close

fitriadi

Berita Terkini

Bahas Isu Pendidikan Nasional, Puspeka Kemdikbud Undang Kepala SDN 3 Ulim Pidie Jaya

JARINGANPELAJARACEH.COM I Meureudu – Kepala SD Negeri 3 Ulim Kabupaten Pidie Jaya, Mukhlish MPd bersama dua peserta dari Aceh diundang dalam kegiatan diskusi terpumpun penguatan pendidikan karakter yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dari tanggal 26-28 April 2021 berlangsung di Hotel Amaroossa Grande Bekasi Selatan.

Kepada media ini Sabtu (24/04) Mukhlish mengatakan, ia membenarkan bersama dua peserta masing-masing dari Lhokseumawe dan Aceh Tengah, kami diundang mewakili provinsi Aceh dan bergabung dengan 71 peserta lain dari seluruh provinsi di Indonesia.

“Diskusi terpumpun ini mengangkat isu-isu pendidikan yang selama ini menjadi kekhawatiran berbagai pihak seperti kekerasan seksual, perundungan atau bullying, penyalahgunaan narkoba dan penyebaran berita hoaks,” kata Mukhlish.

Dikatakannya, beberapa permasalahan pendidikan yang menonjol diantaranya, pendidikan telah kehilangan objektivitasnya, masih jauh dari realitas yang dihadapi peserta didik di masyarakat, pendidikan belum mendewasakan peserta didik, pendidikan tidak menumbuhkan pola berpikir kritis dan belum menghasilkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

“Isu-isu dan permasalahan ini nanti yang akan kita angkat dalam diskusi terpumpun tersebut dan selanjutnya menjadi tugas berbagai pihak agar semua permasalahan tersebut bisa teratasi,” ucapnya.

Mukhlish menjelaskan, siswa-siswa kita harus siap dengan perubahan zaman. Paradigma pendidikan terus berubah dan melesat maju mengikuti perkembangan zaman, siswa-siswa kita tidak boleh hanya sekedar Knowladge saja, karakter dan life skill jauh lebih penting. Apalagi kita telah memasuki revolusi pendidikan sejak 2019 lalu, baik di tingkat dasar, menengah hingga ke Perguruan Tinggi sekalipun. Konsep yang diusung dalam revolusi ini adalah merdeka belajar di semua aspek pendidikan formal.

Ditambahkannya, penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan di Pidie Jaya bukan lagi hal baru, Pemerintah Pidie Jaya sendiri sudah mengeluarkan peraturan tentang penguatan pendidikan karakter di sekolah.

Bukti keseriusan itu melalui peraturan Bupati Pidie Jaya Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pendidikan Berkarakter Islami dan di semua satuan pendidikan di Pidie Jaya sudah ada guru guru PBI dari unsur Dayah dan Guru Pendidikan Islam, pungkas Mukhlish.

read more
Berita Terkini

Balai UPTD Tekkomdik Disdik Aceh Lakukan Rapat Koordinasi Persiapan Pembatik

JARINGAN PELAJAR ACEH I Banda Aceh – Unit Pelaksana Tekhnis Dinas Tekhnologi Komunikasi Pendidikan (UPTD Tekkomdik) Dinas Pendidikan Aceh membahas persiapan Pembelajaran Berbasis Tekhnologi Informasi dan Komunikasi (Pembatik) tahap awal melibatkan Duta Rumah Belajar (DRB) Aceh, Kamis (22/04/2021).

Kepala Tekkomdik Disdik Aceh, Teuku Fariyal mengatakan, Pembatik yang melibatkan guru-guru di Aceh agar mendaftar pada kegiatan itu pada portal yang sudah tersedia untuk meningkatkan kemampuan tekhnologi dan informasi.

“Kemampuan guru-guru di Aceh memasuki era industri 4.0 harus menguasai tekhnologi dan informasi melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan Tekkomdik Disdik Aceh,” kata Fariyal.

Dikatakannya, pada program Pusat Data dan Tekhnologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menargetkan 75 ribu guru mengikutik Pembatik ini di seluruh Indonesia.

“Pada tahun 2020 guru-guru di Provinsi Aceh menempati peringkat kelima mengikuti Pembatik dengan harapan Aceh menempati peringkat tiga besar nasional,” ucapnya.

Untuk itu, Fariyal menyampaikan pada hari Senin tanggal 26 April 2021 melaksanakan tahapan sosialisasi di Aula Disdik Aceh dengan menghadirkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan, kepala sekolah dan guru-guru perwakilan dari 23 kabupaten/kota di Aceh.

Sementara perwakilan Duta Rumah Belajar (DRB) Aceh, Qusthalani yang mengikuti rapat koordinasi itu mengatakan, menyambut baik akan dilaksanakannya sosialisasi tahap awal kegiatan Pembatik di Disdik Aceh beberapa hari mendatang.

“Duta Rumah Belajar Aceh siap mendukung untuk menjadi fasilitator pada kegiatan Pembatik ini dengan harapan guru-guru di Aceh mendapatkan pelatihan kemampuan untuk lebih mendalami pembelajaran berbasis tekhnologi dan informasi yang digagas oleh Tekkomdik Disdik Aceh,” ucapnya.

Qusthalani mengharapkan sahabat Duta Rumah Belajar Aceh yang berada di daerah-daerah untuk membantu guru-guru yang mengikuti program Pembantik ini agar saling berbagi ilmu dan pengalaman.

read more
Berita Terkini

SMKN Penerbangan Bersama 7 SMK Lainnya di Aceh Ditetapkan Menjadi Pusat Keunggulan oleh Kemdikbud

Jaringanpelajaraceh.com I Banda Aceh. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah meluncurkan program Merdeka Belajar ke-8 yaitu SMK Pusat Keunggulan. Program ini bertujuan agar SMK menjadi penggerak bagi sekolah lainnya untuk meningkatkan kualitas dan kinerja sehingga mampu mencapai standar dunia kerja. Dengan begitu, jumlah lulusan SMK yang memperoleh pekerjaan dan berwirausaha dalam satu tahun setelah kelulusan akan mengalami peningkatan.

Berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22/D/O/2021 tertanggal 20 April 2021, maka sebanyak delapan SMK di Aceh ditetapkan menjadi SMK pelaksana Pusat Keunggulan. Adapun sekolah-sekolah tersebut adalah SMKN Penerbangan Aceh, SMKN 2 Lhokseumawe, SMKN 1 Takengon, SMKN 3 Langsa, SMK-PP Negeri Saree, SMKN 2 Takengon, SMKN 1 Bener Meriah dan SMKN 2 Banda Aceh.

Kepala SMKN Penerbangan Aceh Baihaqi, SPd, MPd yang dihubungi oleh media ini pada Kamis (22/04/2021) membenarkan bahwa sekolahnya terpilih menjadi salah satu SMK Pusat keunggulan yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2021.

“Alhamulillah SMKN Penerbangan Aceh telah ditetapkan menjadi salah satu SMK Pusat Keunggulan bersama dengan 611 SMK yang ada di seluruh Indonesia”, ungkap Baihaqi sembari memperlihatkan SK yang ditandatangani oleh Dirjen Vokasi Kemdikbud.

Sambungnya lagi, untuk Program Keungulan ini SMKN Penerbangan Aceh mengambil Sektor Permesinan dan Konstruksi, karena memang sekolah kita memiliki kompetensi keahlian dibidang permesinan pesawat udara, dan nantinya kita akan melaksanakan program sesuai dengan arahan dari Dirjen Vokasi yang selaras dengan tujuan Program SMK Pusat Keunggulan.

“Salah satu program pada pusat keungulan ini adalah pihak sekolah akan melaksanakan kemitraan link and match secara menyeluruh dengan Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA) diantaranya yaitu penyusunan dan penyelarasan kurikulum berbasis industri, pelaksanaan pembelajaran berbasis produk dari dunia kerja dan ada beberapa kegiatan lainnya yang arahnya meningkatkan kompetensi para lulusan di SMK”, ujar Baihaqi yang juga Ketua MKKS SMK Aceh.

Baihaqi juga mengungkapkan rasa gembira serta ucapan terima kasih kepada para guru yang menjadi Tim solid ketika mempersiapkan berbagai bahan seleksi yang sangat ketat, mulai dari pengimputan data, penyiapan video rencana aksi dan terakhir proses wawancara.

“Kami merasa sangat bersyukur mendapatkan kesempatan dan prestasi ini, mudah-mudahan program ini bisa menjawab tantangan dalam menghadirkan lulusan terampil pada bidangnya sehingga apa yang diharapkan dari lulusan SMK yaitu siap bekerja dan berwirausaha bisa terwujud”, sebut Baihaqi.

Sementara itu Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Aceh, Azizah, SPd, MPd mengharapkan dengan terpilihnya delapan SMK di Aceh menjadi SMK Pusat Keunggulan, sehingga nantinya menjadi SMK yang unggul, baik dari segi sarana dan prasarana serta proses pembelajaran yang berbasis industri.

“Kita sangat berharap, SMK yang sudah dipercaya oleh Kemdikbud sebagai Pusat Keunggulan agar dapat menghasilkan lulusan yang kompeten serta percaya diri sehingga mereka bisa menjadi tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan IDUKA atau mampu berwirausaha, untuk sekolah-sekolah yang belum mendapatkan kesempatan pada tahap pertama, masih ada peluang pada program tahap kedua mari mempersiapkan diri lebih maksimal”, tutup Azizah.

read more
Artikel

Refleksi Sekolah Menengah Kejuruan Antara Tantangan dan Harapan Revitalisasi

Oleh : Arhamni, M.Pd

Indra Djati Sidi dalam sebuah tulisannya menulis “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu menuju manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, ketrampilan, kesehatan jasmani serta rohani yang memiliki kepribadian yang baik, mandiri, kreatif, inovatif  dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara”.

Para ahli telah mengkaji bahwa suatu negara  akan mampu bersaing dengan negara-negara yang ada di dunia ini jika bermodalkan beberapa faktor, diantara faktor penentu tersebut  yaitu: kemampuan teknologi, kemampuan manajemen, dan kemampuan sumber daya manusia (SDM). Keunggulan dalam bidang teknologi akan membantu untuk bersaing dalam bidang ekonomi serta pemasaran, dimana  dengan teknologi yang hebat pelaku pasar dapat memasarkan hasil (produk) dengan pengemasan yang baik, serta jangkauan pemasaran yang lebih luas.   Namum jika teknologi yang handal tidak dikelola dengan manajemen yang efektif   dan efesien, tentu  teknologi tidak dapat berguna dengan maksimal untuk bersaing. Kemampuan SDM adalah hal yang paling utama yang menentukan negara untuk mampu bersaing.

Sekolah menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu lembaga pendidikan dimana melalui SMK , Pemerintah  berupaya mempersiapkan SDM yang mampu bersaing secara global, namun masih banyak kendala yang dihadapi dalam  lembaga pendidikan kejuruan  ini, sehingga  pemerintah akan merevitalisasi  pendidikan kejuruan ke depan dengan harapan generasi Indonesia siap bersaing secara global.

Menurut Zamroni (2003)  orientasi pendidikan dapat dikaji berdasarkan empat dimensi yaitu:  dimensi status peserta didik, dimensi peran guru, dimensi materi pengajaran dan dimensi manajemen pendidikan. Dimensi status peserta didik diharapkan peserta didik bukan dijadikan objek dari dunia pendidikan, namun keberadaan peserta  didik  merupakan  subjek  dari  dunia  pendidikan. Dimensi orientasi pendidikan  yang kedua adalah  guru, guru sangat berperan sebagai agen perubahan  dalam bidang keilmuan dan guru juga sangat berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam dunia pendidikan.

Dimensi berikutnya adalah orientasi pada materi  pendidikan, materi merupakan bahan ajar yang disajikan dalam dunia pendidikan.   Dimensi yang keempat adalah dimensi yang  berorentasi pada  manajemen pendidikan, dimana manajemen sekolah suatu pendidikan ada  yang menyatakan  merupakan akar dari suatu dunia pendidikan disuatu tempat tersebut, malah ada yang mentamsilkan bahwa manajemen pendidikan pada suatu sekolah  itu adalah ruhnya pendidikan yang akan menentukan kemajuan suatu lembaga pendidikan. Pada tulisan kali ini penulis akan mengkaji lebih khusus tentang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu  jenjang pendidikan menengah dengan kekhususan mempersiapkan lulusannya untuk siap bekerja. Berdasarkan isi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  No. 20 Tahun 2003 pasal 3 mengenai tujuan pendidikan nasional dan penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Pengertian ini mengandung pesan bahwa setiap institusi yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan harus berkomitmen menjadikan lulusannya mampu bekerja dalam bidang tertentu.

Berdasarkan definisi di atas, maka sekolah menengah kejuruan sebagai sub sistim pendidikan nasional seyogyanya mengutamakan mempersiapkan peserta didiknya untuk mampu memilih karir, memasuki lapangan kerja, berkompetisi, dan mengembangkan dirinya dengan sukses di lapangan kerja yang cepat berubah dan berkembang.

Sekolah Menengah kejuruan (SMK) berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional  diharapkan dapat menjadi salah satu solusi terhadap kekurangan tenaga kerja yang ada di Indonesia, namun  pendidikan kejuruan selama ini belum mampu mempersiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja yang seperti diharapkan oleh dunia usaha dan industri. Harapan kita pada peserta didik lulusan SMK dengan slogan SMK bisa dan membuat suatu misi agar lulusan SMK mampu bekerja, melanjutkan ke  universitas dan  juga  wirausaha sering didengungkan lulusan SMK harus BMW (bekerja, melanjutkan, wirausaha) tentunya perlu usaha yang lebih dalam mempersiapkannya. Harapan yang sangat mulia ini dibutuhkan suatu usaha yang maksimal,  dan yang harus kita pahami tujuan awal serta utama dibentuknya SMK diharapkan lulusannya dapat memasuki dunia industri dengan istilah bekerja, tidak tertutup kemungkinan ada peserta didik SMK yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan juga berwirausaha, namun jumlahnya tentunya tidak banyak.

Menurut Indra Djati masih terlihat sampai saat ini umumnya masih lemahnya dari konsep, pelaksanaan (praktek), sistem,  serta  tradisi.  Beberapa kelemahan pendidikan kejuruan yang menjadi masalah di lihat dari segi konsep yaitu :

  • Penerapan pendekatan “supply-driven” yaitu penyelenggaraan pendidikan pada SMK dilakukan sepihak oleh Depdiknas.
  • Penerapan “school–based model” yang menjdikan peserta didik tertinggal oleh kemajuan dunia industri atau dunia usaha.
  • Pengajaran berbasis mata pelajaran sehingga membuat peserta didik tidak jelas kompetensi yang dicapainya
  • Pendidikan kejuruan model berbasis sekolah kurang luwes (kaku), kurang mengakui keahlian yang diperoleh di luar sekolah.
  • Pendidikan kejuruan hanya menyiapkan tamatan untuk bekerja di sektor forma
  • Pendidikan kejuruan merupakan “dead-end-career” yang berperan sebagai termina
  • Kurangnya integrasi antara pendidikan dan pelatihan kejuruan
  • Guru kejuruan kurang memiliki pengalaman kerja industri
  • Pengelolaan pendidikan kejuruan terlalu sentralistik
  • Pembiayaan SMK Negeri sepenuhnya ditanggung pemerintah dan SMK Swasta ditanggung oleh peserta did

Kelemahan pendidikan kejuruan yang masih menjadi masalah berikutnya adalah di lihat dari segi  praktek. Kelemahan dari segi praktek diantaranya yaitu : sekolah kejuruan masih kurang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja, kurang mampu menjaga relevansi dengan perubahan pasar kerja, masih kurang mutakhir dan masih sukar berubah.

Lulusan SMK sering dikritik kurang mampu mengikuti perubahan, hal ini terindikasi lulusan SMK  masih  kurang memimiliki ketrampilan dasar  (baca,  tulis, dengar,  bicara,  hitung),  lulusan  SMK  masih  kurang  memiliki ketrampilan  dalam berfikir (berpikir kreatif, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, belajar cara belajar  dan mampu  mengemukakan  alasan).  Berikutnya  kekurangan  dari  segi karakter  dimana  lulusan  SMK  memiliki karakter   (tanggung  jawab,  kejujuran, integritas, kerja sama, kerja keras, disiplin dan jiwa kewirausahaan) yang masih dalam katagori belum baik.

Kelemahan pendidikan kejuruan yang masih menjadi masalah berikutnya adalah dari segi sistem, pendidikan yang berlaku selama ini pada SMK masih belum sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan dunia industri,  hal ini dikarenakan adanya jarak antara penyelenggaraan  sekolah dengan dunia usaha dan industri. Perbedaan antara dunia usaha dan industri seharusnya tidak boleh terjadi karena mengingat lulusan SMK akan masuk ke dunia usaha dan industri

Kelemahan pendidikan kejuruan yang masih menjadi masalah berikutnya adalah dari segi tradisi,  terdapat kebiasaan kurang baik masih terus-menerus dilakukan oleh  guru tanpa adanya supervisi dan koreksi dari  pihak-pihak yang berwenang terhadap kemajuan pendidikan kejuruan. Kebiasaan-kebiasaan yang diperluka koreksi kedepan adalah sebagai berikut:

  • Pelajaran Praktek dasar tidak diajarkan sesuai dengan prinsip dasar yang benar
  • Membiarkan peserta didik menghasilkan mutu hasil kerja asal jadi
  • Membiarkan peserta didik bekerja tanpa bimbingan dan pengawasan yang baik
  • Membiarkan peserta didik bekerja tanpa memperhatikan keselamatan kerja.
  • Pelajaran praktek diajarkan oleh guru yang tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan apa yang dipraktekkan.

Memperhatikan kondisi yang menjadi masalah pada pendidikan kejuruan ini, maka penulis terpanggil untuk memberikan sedikit pandangan melalui tulisan yang berjudul  Refleksi Sekolah Menengah Kejuruan Antara Tantangan dan Harapan Menuju Revitalisasi.

Refleksi pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efesien mencapai tujuan pendidikan Nasional. Menghadapi tantangan-tantangan yang semakin global sudah seharusnya SMK diupayakan untuk dilakukan revitalisasi sehingga dengan revitalisasi diharapkan akan terdapat program-program yang mampu mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang siap bersaing di dunia kerja yang global. Berdasarkan masalah-masalah yang telah penulis paparkan sebelumnya maka dapat kita bahas beberapa hal  untuk menjadi solusi serta masukan untuk merevitalisasi sekolah kejuruan yaitu:

  • Sistem  SMK yang  mengacu  pada kebutuhan  pasar  “Demand-Driven”. Dalam melaksanakan program pendidikan sebaiknya pembuatan kurikulum pada sekolah kejuruan dapat   melihat kebutuhan pasar (dunia usaha dan industri) sehingga ada hubungan langsung antara sekolah dengan dunia kerja.
  • Majelis Pendidikan Kejuruan (MPK). Wadah MPK ada baiknya digalakkan kembali dengan suatu fungsi utama sebagai mitra sekolah kejuruan untuk menjebatani antara sekolah kejuruan dengan dunia kerja. Pada tanggal 17 Oktober 1994 telah di bentuk Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN), dan Majelis Sekolah Kejuruan hingga tingkat sekolah (MS). Majelis Pendidikan Kejuruan ini dapat dijadikan sebagai wadah konsultasi, kerjasama,  dan  koordinasi  yang  keanggotaanya terdiri  atas  unsur-unsur dunia usaha dan industri, Koperasi, pemerintah dan organisasi profesi guru, lembaga swadaya masyarakat,   diharapkan dari wadah MPK ini akan meningkatkan  serta  mengembangkan pendidikan  Kejuruan  di  Indonesia. Perlu dasar hukum pembentukan MPKN, sehingga MPKN yang berada dari tataran Nasional, Propinsi hingga ke daerah-daerah kabupaten serta  satuan sekolah dibentuk benar-benar mampu menjadi mitra konsultasi serta koordinasi SMK secara professional.
  • Penerapan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Pendidikan sistem ganda ini telah dicanangkan sejak tahun 1994. Penerapan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggarasn pendidikan sekaligus pelatihan keahlian kejuruan yang  memadukan   secara   sistematik   dan   singkron   antara   program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui praktik langsung di dunia usaha dan industri. Manfaat dari PSG ini pertama, peserta didik akan memiliki keahlian secara lebih professional yang memiliki  tingkat  kemampuan,  kompetensi,  dan  etos  kerja  yang  sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Kedua, meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan antara lembaga-lembaga pendidikan kejuruan dengan dunia kerja. Ketiga, meningkatkan efesiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualita Keempat, memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.  Pelaksanaan PSG selama ini masih kurang maksimal, karena peserta didik hanya melaksanakan pembelajaran PSG di dunia usaha dan industri dalam waktu yang hanya berkisar dua bulan, tentunya jika waktu yang diberikan lebih lama peserta didik akan mendapatkan pengalaman yang lebih baik. Pelaksanaan PSG yang merupakan bentuk kerjasama yang “win-win” antara sekolah dan dunia kerja untuk memenuhi tugas dan fungsi masing-masing. Sekolah melakukan semacam out sourcing yang dikerjakan di dunia usaha dan industri dalam bentuk alat, instruktur serta pengalaman. Industri melihat sekolah sebagai bagian dari Human Resource Department (HRD) dalam mempersiapkan tenaga ahli yang handal, PSG juga dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mendampingi  serta magang bersama-sama peserta  didik  agar  mendapatkan  pengalaman  dunia  usaha  dan  industri secara berkala serta berkesinambungan dan dapat diberikan sertifikat oleh perusahaan. Pelaksanaan PSG yang lebih baik akan memberi solusi akan masalah pendidikan kejuruan terhadap bengkel praktek serta guru  yang masih kurang memahami serta memiliki skill terhadap   dunia usaha dan industry. Pendidikan sistem ganda ini akan berdampak dalam peningkatan mutu pendidikan kejuruan. Pelaksanaan PSG ini tentunya memerlukan hubungan kerjasama antara pihak sekolah dan perusahaan, bentuk kerjasama serta pembiayaan PSG antara sekolah dan perusahan dapat melibatkan MPK sebagai mitra untuk   perantara antara sekolah dan perusahaan.
  • Mewirausahakan SMK. Lulusan sekolah kejuaruan diharapkan bukan hanya sebatas mampu bekerja di dunia usaha dan industri, namun juga mampu membuka peluang untuk berwirausaha secara mandiri. Selain mempersiapkan peserta didik untuk mampu berwirausaha, SMK juga bisa membuat Unit Produksi Sekolah (UP). UP sudah diperkenalkan sejak sekitar tahun 1980, tujuan dari adanya UP dimana   sekolah dapat memanfaatkan UP untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekolah, memperbaiki fasilitas sekolah, dan yang paling penting adalah menyiapkan peserta didik untuk berlatih secara lebih nyata dan bertanggung jawab karena hasil dari produknya akan dijual ke pasa Dalam workshop jaringan Kurikulum SMK Aceh    tanggal  2  November 2016  juga  ada  di  bahas  tentang  UP  yang sekarang diperkenalkan dengan istilah “Teaching Factory” dimana cakupannya pada semua pelajaran produktif yang ada pada SMK dengan harapan dari Teaching Factory  ini  peserta didik  dapat dilibatkan secara maksimal dalam praktek pada satuan pendidikan sehingga dapat menghasilkan suatu produk atau jasa yang dapat dipasarkan. Dalam diskusi tentang UP ini ada masalah  pelaksanaan UP sekarang dimana pelaksanan UP pada sekolah kejuruan harus mempertanggungjawabkan segala pelaksanaan secara program serta keuangan kepada pemerintah, sehingga semangat untuk mengelola UP sekarang ini sudah menurun. Disarankan oleh rekan-rekan saat workshop tersebut agar ada dasar hukum yang mengatur pelaksanaan UP lebih otonom pada satuan pendidikan SMK, baik dari segi program serta penganggaran dan  juga  pertanggungjawabannya. Dalam hal ini penulis menawarkan solusi ke depan untuk pelaksanaan UP cukup MPK dijadikan sebagai pengontrol serta penerima laporan atas pelaksanaan UP baik dari segi program serta keuangannya, agar semangat pengelolaan UP menjadi baik kembali.
  • Pemagangan Peserta Didik  ke  Luar  Nege  Perkembangan dunia  yang semakin  global  yang  mengharuskan Indonesia  mempersiapkan generasi global, termasuk mempersiapkan lulusan SMK agar mampu bekerja pada dunia usaha dan industri yang global. Pemagangan peserta didik ke Negara- negara  maju  seperti  Inggris,  Jepang,  Korea  dan  Negara-negara lainnya merupakan hal yang perlu diprogramkan secara lebih baik, sehingga lulusan SMK ke depan mampu menjadi tenaga kerja yang siap bersaing secara global.
  • Membuka Pusat Kursus  Ketrampilan  Kejuruan.  Depdiknas  dapat menawarkan SMK-SMK yang ada di Indonesia sebagai pusat kursus ketrampilan yang sesuai dengan permintaan dan harapan masyarakat, sehingga SMK akan berfungsi multiguna, tentunya pengembangan kompetensi kursus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Kelebihan dari SMK dijadikan pusat kursus, peserta didik juga bisa menggunakan pusat kursus ini untuk meningkatkan kemampuan skillnya menjadi lebih ba MPK dapat dijadikan mitra dalam membuka pusat kursus pada SMK sebagai mitra penghubung antara pemerintah, masyarakat dan satuan pendidikan.
  • Manajemen berbasis sekolah (MBS). Manajemen berbasis sekolah secara konseptual adalah:  manajemen  dimana sekolah diberikan kesempatan serta tanggung jawab untuk mengembangkan total program kependidikan yang   bertujuan   melayani   kebutuhan-kebutuhan   peserta   didik   dalam mengikuti  program-program sekolah,  personil  sekolah  akan mengembangkan program-program yang lebih meyakinkan karena mereka mengetahui pasti kebutuhan peserta didik (Malik Fajar 2003). Manajemen berbasis sekolah menuntut partisipasi lebih besar dari guru, staf yang ada dalam lingkungan pada satuan-satuan pendidikan tersebut, dan peran   orang tua dalam proses pembuatan kebijakan dan keputusan di sekolah. Menurut ketentuan, keputusan-keputusan dibuat secara kolektif dan kolegial oleh para stakeholder   yang relevan, bukan   oleh kepala sekolah secara individual atau wakilnya. Dalam konteks MBS   dibangung serta dikembangkan   kultur   kerja sama, guru-guru bukan dipandang sebagai pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan individu (hanya bertugas mengajar mata pelajaran yang diasuhnya), namun lebih dari itu, guru-guru dilibatkan untuk memikirkan program-program  untuk kebutuhan peserta didik dengan kerja sama dalam tim. Telah ada pengkajian serta penelitian bahwa kultur sekolah yang dibangun dengan MBS akan menciptakan kultur saling menghormati, saling memiliki dan saling membantu, akan terjalin suatu kekeluargaan yang bertujuan bekerjasama untuk mencapai keberhasilan yang terbaik untuk peserta didik dan sekolah.
  • Memberlakukan sistem blo Sistem blok dalam belajar dapat membantu peserta didik untuk memahami materi dengan lebih baik dan efektif, karena peserta didik diberikan waktu yang terpogram untuk menyelesaikan pembelajarannya. Sistem blok ini juga dapat divariasikan dengan sistem kredit semester (SKS). Sistem blok ini dapat membantu peserta didik untuk menyelesaikan ketinggalan proses pembelajaran karena melakukan pembelajaran pada dunia usaha dan industri.

Kesimpulan   dari   tulisan   tentang   refleksi   dunia   pendidikan   kejuruan   ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam merevitalisasi SMK ke depan. Pendidikan kejuruan akan lebih bermutu dan bermartabat dengan mempersiapkan, memperioritaskan   kebutuhan peserta didik untuk menuju dunia kerja yang semakin kompetisi dan global,   perlu diagendakan dengan lebih serius dengan prioritas revitalisasi pada:

  • Sistem SMK yang mengacu pada kebutuhan pasar.
  • Pembentukan Majelis Pendidikan Kejuruan (MPK)
  • Penerapan Pendidikan Sistem Ganda (PSG).
  • Mewirausahakan SMK.
  • Pemagangan Peserta Didik ke Luar Negeri.
  • Membuka Pusat Kursus Ketrampilan Kejuruan.
  • Manajemen berbasis sekolah (MBS).
  • Memberlakukan sistem blok.
  • Melaksanakan Program Teaching Factory secara terpadu.

Suatu bangsa tidak akan maju tanpa pendidikan yang maju dan bermutu, saat Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur oleh bom atom, kaisar Jepang saat itu sangat berharap  pada  pendidikan untuk mengembalikan peradaban Jepang. Jepang sudah membuktikan, dimana bangsa Jepang hari ini menjadi bangsa yang dihormati di dunia   dengan pendidikan yang bermutu dan bermartabat. Mari kita belajar pada bangsa-bangsa yang sudah maju untuk menjadikan pendidikan kejuruan Indonesia lebih bermutu dan bermartabat dengan kepedulian serta kerja nyata kita dengan mensinergikan semua elemen bangsa serta merealisasi kerjasama lintas departeman dengan program-program yang lebih nyata, dalam upaya mempersiapkan generasi emas Indonesia yang mampu bersaing, berpikir dan bekerja dalam tataran pesaingan dunia kerja yang semakin kompetitif dan global.

Penulis : Guru SMK Negeri Penerbangan Aceh

read more
Berita Terkini

Meningkatkan Mutu Lulusan SMK Aceh, Ini Beberapa Upaya yang Dilakukan Dinas Pendidikan

Jaringanpelajaraceh.com I Banda Aceh – Kepala Dinas Pendidikan Aceh melalui Kepala Bidang Pembinaan SMK Azizah, S.Pd., M.Pd menyampaikan kabar gembira terkait prestasi yang diraih oleh siswa SMK Aceh pada tahun 2020 atau 2021.

Kepada media ini Minggu (18/04/2021), Azizah menyampaikan bahwa ada peningkatan kelulusan siswa SMK Aceh ke Perguruan Tinggi, dan ini sudah sesuai dengan target yang diharapkan.

“Untuk mempersiapkan tenaga kerja terampil serta lulusan yang siap berwirausaha, kita juga sudah bekerja sama dengan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) dan Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati”, ungkap Azizah.

Sambungnya lagi, beberapa siswa dari SMKN 3 Banda Aceh dan SMKN 6 Lhokseumawe baru-baru ini juga mendapatkan hasil bagus pada Tryout Akbar yang digelar oleh Dinas Pendidikan Aceh.

Kabid Pembinaan SMK pada Dinas Pendidikan Aceh ini juga mengungkapkan bahwa pada dasarnya lulusan SMK diharapkan mampu untuk bekerja, berwirausaha serta melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Saat ini, untuk mencapai target tersebut ada beberapa upaya yang sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan, seperti meningkatkan kompetensi para guru, menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran serta menjalin kerjasama dengan Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA), Perguruan Tinggi maupun dengan Instansi Pemerintah”, ujarnya.

Disamping itu, ungkap Azizah bahwa pihaknya selama ini terus memotivasi para kepala sekolah maupun guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dengan menerapkan berbagai model pembelajaran menarik sehingga mereka dapat mengusai materi yang disampaikan dengan maksimal.

read more
Berita Terkini

Prof Syahrizal Abbas, Konsep BEREH Adalah Nilai Ajaran Syariah

JARINGAN PELAJAR ACEH I Takengon – Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Syahrizal Abbas MA menjadi penceramah pada Safari Ramadhan Dinas Pendidikan Aceh di Masjid Al-Muhajirin, Gampong Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.
Ceramah itu disampaikan sesuai menjalankan ibadah shalat Tarawih dan Witir di masjid tersebut, Sabtu (17/04/2021).

Rombongan Dinas Pendidikan Aceh dipimpin langsung Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Alhudri MM didampingi para pejabat Eselon III, dan IV di lingkup Dinas Pendidikan Aceh.

Seperti diketahui, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, dr Taqwallah MKes mengatakan, pelaksanaan tausiah Safari Ramadhan Pemerintah Aceh akan digelar secara serentak pada hari kelima puasa atau pada Sabtu malam (17/4/2021) di 54 masjid yang tersebar di setiap kabupaten/kota di Aceh.

Di awal ceramahnya, Prof Syahrizal Abbas tidak lupa menyampaikan salam dari Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT dan Sekda Aceh Taqwallah kepada masyarakat Gampong Paya Tumpi, Kabupaten Aceh Tengah.

Prof Syahrizal Abbas, dalam ceramahnya mengajak para jamaah untuk senantiasa memanfaatkan bulan Ramadhan dengan penuh ibadah, tentunya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Melaksanakan shalat fardhu, shalat sunnah, zikir, berdoa, dan kita i`tikaf adalah ibadah mahzah atau ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Tapi disamping itu, ibadah ghairu mahzah juga tidak boleh ditinggalkan, karena ibadah ini menyangkut dengan kehidupan orang lain, kehidupan masyarakat, dan kehidupan publik, untuk saling membantu, mengingatkan dan saling mendorong kepada kebaikan, itu semuanya juga ibadah.

“Jadi jagaan hanya ibadah mahzah semata di bulan Ramadhan, tapi ibadah ghairu mahzah pun juga harus lebih banyak dilakukan,” katanya.

Memberi makan kepada orang berbuka puasa, memberi sedekah, dan membersihkan lingkungan sehingga terlihat Bersih, Rapi, Estetis, dan Hijau (BEREH) itu sebenarnya ajaran Al Qur’an dan Sunnah.

Karena, kata Prof Syahrizal, Al Qur`an memerintahkan hamba-Nya untuk selalu dalam keadaan bersih, itu semua adalah ajaran Alquran. Di dunia, kata Syahrizal Abbas, orang yang paling bersih kehidupannya adalah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW, di rumah bersih, di masjid bersih, itulah contoh bersih yang ditampilkan oleh ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Jadi kalau ada program Pemerintah Aceh yang mengajak kita untuk bersih sebetulnya itulah pelaksanaan syariat Islam dalam kehidupan kita,” kata Syahrizal Abbas.

Sebab dalam firman Allah kata Syahrizal, sesungguhnya Allah SWT itu cinta kepada orang yang taubat dan orang yang bersih dan suci. Untuk itu jika mau dekat dengan Allah, berkomunikasi dengan Allah, maka syaratnya harus bersih. Bersih pakaian, bukan berarti harus pakaian mahal, bersih tempat tidur bukan berarti harus luar biasa seperti tempat tidur raja.

Kemudian hijau, juga merupakan ajaran Alquran. Allah dalam firmannya memerintahkan kepada kita agar tidak membuat kerusakan di muka bumi dengan eksploitasi besar-besaran, tebang hutan besar-besaran, sehingga alam menjadi gersang.

Begitupun, Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga pernah memerintahkan umatnya untuk menanam pohon. Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apa bila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat, maka hendaklah dia menanamnya.

Oleh karena itu, orang yang berpuasa adalah orang yang konsisten menjalankan ajaran Allah dan Rasul, dia bersih, estetis dan menanam pepohonan adalah ciri orang yang bertaqwa.

“Rupanya konsep bersih, rapi, estetik, dan hijau adalah nilai ajaran syariah dan itu adalah ciri orang yang bertakwa,” kata Prof Syahrizal.

Hoax Lebih Kejam dari Pembunuhan

Pada kesempatan itu, Prof Syahrizal juga mengatakan bahwa selain bersih, rapi, estetis, dan hijau ciri orang muttaqin lainnya adalah orang yang saat mendapatkan informasi, dia akan selalu melakukan kroscek kebenarannya.

Karena baik ajaran agama maupun hukum negara melarang penyebaran informasi bohong maupun fitnah (hoax), sebab fitnah itu dampaknya berbahaya sekali. Oleh karena itu Alqur`an mengatakan bahwa Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

“Orang yang berpuasa ketika mendapat informasi dari mana saja maka orang tersebut akan memeriksa, dia akan kroscek dari mana informasi itu, betulkan informasi itu? Kalau tidak jangan sebarkan kepada orang lain, karena resiko itu besar. Fitnah itu besar sekali dampaknya,” kata Prof Syahrizal.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan betapa berbahayanya pengaruh informasi bohong. Prof Syahrizal menuturkan, di banyak peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah tentu ada yang menang dan ada juga yang kalah. Salah satu faktor kekalahan karena munculnya informasi bohong seperti peristiwa Perang Uhud.

Oleh karena itu, ketika mendapat informasi mengenai Covid-19 mengenai masker, harus dilakukan kroscek untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Apalagi, orang yang berpuasa tidak akan pernah menyebarkan berita bohong kepada orang lain karena itu akan mengurangi nilai ibadah puasanya.

“Mengenai Covid-19 itu fakta, bukan hanya di tempat kita, bahkan di dunia internasional secara kasat mata kita melihat bahwa itu ada. Dan resikonya sudah banyak orang yang meninggal dunia. Maka jika ada yang bilang tidak ada Covid-19, maka itu tidak lagi sejalan dengan fakta yang ada dihadapan kita,” ujar Prof Syahrizal.

Oleh karena itu, gerakan BEREH dan penerapan protokol kesehatan dapat mencegah penularan Covid-19, karena kewajiban setiap orang berpuasa itu untuk berikhtiar agar tidak terkena Covid-19. Mencegah itu jauh lebih baik dari mengobati.

Vaksin Ampuh Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Begitupun terkait Vaksin, menurut Prof Syahrizal Abbas, vaksin adalah alat yang paling ampuh untuk meningkatkan kekebalan tubuh, jadi kalau ada yang mengatakan dibuat dari lemak babi maka itu adalah hoax.

Sebab, katanya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah melakukan kunjungan ke tempat vaksin Sinovac diproduksi, hasilnya tidak ditemukan adanya unsur dari barang-barang haram. Begitupun Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh juga telah menfatwakan bahwa vaksin hukumnya halal.

“Maka Vaksin untuk Covid-19 itu hukumnya halal, jadi tidak usah takut, kenapa tidak usaha takut karena fatwa itu sudah dikeluarkan bahwa vaksin Covid-19 hukumnya halal, pertimbangannya demi untuk menyelamatkan jiwa manusia,” tutup Syahrizal.

read more
Berita Terkini

Serahkan SK Plt Kepala SMA/SMK, Ini Pesan Kadisdik Aceh

JARINGANPELAJARACEH.COM I Banda Aceh – Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Alhudri MM mengajak semua Kepala SMA/SMK untuk senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh.

Hal itu disampaikan Alhudri agar kualitas pendidikan Aceh benar-benar bermutu, sehingga tidak selalu menjadi bahan omongan orang. Hal ini memang tidak mudah, akan tetapi jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran maka akan terasa mudah.

“Bapak dan Ibu kepala sekolah adalah ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh bersama para guru dan tenaga pendidik. Sebab, bapak dan ibu lah yang langsung berhadapan dengan anak-anak didik kita,” kata Alhudri, Jumat (16/4/2021).

Ajakan itu disampaikan Alhudri saat membuka rapat penyerahan SK kepada sejumlah pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah di Aceh yang berlangsung di Ruang Rapat Dinas Pendidikan Aceh.

Dalam penyampaiannya, Alhudri mengingatkan agar para Plt kepala sekolah yang baru saja ditunjuk untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai perintah dari undang-undang dan aturan yang ada.

“Tolong laksanakan tugas dan fungsi sebagai pelaksana tugas sesuai perintah dari perundang-undangan. Jaga stabilitas agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik, serta yang paling penting tingkatkan mutu dan kualitas pendidikan,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Alhudri juga berpesan agar Gerakan BEREH terus ditingkatkan di setiap sekolah. Menurutnya sejumlah sekolah yang telah berhasil menjalankan gerakan BEREH, namun masih ada beberapa sekolah sekolah yang dikunjunginya masih belum melaksanakan kegiatan BEREH dengan baik.

Padahal gerakan BEREH tidak hanya sebatas perintah dari Gubernur dan Sekda Aceh melainkan juga sejalan dengan pesan agama bahwa kebersihan itu sebagian dari iman.

Oleh karena itu, Alhudri mengaku beberapa kali pernah kesal saat berkunjung ke beberapa sekolah di Aceh, hal itu karena dia menemukan kondisi sekolah yang seperti tidak terurus dan kotor, karena tidak ikut melaksanakan gerakan BEREH.

Untuk itu, di hadapan Plt kepala sekolah, Alhudri mengatakan jika dirinya hanya memerlukan kerja nyata dari setiap kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan lingkungan yang bersih, rapi, estetis dan hijau.

“Saya memohon, tolong bapak-ibu mari sama-sama kita tingkatkan kualitas pendidikan Aceh ini. Ini butuh kesadaran kita semua, kalau kesabaran itu tidak ada, maka akan percuma saja kita tidak akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan Aceh. Ini memang bukan pekerjaan mudah akan tetapi jika dilakukan dengan ikhlas maka semua ini akan berjalan dengan baik.” tutup Alhudri.

Hadir dalam rapat tersebut Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Teuku Nara Setia, sejumlah Eselon III, dan IV Dinas Pendidikan Aceh.

Adapun Plt Kepala SMA/SMK yang ditunjuk tersebut sebagai berikut :

1. Wiwik Anggraini ST, sebagai Plt. Kepala SMA Swasta Jabal Nur Jadid Aceh Barat Daya.

2. Nurrizayani, S.Pd, sebagai Plt. Kepala SMA Negeri 8 Banda Aceh.

3. Anifah Ritahas, S. Pd, sebagai Plt. Kepala SMKN 1 Lapang Aceh Utara.

4. Safriadi Usmar, S.Pd, sebagai Plt. Kepala SMAN 1 Sawang, Aceh Selatan.

5. Rahmawati, ST, MM sebagai Plt. Kepala SMKN 1 Penanggalan, Subulussalam.

6. Azis Muslim Solin, S.Ag sebagai Plt. Kepala SMKN 6 Aceh Singkil.

7. Suarmadi, S.Pd. sebagai Plt. Kepala SMAN 1 Rundeng Subulussalam.

8. Kalkausar, ST, M.Si, sebagai Plt. Kepala SMK Negeri 2 Sigli, Kabupaten Pidie.

9. Muhammad Wali, S.Pd, sebagai Plt Kepala SMAN 1 Bireuen.

10. Amiruddin, S.Pd, sebagai Plt. Kepala SMAN 2 Sigli, Kabupaten Pidie.

11. Drs. Muhammad, M.Pd, sebagai Plt. Kepala SMAN 1 Lhoksukon Aceh Utara.

12. Mami Hastuti, S.Pd sebagai Plt. Kepala SMAN 3 Persiapan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil.

13. Izhar, S.Pd.I, sebagai Plt. Kepala SMAN 1 Indra Makmur Aceh Timur.

14. Drs. Sahrul sebagai Plt Kepala SMAN 3 Seunagan, Nagan Raya.

read more
Berita Terkini

Rakerwil KKG MI Se-Aceh, Ini Sejumlah Rekomendasi Pengurus

Jaringanpelajaraceh.com I Banda Aceh – Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah (KKG-MI) se-Provinsi Aceh melaksakan rapat kerja wilayah perdana yang berlangsung mulai tanggal 08-10 April 2021 di SEI Hotel Kota Banda Aceh.

Rapat kerja wilayah yang diikuti perwakilan KKG-MI dari 23 kabupaten/kota itu dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh diwakili Kepala Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Drs H Amiruddin MA, Kamis (08/04).

Dalam sambutannya, Amiruddin menyampaikan, sangat kita pahami selama ini koordinasi antara kantor wilayah dengan Kemenag disetiap kabupaten/kota berjalan dengan baik kedepannya dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi.

“Saat ini Kementerian Agama terus berbenah menyempurnakan segala kekurangan yang ada guna meningkatkan pelayanan prima bagi masyarakat dalam upaya meningkatkan good govermance” kata Amiruddin.

Dikatakannya, untuk mencapai tujuan itu sebagai aparatur Kemenag, kita diharapakan bukan hanya melaksanakan tugas rutin namun harus melakukan inovasi, dalam strategi menjawab dinamika kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Kita yakin dengan koordinasi yang baik akan mampu menjalankan visi dan misi secara optimal dan berharap rapat kerja ini bukan hanya sebatas menyusun rencana program, akan tetapi lebih dari itu adalah mencari solusi yang tepat dan dibenarkan oleh perundang-undangan atas kendala dan tantangan yang dihadapi sehingga program-program yang dilaksanakan bisa mencapai sasaran,” ucapnya.

Sementara ketua panitia sekaligus Ketua KKG-MI Provinsi Aceh, Fadli SPd melaporkan, jumlah peserta dalam rapat kerja wilayah tahun 2021 berjumlah 70 orang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara perwakilan KKG-MI dari masing-masing kabupaten/kota dengan menggunakan anggaran dari Madrasah Ibtidaiyah masing-masing utusan dari madrasah bahkan menggunakan dana mandiri.

Fadli menjelaskan, pada rapat kerja selama tiga hari itu berakhir pada Sabtu (10/04) telah melahirkan lima poin rekomendasi yang akan disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh.

“Kelima poin itu, KKG-MI Provinsi Aceh memohon kepada Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh untuk mengakomodir sertifikat yang dikeluarkan oleh KKG-MI baik kabupaten/kota maupun Provinsi Aceh untuk diakui sebagai angka kredit dalam kenaikan pangkat guru,” ujar Fadli.

Poin selanjutnya memohon kepada Kakanwil Kemenag Aceh untuk menganggarkan biaya kegiatan kolektif guru melalui wadah KKG-MI Provinsi Aceh atau kabupaten/kota dalam DIPA tahun 2022.

“Rekomendasi berikutnya, memohon kepada Kakanwil Kemenag Aceh untuk mengesahkan AD/ART KKG-MI Provinsi Aceh yang telah disusun, kemudian mengarahkan Kakankemenag kabupaten/kota agar mengesahkan AD/ART dan yang terakhir untuk mendukung besaran iuran anggota KKG-MI se-Provinsi Aceh yang sudah disetujui pada rakerwil,” ucap Fadli.

Pada akhir rakerwil semua peserta melakukan orientasi lapangan pada MIN 20 Aceh Besar dengan meninjau pustaka digital sebagai upaya peningkatan literasi sekolah yang diterima langsung kepala madrasahnya, Adriah SPd MAg.

read more
Berita Terkini

SMK se-Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah Tandatangani MoU dengan Jissho Foundation, Alhudri : Pendidikan Kejuruan di Aceh Penuh Tantangan

JARINGANPELAJARACEH.COM I TAKENGON : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah secara resmi telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Yayasan Jissho, pada Selasa 5 April 2021.

Penandatanganan MoU antara Direktur Yayasan Jissho, Rismaja Putra, MM dengan Kepala SMK se-Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, disaksikan langsung Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM. Kerjasama tersebut meliputi bidang pembangunan sumberdaya manusia lulusan SMK yang akan dikirim magang dan bekerja ke Jepang.

Sebagaimana diketahui, Jissho Foundation adalah lembaga pendidikan, pelatihan nonformal yang mendidik, melatih dan menempatkan para siswa dan alumni dari SMK untuk menjadi tenaga kerja yang berkarakter, terampil di bidangnya dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Dalam arahannya, Alhudri menegaskan penyelenggaraan pendidikan kejuruan di Aceh saat ini penuh tantangan, seperti belum maksimalnya jumlah dan kompetensi guru kejuruan hingga sarana dan prasarana yang ada di sekolah.

“Begitu juga, jumlah industri di Aceh masih terbatas dan kurangnya penempatan kerja alumni SMK di Aceh ke industri-industri di tingkat nasional dan internasional,” tegasnya.

Namun, katanya lagi, dari semua tantangan itu, buktinya siswa SMK di Aceh mampu mengukir prestasi di berbagai bidang keahlian.

“Suatu kebanggaan bagi kita, lulusan SMK kita bisa berkarya di industri-industri nasional bahkan internasional. Dukungan dari berbagai pihak menjadi kunci penting kesuksesan ini,” terang Alhudri.

Sebelumnya, penandatanganan MoU antara Dinas Pendidikan Aceh dengan Yayasan Jissho Jepang ini, sebut Alhudri lagi, menjadi upaya nyata Pemerintah Aceh serius untuk memastikan lulusan SMK dapat bekerja di dunia industri.

“Saya harapkan, semua yang terlibat dalam kerjasama ini untuk benar-benar serius menindaklanjuti isi dari perjanjian ini. Kami akan lihat bukti nyatanya dan akan menjadi bahan evaluasi dari kami kedepan, agar pendidikan di Aceh semakin maju dan berkembang,” demikian Alhudri.

read more
Berita Terkini

Dua Anak Yatim di Aceh Utara Lolos Kuliah ke Polandia, Terkendala Biaya Keberangkatan

Jaringanpelajaraceh.com I Aceh Utara – Riska Amelia dan Safrizal merupakan dua orang anak yatim dari Kabupaten Aceh Utara yang berhasil lolos untuk kuliah ke luar negeri tepatnya di Kampus Vistula University Polandia.

Amel panggilan sehari-hari untuk gadis kelahiran Aceh Utara pada 26 Juni 2013 merupakan seorang anak yatim, ayahnya baru meninggal dunia pada awal Januari 2021. Kini Amel tinggal bersama ibunya yang berprofesi sebagai guru di sebuah Madrasah Ibtidayah.

Kelulusannya ke Kampus di luar negeri, merupakan suatu kebahagiaan bagi keluarga dan kebanggaan masyarakat Aceh, namun dibalik semua itu ada rasa sedih yang dipendam oleh gadis yang tinggal di Gampong Matang Drien Panton Labu Kabupaten Aceh Utara ini.

“Saya sangat bangga kak bisa lulus kuliah keluar negeri, ucapnya ketika dihubungi oleh awak media ini, namun kalau berbicara tentang kendala mungkin lebih ke dana sih kak, karena mama sekarang orang tua tunggal dan gajinya tidak seberapa ditambah tanggungan keluarga yang juga bukan cuma amel, jadi tidak mungkin bagi amel untuk memaksa mama menanggung semua biaya pendidikan amel”, ungkapnya dengan penuh kesedihan.

Alumni SMAN 1 Tanah Jambo Aye ini sangat berharap Pemerintah Aceh atau donatur lainnya untuk dapat membantunya memberikan dana berangkat ke Polandia dan Biaya pada tahun pertama disana karena selajutnya akan ada bea siswa dari kampus tersebut.

“Amel sangat berharap pada Pemerintah kak, agar dibantu dana keberangkatan dan biaya tahun pertama disana,
karena Amel ingin menjadi seorang yang berguna bagi lingkungan Amel, menjadi pemudi Aceh yang mampu membawa Aceh ke tingkat internasional, Amel juga ingin membuktikan bahwa Aceh memiliki banyak sekali pemuda pemudi yang handal, kompeten dan berkualitas yang mampu membangun daerahnya sendiri”, ungkap Amel penuh harap dengan berlinang air mata.

Kisah Amel juga tidak jauh berbeda dengan Safrizal, ia juga salah satu yatim dari Aceh Utara yang lulus masuk perguruan tinggi di Eropa tepanya Vistula University Polandia jurusan Hubungan Internasional.

Safrizal merupakan putra dari ibu Sri Wahyuni yang sehari-hari hanya bekerja sebagai pedagang dan ayahnya sudah meninggal delapan tahun yang lalu.

Safrizal juga sangat berharap, pemerintah Aceh maupun donatur lainnya bisa membantu dia untuk biaya keberangkatan dan kuliah tahun pertama di Polandia.

“Saat ini saya sedang bingung untuk mencari biaya keberangkatan, maka saya sangat berharap agar Pemerintah Aceh bisa membantu biaya untuk berangkat ke Polandia, mudah-mudahan cita-cita saya melanjutkan kuliah diluar negeri tidak terhambat”,ungkapnya penuh harap.

Cerita Amel dan Safrizal merupakan sebuah kisah pilu anak-anak Aceh yang lulus Kuliah ke Luar Negeri, namun terkendala dengan biaya keberangkatannya. Kisah ini semoga mengetuk hati Pemerintah atau Donatur lainnya, agar dapat membantu dua anak yatim ini sehingga bisa meraih cita citanya.

read more
1 38 39 40 41 42 57
Page 40 of 57