Pelajar Amerika Minati Tarian Aceh

DELAPAN bulan sudah saya tinggal di Ohio, Amerika Serikat (AS). Tidak terasa hanya sekitar dua setengah bulan lagi, insya Allah saya akan kembali ke Aceh. Rasanya berat meninggalkan keluarga dan teman-teman di AS, pun tak sabar ingin segera pulang dan bertemu dengan keluarga dan teman-teman di Aceh. Terlebih lidah Aceh yang sudah terlalu lama ‘puasa’ makanan sendiri. shafa-sharvina-5

Di samping itu, waktu yang tersisa di AS ini tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, mengingat kemungkinan untuk kembali lagi suatu saat sangatlah kecil kalau tidak ada kesempatan.

Salah satu cara saya memanfaatkan waktu yang tersisa di AS adalah mengenalkan Indonesia dan budaya-budayanya, karena itu adalah salah satu tugas saya sebagai seorang ambassador (duta). Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke Saint James Elementary School di Waynesburg, Ohio. Ini adalah sekolah dasar kedua yang saya datangi. Kedatangan saya ke sekolah ini juga dibantu oleh seorang guru seni yang kakaknya mengajar di sekolah tersebut.

Ketika ditawarkan untuk datang ke sekolah itu, tanpa ragu saya langsung mengiyakannya. Kesempatan seperti ini tidak mungkin saya sia-siakan.

Seperti sebelumnya, saya persiapkan semuanya dengan matang. Saya kaji lagi bahan presentasi. Saya coba menjelaskan semua detail sesederhana dan semenarik mungkin, karena yang akan menjadi pendengar hanyalah anak-anak sekolah dasar yang masih sulit mengolah informasi. Tentu saja juga saya siapkan kenang-kenangan: gantungan kunci bertuliskan ACEH dan uang lembar seribu dan dua ribuan. Tak lupa sepasang pakaian Aceh dan bendera Merah Putih.

Presentasi berlangsung di sebuah ruangan yang cukup luas, dengan jumlah murid 60 orang. Di ruang ini tergabung murid kelas 1 sampai kelas 5, dan sedikitnya sepuluh guru, termasuk kepala sekolah. Semua murid terlihat begitu antusias dan tak sabar. Banyak pula murid yang dengan semangat mengacungkan tangan untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan pun beragam, seperti “Apakah di tempat kamu tinggal ada Xbox? Playstation dan video games?” Ada juga yang tanya, “Apakah di sana ada mal?”, “Apakah turun salju di tempat kamu tinggal?” dan masih banyak ragam pertanyaan yang dengan sabar saya jawab satu per satu.

Ketika sedang bersemangat mempresentasikan tentang budaya tari Aceh, salah seorang anak mengacungkan tangan dan berkata, “Bisakah kamu menari untuk kami?” diikuti dengan anggukan dan sorakan setuju dari anak-anak yang lain. Begitu pula guru-guru yang dengan semangat mengiyakan. Melihat mereka sangat antusias, akhirnya saya punya ide untuk sekaligus mengajari mereka. Karena waktu yang sangat terbatas, saya hanya ajari mereka satu gerakan tari saman dan satu gerakan tari rateb meuseukat. Meskipun begitu, tetap saja mereka terlihat sangat senang dan antusias. Beberapa anak bahkan datang kepada saya dan menunjukkan bahwa mereka sudah mahir menarikan tarian daerah saya.

Melihat jumlah murid yang datang jauh lebih banyak daripada jumlah gantungan kunci dan uang seribu dan dua ribuan yang saya persiapkan, terpaksa saya tak memberikan semua murid satu per satu. Akhirnya saya hanya berikan masing-masing guru wali kelas selembar uang seribu dan selembar uang dua ribu. Dengan begitu, sang guru bisa memajangkannya di kelas di mana seluruh anak masih bisa melihatnya. Tentu saja saya jelaskan berapa harga uang Rp 1.000 dan Rp 2.000 ketika didolarkan. Saya menantang anak-anak tersebut untuk menebak. Ada yang menebak 100 dolar, 1.000 dolar, 1 juta dolar, dan bermacam angka besar lainnya. Ketika saya beri tahu mereka bahwa nilai uang itu hanya kurang dari 20 sen, semua terperanjat.

Siswa, guru-guru, semua mereka mengakui indahnya alam Indonesia. Juga budaya-budaya, bahasa-bahasa, dan ragam sukunya. Lalu bagaimana dengan kita, anak bangsa? Sudahkah kita ikut serta menjaga dan melestarikannya?

OLEH SHAFA SHARVINA : Santri Pesantren Darul Ulum Banda Aceh sedang mengikuti Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya/YES di Ohio, melaporkan dari Amerika Serikat

[email penulis: shafvina@yahoo.com