasional masih jauh dari harapan. Padahal anggaran yang digunakan untuk membangun dunia pendidikan, terbesar dibanding sektor pembangunan yang lain, yakni mencapai 20 persen nilai APBN tahun 2017 atau Rp 416,1 triliun.
Jaringanpelajaraceh.com-Sayangnya dari anggaran sebesar itu, dunia pendidikan Indonesia tak kunjung membaik
Demikian benang merah dari keseluruhan pendapat yang disampaikan belasan narasumber yang pada Round table Discussion dengan tema “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Pendidikan Nasional Menurut UUD NRI Tahun 1945 di gedung Nusantara IV, Senayan, Jakarta, kemarin.
Praktisi pendidikan Prof. Arief Rahman misalnya, dia memberi catatan terhadap perilaku para guru dan dosen. Menurutnya, banyak guru dan dosen di Indonesia yang sering mengeluh, tidak disiplin dan tidak memiliki persiapan sebelum mengajar. Mereka sering lupa apa yang harus diajarkan, atau sampai di mana pelajaran terakhir yang sudah disampaikan.
Ada guru yang sering disibukkan dengan persoalan di luar pelajaran, dan lupa terhadap tugasnya mengajar,” kata Arief menambahkan.
Sikap lain dari para guru dan dosen yang kurang baik menurut Arief adalah tidak bersemangat saat bertemu siswa. Padahal semestinya guru menunjukkan semangatnya, agar para siswa juga bersemangat dalam menerima pelajaran.
Pendapat lain dikemukakan Ketua Umum PGRI Dr. Unifah Rosyidi. Menurut Unifah tidak semua anggaran pendidikan terdistribusi secara baik. Bahkan, anggaran dari pusat yang ditransfer ke daerah untuk diteruskan ke guru, kerap dipergunakan terlebih dahulu untuk pembangunan daerah. Akibatnya, anggaran tersebut terlambat sampai ditangan para guru.
Ini persoalan serius yang bisa menimbulkan kegelisahan, tetapi terjadi berulang-ulang”, kata Unifah.
Lain lagi pendapatnya Prof. Dr. Bomer Pasaribu. Menurutnya, pendidikan nasional sama sekali tidak terjangkau oleh sila-sila Pancasila. Akibatnya, perilaku Pancasila tidak muncul dalam perilaku pendidikan di Indonesia. Sementara di eropa yang tidak mengenal Pancasila malah melaksanakan prinsip prinsip Pancasila.
Di Indonesia kita menemukan teori tentang Pancasia, tetapi di eropa, praktek Pancasila itu malah sudah dilaksanakan,” ujar Bomer.
sumber:http://www.rmol.co/read/2017/10/25/312429/Wajah-Muram-Pendidikan-Nasional-

Presiden Jokowi saat berbincang dengan siswa SMK Raden Umar Said Kudus pada Pameran Kinerja di Rembuk Nasional 2017 yang digelar di JIExpo, Jakarta, Senin (23/10/2017). Foto/Istimewa


PEMIMPIN Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar bersama Bupati Pidie Jaya, H Aiyub Abbas, Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, Pemimpin Perusahaan Harian Serambi Indonesia, Mohd Din, dan Redaktur Pelaksana, Yarmen Dinamika meninjau gedung baru SDN Langien, Pidie Jaya, yang dibangun menggunakan sumbangan pembaca Serambi Indonesia, Tribun Group, dan pendengar Radio Sonora Jakarta, seusai diresmikan Rabu (27/9)






Banda Aceh – Sekretaris Daerah Aceh, Drs. Dermawan MM., membuka secara resmi MTQ Korpri ke empat tingkat provinsi di gedung serbaguna kantor Gubernur Aceh, Senin 23 Oktober 2017. MTQ tersebut mengusung tema ‘melalui MTQ Korpri kita wujudkan peran Korpri menuju birokrasi yang bersih dan bermartabat sesuai dengan tuntunan Al-quran
Sekretaris Daerah Aceh, Drs. Dermawan. MM, memakaikan baju toga secara simbolis kepada dewan juri MTQ Kopri ke IV saat pembukaan di Aula Serbaguna Setda Aceh, Banda Aceh, 23/10/2017







