close

fitriadi

Berita Terkini

GeTAR : USK Tidak Bisa Lepas Tangan Terkait Mutu Pendidikan Aceh

Jaringanpelajaraceh.com I Banda Aceh – Sekjen Gerakan Titipan Rakyat (GeTAR) Aceh, Teuku Izin menegaskan Universitas Syiah Kuala (USK) tidak bisa melepas tanggungjawab dalam proses pembangunan pendidikan Aceh.

Hal itu disampaikan Teuku Izin menyangkut pernyataan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Samsul Rizal yang mengatakan kualitas pendidikan di daerah berjuluk serambi mekkah sangat rendah, hal itu merujuk pada kesalahan pemerintah dalam pengelolaannya.

“Universitas Syiah Kuala merupakan kawah candradimuka atau wadah tempat melatih lulusan para calon guru dan guru yang selama ini mengajar dan memberikan pendidikan kepada siswa/i di seluruh Aceh,” ungkapnya.

Dalam keterangan tertulisnya, Teuku Izin menerangkan, jika ingin saling menyalahkan dalam persoalan kualitas pendidikan di Aceh, maka USK adalah pihak yang paling layak untuk disalahkan.

“Universitas Syiah Kuala merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang melahirkan sarjana-sarjana yang selama ini menjadi para pendidik yang mengajar di berbagai sekolah di Aceh dari jenjang SD, SMP hingga SMA,” ujar Teuku Izin, Kamis (1/7/2021).

Karenanya, lanjut Izin, jika ingin menuding satu sama lain, tentu semua pihak akan mempertanyakan sejauh mana kualitas pendidik yang dihasilkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari USK yang selama ini menjadi guru di hampir seluruh sekolah di Aceh.

“Jika merujuk pada banyak aspek, guru yang baik akan menghasilkan para peserta didik yang baik pula, tentu hal itu juga didukung oleh faktor-faktor lainnya. Tapi, kualitas guru juga sangat menentukan kualitas murid,” Tegas Apung, sapaan karib Teuku Izin.

Nah, jika itu dijadikan dasar penilaian, maka sudah sepantasnya juga dipertanyakan sejauh mana kualitas para sarjana pendidikan yang disiapkan oleh USK. Sebab, merekalah yang selama ini menjadi pengajar di banyak sekolah di provinsi ini.

Namun tentu, untuk saat ini tidak baik saling menuding dan menyalahkan. Karenanya GeTAR mengajak Pemerintah Aceh dan USK, saling berkolaborasi dan bersinergi untuk bekerjasama meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh dengan menyusun program dan metode pengajaran yang lebih baik.

“Kerjasama dan kolaborasi antara Pemerintah Aceh dan USK menjadi penting, agar kedepannya dihasilkan metode pengajaran yang efektif, dan juga dapat menghasilkan para sarjana-sarjana pendikan yang berkuaitas,” tukasnya lagi. (*)

read more
Berita Terkini

Kacabdindik Wilayah Aceh Selatan Buka Kegiatan KOSN Jenjang SMK

Jaringanpelajaraceh.com I TAPAKTUAN – Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Wilayah Aceh Selatan, Annadwi SPd MM membuka kegiatan Kompetisi Olahraga Siswa Nasional (KOSN) tingkat Kabupaten Aceh Selatan jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Kamis (01/07/2021).

Kegiatan itu berlangsung di Aula Cabdindik Wilayah Aceh Selatan diikuti sebelas sekolah dengan jumlah peserta tiga puluh enam orang peserta.

Adapun yang dipertandingkan masing-masing cabang lomba karate nomor kata dan pencak silat nomor tunggal putra dan putri.

Kacabdik Wilayah Aceh Selatan dalam sambutannya menyampaikan, walaupun kegiatan ini belum matang atau maksimal. Kita tampilkan mewakili Kabuapaten Aceh Selatan ke tingkat Provinsi AcehAceh pada tanggal 4 Juli sampai 07 Juli 2021.

“Untuk kedepannya pekerjaan rumah bagi kita semua khususnya untuk Kepala SMK yang ada di wilayah kerja Cabdindik Aceh Selatan setiap tahun kekurangan atlit pencak silat, pencak silat tunggal dan karate,” ujar Annadwi.

Diakhir penyampaiannya, siswa yang bertanding di tingkat provinsi nanti ya dapat meraih juara dan akan bertanding di tingkat Nasional, pinta Annadwi.

read more
Berita Terkini

Kacabdin Wilayah Aceh Selatan Motivasi Calon Pengajar Praktik Pendidikan Guru Pengerak

Jaringanpelajaraceh.com I Tapaktuan – Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik di Kabupaten Aceh Selatan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Selatan, Annadwi SPd MM, memberikan motivasi kepada para kepala sekolah dan guru jenjang SMA yang telah dinyatakan lulus seleksi tahap pertama calon pengajar praktik pendidikan guru penggerak (PGP), Rabu (30/06/2021).

Dihadapan para kepala sekolah dan guru Annadwi mengatakan, pengajar praktik guru penggerak merupakan salah satu komponen dari bagian program pendidikan guru selain guru penggerak dan fasilitator.

“Tugas utamanya adalah sebagai pendamping guru penggerak dalam proses pendidikan guru penggerak. Praktik pengajar juga berperan sebagai orang yang berbagi praktik baik, mengevaluasi dan memberikan umpan balik (feed back) kepada calon guru penggerak selama pendidikan yaitu sembilan bulan,” kata Annadwi.

Dikatakannya, apresiasi yang tinggi atas partisifasi dan peran aktif para kepala sekolah dan guru yang telah mengikuti seleksi yang dilaksanakan oleh Dirjen GTK, Kemdikbud Ristek.

“Kepada calon peserta yang telah dinyatakan lulus seleksi tahap pertama agar terus semangat dalam menyelesai seleksi tahapan berikutnya, karena ada 2 dua tahapan seleksi lagi yang harus baoak dan ibu ikuti yaitu simulasi mengajar dan wawancara yang dilaksanakan secara daring mulai tanggal 1-7 Juli 2021,” pinta Annadwi.

Dijelaskannya, dari 16 peserta yang dinyatakan lulus seleksi tahap pertama untuk Wilayah Kabupaten Aceh Selatan, tujuh diantaranya merupakan kepala sekolah dan guru jenjang SMA yang berasal dari SMAN 1 Pasie Raja, SMAN Unggul Darussadah Kluet Raya, SMAN 1 Sawang, SMAN 1 Kota Bahagia dan SMAS Insan Madani Meukek.

Kacabdin Wilayah Aceh Selatan sangat mengaharapkan dukungan dari semua pihak agar semua calon pengajar praktik pendidikan guru penggerak dari jenjang SMA dapat lolos sampai tahap akhir, sehingga program guru penggerak dalam mewujudkan merdeka belajar dapat terlaksana dengan baik di Kabupaten Aceh Selatan, pungkas Annadwi.

read more
Berita Terkini

Kadisdik Aceh Sesalkan Pernyataan Rektor USK yang Tidak Konstruktif

Jaringanpelajaraceh.com I Banda Aceh – Kepala Dinas Pendidikan Aceh melalui Plt Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Muksalmina SPd MSi menyayangkan pernyataan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) yang tidak konstruktif terkait dengan mutu pendidikan Aceh.

Hal itu disampaikan Muksalmina kepada media ini pada Senin (28/06/2021). Ia mengatakan, saat ini kita sedang bekerja keras untuk terus membangun mutu dan kualitas pendidikan Aceh dan Alhamdulillah kerja keras tersebut kini sudah mulai menunjukkan hasil.

“Perlahan lahan anak-anak didik kita sudah mulai banyak yang diterima di perguruan tinggi, selain itu guru PNS yang sudah memiliki sertifikat pendidik pun semakin banyak dan beberapa capain prestasi lainnya baik tingkat nasional dan internasional yang dicapai oleh guru dan anak didik kita,” kata Muksalmina.

Dikatakannya, penempatan rangking pendidikan Aceh di tingkat 24 Nasional, apa yang dikatakan Rektor USK menurut kami tidak memiliki landasan emperis yang cukup kuat, kita tidak tahu apa penyataan ini merupakan pernyataan pribadi beliau ataupun mengatasnamakan Rektor USK.

“Setau kita USK adalah sebuah lembaga pendidikan, bukan lembaga survey. Sehingga penyataan beliau akan dapat menyesatkan opini publik,” ujarnya.

Muksal menjelaskan, peringkat pendidikan suatu daerah tidak bisa serta merta ditentukan dengan hanya melihat satu dimensi saja. Jika kita mengukur mutu pendidikan hanya berdasarkan kemampuan siswa jenjang SMA/SMK menjawab soal SBMPTN itu sangat keliru, karena pendidikan Aceh memiliki landasan Dinul Islamnya.

Kita melihat banyak siswa lulusan SMA/SMK yang berprestasi juga melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren baik dalam maupun luar negeri dan ada juga yang masuk ke sekolah sekolah kedinasan luput dari pantauan Rektor USK.

“Kita sangat mengharapkan agar Rektor USK bisa membangun sinergitas yang baik dengan semua stakeholder pendidikan yang ada di Aceh. Selama ini sekolah-sekolah kita selalu menerima mahasiswa mahasiswa FKIP yang melakukan PPL di sekolah jenjang SD, SMP dan SMA,” ucap Muksal.

Guru-guru kita tetap membimbing mereka dengan baik dan tekun tanpa kita membebankan biaya apapun sehingga mereka dapat merasakan langsung dunia pendidikan nyata sebelum menerima gelar sarjana, namun saat Rektor USK terus menerus menyudutkan hasil kerja keras guru guru kita di sekolah tentu ini akan sangat melukai hati mereka.

Muksal menambahkan, kita akui kesulitan guru guru kita dalam masa pendemik semakin bertambah karena harus menyesuaikan pola pembelajaran secara daring yang mana sistem ini tidak pernah mereka dapat di kampus. Mereka harus berjibaku kembali mengikuti pelatihan-pelatihan untuk mengoptimalkan proses pendidikan secara daring.

Mungkin USK bisa mengambil perannya dengan mengupgrade kembali lulusannya dengan kondisi dunia pendidikan terkini, ini akan lebih bermanfaat daripada mencoba membuat rangking-rangkingan pendidikan yang tidak perlu, pungkasnya.

read more
Berita Terkini

Asbaruddin : Tolak Ukur Keberhasilan Pendidikan adalah Moralitas

Jaringanpelajaraceh.com I Subulussalam – Tolak ukur mutu atau kualitas pendidikan Aceh tidak hanya dilihat dari hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK- SBMPTN) yang diikuti oleh para lulusan SMA sederajat setiap tahunnya. Namun, tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah moralitas dan karakter peserta didik.

Hal demikian disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil, Dr. Asbaruddin, S.TP., MM., M. Eng kepada media, Senin (28/6/2021) di Subulussalam.

“Bila tidak lulus perguruan tinggi negeri (PTN) bukan berarti mutu pendidikan rendah. Keselarasan dan harmonika sosial serta dinamika pembangunan tidak akan berjalan baik, jika dikendalikan oleh individu-individu cerdas tetapi egois dan hedonis-materialis,” ungkapnya.

Kenyataan saat ini, lanjutnya pendidikan yang pada hakikatnya untuk membentuk manusia yang berkarakter, tampaknya belum berhasil di Indonesia saat ini karena cenderung membanggakan serapan masuk PTN dan mengabaikan akhlakul karimah.

“Pendidikan kita baru melakoni misi yang paling rendah dalam pendidikan, yaitu transformasi ilmu dalam upaya pengembangan intelektual, sementara misi moral masih tercecer diantara jalan terjal mimpi dan kenyataan, pertanyaannya siapa yang peduli?,” ujarnya.

Indikator keberhasilan pendidikan, menurut Asbar sejatinya lebih dominan ke arah afektif (sikap, akhlakul karimah atau moralitas) para lulusannya, disamping tidak mengabaikan keilmuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik).

“Ilmuan tidak boleh hanya memandang rangking dari jalur saintek, humaniora atau perspektif lain, ilmuan harus menjadi illmuan sejati yang tidak menghakimi dari satu sudut padang saja. Ternyata dalam ujian masuk perguruan tinggi tidak menilai bagaimana afektif, hanya menilai kognitif dan menafikan psikomotorik lulusan, ini sangat keliru,” katanya.

Disisi lain, kacabdin mengajak pihak USK untuk saling intropeksi diri, karena hampir 75 persen guru dan tenaga pendidikan di Aceh itu merupakan lulusan Perguruan Tinggi tersebut.

“Sebagai penyumbang guru terbanyak di Aceh, USK wajib introspeksi diri, apakah proses pendidikan bagi guru telah dilaksanakan dengan baik sehingga tamatannya dapat dipakai untuk satuan pendidikan yang ada di Aceh,” imbuhnya.

Asbaruddin mengungkapkan pendidikan yang berjalan di USK saat ini ternyata juga masih dalam keadaan buram. Hal itu bisa dilihat dengan masih banyaknya program studi yang berakreditasi B dan C.

“Apakah rendahnya kualitas guru di Aceh dipengaruhi oleh rendahnya kualitas Sarjana Pendidikan? Kita tidak bisa saling menyalahkan tetapi saling introspeksi diri, duk pakat dalam Bahasa Aceh,” tutupnya.

read more
Artikel

Sarjana Pendidikan, Produksi Siapa?

Oleh : Dr. Asbaruddin, S.TP., MM., M.Eng

Apakah rendahnya kualitas guru di Aceh dipengaruhi oleh rendahnya kualitas Sarjana Pendidikan? Bila hanya dilihat dari satu indikator saja mari kita jawab pertanyaan ini, sebagai evaluasi indikator tersebut.

Pertama apresiasi kami kepada kepala sekolah dan guru-guru Aceh yang hebat dan telah mengantarkan mutu pendidikan Aceh lebih baik. Tentu ini wajib disampaikan tanda kita orang timur yang penuh dengan sopan santun.

Tolak ukur mutu atau kualitas pendidikan Aceh tidak bisa dilihat hanya dari hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK SBMPTN) setiap tahun, yang diikuti oleh para lulusan SMA sederajat.

Pengertian pendidikan memang sangat beragam, indikatornya juga demikian tergantung siapa yang punya kepentingan dan siapa yang akan dijatuhkan. Tetapi yang jelas tujuan utama pendidikan adalah transformasi ilmu, kecakapan, dan nilai. Salah satu pengertian pendidikan yang dijelaskan Hamka Abdul Aziz, bahwa pendidikan adalah proses transformasi-dialogis antara peserta didik dengan pendidik dalam semua potensi kemanusiaannya sehingga menumbuhkan kesadaran, sikap, dan tindakan kritisnya. Lepas dari beragam pengertian, makna pendidikan adalah proses humanisasi (pemanusiaan) manusia.

Jika sepakat dengan pengertian pendidikan di atas, maka hakikatnya indikator keberhasilan pendidikan sejatinya lebih dominan ke arah Afektif (sikap, akhlakul karimah atau moralitas) para lulusannya, disamping tidak mengabaikan keilmuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik). Semoga kita sepakat moralitas menjadi fondasi dasar dalam membengun manusia yang tangguh.

Secara normatif, dalam Islam, keberhasilan manusia diukur dari akhlak dan kualitas amalnya. Alasannya sangat sederhana karena akhlak adalah simbol utama kemanusiaan. Ini pula yang menjadi modal utama manusia dalam menjalin komunikasi sosial dan alat kontrol atas capaian intelektual seseorang sehingga pengetahuannya tidak disalahgunakan.

Tolak ukur keberhasilan pendidikan adalah moralitas dan karakter peserta didik, bila gagal dibentuk, itu artinya proses pendidikan gagal total dengan kata lain mutu pendidikan rendah. Bila tidak lulus perguruan tinggi negeri (PTN) bukan berarti mutu pendidikan rendah. Keselarasan dan harmonika sosial, serta  dinamika pembangunan tidak akan berjalan baik, bahkan berpotensi gagal karena dikendalikan oleh individu-individu cerdas tetapi egois dan hedonis-materialis.

Kenyataannya, pendidikan yang pada hakikatnya untuk membentuk manusia yang berkarakter tampaknya belum berhasil di Indonesia saat ini karena kita selalu membanggakan serapan masuk PTN dan mengabaikan akhlakul karimah. Pendidikan kita baru melakoni misi yang paling rendah dalam pendidikan, yaitu transformasi ilmu dalam upaya pengembangan intelektual, sementara misi moral masih tercecer diantara jalan terjal mimpi dan kenyataan, pertanyaannya siapa yang peduli?.

Data, fakta, dan sederetan peristiwa memperlihatkan perilaku korupsi kaum terdidik, produk ijazah palsu,, birokrasi uang rokok, dan perilaku lain yang hampa dari muatan akhlakul karimah, dan pola hidup materialisme-hedonistis yang semakin menguat. Tidak bisa dipungkiri, pelaku utama dari itu semua adalah orang cerdas yang merupakan lulusan dari lembaga pendidikan.

Ilmuan tidak boleh hanya memandang rangking dari jalur saintek, humaniora atau perspektif lain, ilmuan harus menjadi illmuan sejati yang tidak menghakimi dari satu sudut padang sajal. Ternyata dalam ujian masuk perguruan tinggi tidak menilai bagaimana afektif, hanya menilai kognitif dan menafikan psikomotorik lulusan, pasti ini keliru.

Disisi lain kita harus saling intropeksi diri,  perguruan tinggi universitas syiah kuala sebagai penyumbang guru di Aceh 75% wajib introspeksi diri, apakah proses pendidikan bagi guru telah dilaksanakan dengan baik sehingga tamatannya dapat dipakai untuk sekolah-sekolah yang ada di Aceh. Ternyata juga masih buram dengan nilai akreditasi program studi kebanyak B. Tidak saling menyalahkan tetapi saling introspeksi diri,, duk pakat dalam Bahasa Aceh.

Penulis Merupakan Kacabdin Wilayah Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil

read more
Berita Terkini

Asesmen Nasional Jadi Alat Ukur Pemetaan Mutu Pendidikan

Jaringanpelajaraceh.com I Tapaktuan – Hasil dari pelaksanaan Asesmen Nasional dapat menjadi penilaian bagi pemerintah terhadap mutu setiap satuan pendidikan yang ada di Aceh. Sehingga dapat melahirkan berbagai strategi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Hal demikian disampaikan Kepala Bidang Pembinaan SMK, Azizah, M.Pd pada pertemuan dengan Kepala SMA, SMK dan SLB se-Kabupaten Aceh Selatan, Subulussalam dan Singkil, Jumat (25/6/2021) di Kantor Cabdin Wilayah Kabupaten Aceh Selatan.

“Pemetaan mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar yaitu literasi, numerasi, dan karakter serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran,” ujarnya.

Menurutnya, informasi itu akan diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

“Kepala sekolah, guru dan siswa akan mengikuti Asesmen Nasional (AN) yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan September hingga oktober mendatang,” jelasnya.

Azizah menjelaskan AN diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Pemilihan ini akan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi. Satuan pendidikan tidak diperkenankan mengganti sampel murid karena dapat mempengaruhi hasil dan tindak lanjut perbaikan pembelajaran.

“Mengapa yang menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII, dan XI?
Hal ini dilakukan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut,” terangnya.

Asesmen Nasional bertujuan tidak untuk mengevaluasi siswa per individu dan tidak dimanfaatkan untuk Syarat penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Asesmen Nasional hanya sebuah evaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Kepala sekolah dan guru hanya akan menjadi peserta pada Survei Lingkungan Belajar yang termasuk dalam Asesmen Nasional. Sementara Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter hanya diikuti oleh para siswa,” tuturnya.

Terkait dengan waktu pelaksanaan, lanjutnya para guru dan kepala sekolah bakal mengikuti Asesmen Nasional pada waktu yang berbeda dengan siswa.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM melalui Kepala UPTD Balai Tekkomdik, T. Fariyal, MM mengucapkan rasa syukur dan terimakasih atas kinerja kepala sekolah, guru dan warga sekolah lainnya yang telah bekerja keras mengantar siswa/i hingga lulus ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN ada tahun 2021.

“Bapak Gubernur Aceh dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan menyampaikan salam hangat dan terimakasih kepada bapak/ibu guru semua. Beliau mengapresiasi atas prestasi yang telah kita raih pada tahun ini. Semoga kedepan dapat lebih ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Fariyal menyebutkan dari sisi jumlah, angka kelulusan siswa/i Aceh melalui jalur SBMPTN memang menduduki peringkat 8 nasional, namun jika dibandingkan antara jumlah peserta yang mendaftar dengan yang diterima, maka rasionya mencapai 41 persen. Sedangkan pada jalur SNMPTN, rasio kelulusan Aceh mencapai 36.80 persen. Ini merupakan rasio tertinggi secara nasional.

“Dari besaran rasio ini menjadi salah satu dasar tolak ukur keberhasilan pendidikan di Aceh. Semoga kedepan akan lebih banyak lagi prestasi yang dapat kita capai untuk mewujudkan Aceh Carong,” pintanya.

Pihaknya mengajak para kepala sekolah untuk terus berinovasi dan berkarya dalam menjalankan program belajar mengajar di satuan pendidikannya masing-masing.

read more
Berita Terkini

Rasio Kelulusan Di SBMPTN sebesar 41 Persen, Bukti Pendidikan Aceh Berkualitas

Jaringanpelajaraceh.com I Banda Aceh – Keberhasilan siswa/i Aceh lulus pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2021 merupakan hasil kerja keras seluruh warga sekolah. Peran kepala sekolah sangat penting dalam menjalankan fungsi manajerial di sekolah.

Hal demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM dihadapan para kepala sekolah se-Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar di Aula Kantor Cabang Disdik Wilayah Kabupaten setempat, Selasa (22/6/2021).

“Bapak Gubernur Aceh menyampaikan selamat dan terimakasih kepada bapak/ibu guru semua. Beliau mengapresiasi atas prestasi yang telah kita raih pada tahun ini. Semoga kedepan dapat lebih ditingkatkan lagi,” ucapnya

Dari sisi jumlah, lanjutnya kelulusan siswa/i Aceh melalui jalur SBMPTN memang menduduki peringkat 8 nasional, namun jika dibandingkan antara jumlah peserta yang mendaftar dengan yang diterima, maka rasionya mencapai 41 persen. Sedangkan pada jalur SNMPTN, rasio kelulusan Aceh mencapai 36.80 persen. Ini merupakan rasio tertinggi secara nasional.

“Dari besaran rasio ini, seharusnya menjadi salah satu dasar tolak ukur keberhasilan pendidikan di suatu daerah, akan tetapi dibatasi keterbatasan data provinsi lain, sehingga tidak dapat membandingkan rasio jumlah yang mendaftar dan yang diterima melalui jalur SBMPTN dengan provinsi lainnya,” jelasnya.

Alhudri mengatakan pihaknya akan terus melakukan kerjasama dengan semua pihak termasuk perguruan tinggi dan industry serta dunia kerja untuk dapat meningkatkan mutu dan kualitas para guru dan siswa/i yang sedang menempuh pendidikan di Aceh.

“Beberapa waktu lalu kita telah bekerjasama dengan salah satu Perguruan Tinggi yaitu UIN Ar-Raniry dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas guru yang ada di seluruh Aceh,” ujarnya.

Kedua belah pihak, lanjutnya memiliki komitmen dan cita-cita yang sama untuk mewujudkan sumber daya manusia pengajar dan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing.

“Dengan adanya kerjasama tersebut, para guru yang ada di seluruh Aceh, khususnya Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan SDM dalam rangka mewujudkan Program Unggulan Aceh Carong,” terangnya.

Kadisdik Aceh meminta kepada para kacabdin se-Aceh untuk dapat mendata secara rinci para siswa/i yang lulus pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tahun 2021. Pihaknya akan memberi penghargaan terhadap satuan pendidikan jenjang SMA/SMK dan SLB yang paling banyak meluluskan siswa/i ke perguruan tinggi negeri.

“Kami akan memberikan piagam penghargaan kepada satuan pendidikan yang terbanyak meluluskan siswa/i nya ke Perguruan Tinggi Negeri. Setiap kabupaten/kota akan dipilih tiga sekolah terbanyak dan kepala sekolahnya akan diundang ke provinsi,” katanya penuh semangat.

Meski demikian, Alhudri melanjutkan untuk meraih prestasi tersebut bukanlah hal mudah, perlu ketekunan dan kerja keras dari semua pihak. Namun, menurutnya, mempertahankan prestasi tersebut jauh lebih sulit jika tidak dilakukan dengan keikhlasan dan kekompakan.

“Pendidikan Aceh pada tahun 2018 pada posisi 34 nasional, tahun 2019 berada pada posisi 27 nasional, tahun 2020 pada posisi 23 nasional. Lalu pada tahun 2021 ini Provinsi Aceh berada pada posisi 8 secara nasional. Alhamdulillah pendidikan Aceh semakin membaik dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya penuh haru yang disambut tepuk tangan para kepala sekolah.

Alhudri mengajak para kepala sekolah untuk terus berinovasi dan berkarya dalam menjalankan program belajar mengajar di satuan pendidikannya. Terlebih dengan kondisi saat ini yang mengharuskan pembelajaran berlangsung secara daring dan sift tatap muka.

read more
Berita Terkini

Feri Irawan Terpilih Jadi Ketua IGI Bireuen Periode 2021-2026

Jaringanpelajaraceh.com I Bireuen – Pada Musyawarah Daerah(Musda) Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Bireuen yang dilaksanakan pada Minggu (20/06/2021).

Feri Irawan SSi MPd terpilih sebagai Ketua IGI Kabupaten Bireuen Periode 2021-2026 melalui musyawarah para anggota yang hadir.

Feri menggantikan Ketua IGI Kabupaten Bireuen periode sebelumnya Hamdani MPd yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang SMA dan PKLK Dinas Pendidikan Aceh.

Hamdani dalam laporan pertanggung jawaban secara daring menyampaikan, pengurus baru yang terpilih agar dapat memberikan andil pada perubahan khususnya pada dunia pendidikan di Kabupaten Bireuen yang lebih baik.

“Kita berharap pengurus yang akan datang dapat bersinergi dengan semua pihak termasuk organisasi profesi guru lainnya untuk memajukan pendidikan di Bireuen,” kata Hamdani.

Ketua Wilayah IGI Aceh, Drs Imran yang turut hadir mengatakan, pengasannya bahwa IGI mesti menjadi sumber solusi bagi segala permasalahan pendidikan yang terjadi baik di tingkat daerah, regional maupun nasional.

“Pemerintah telah melihat bukti-bukti perjuangan seluruh pengurus IGI khususnya di Aceh, bahwa mereka adalah guru-guru militan yang serius membagi ide, pengetahuan, tenaga bahkan dana demi membantu memperjuangkan pendidikan yang lebih baik di Aceh,” kata Imran.

Dikatakannya, oleh sebab itu kepercayaan banyak pihak termasuk pemerintah kepada IGI, cukup besar karena kita tidak hanya menuntut perubahan, tapi juga sebagai penggerak dan pelaku perubahan itu sendiri.

Ketua IGI Kabupaten Bireuen tepilih, Feri Irawan dalam sambutannya menegaskan bahwa tanggung jawab yang dia pikul pada hakikatnya bukan tanggung jawab dirinya semata, namun merupakan tanggung jawab bersama seluruh pengurus dan anggota IGI Kabupaten Bireuen.

“Atas dasar kepedulian terhadap pendidikan, maka kita semua bersama-sama memikul amanah ini. Kita akan bergerak bersama dan menggalang semua potensi dari berbagai pihak untuk memajukan pendidikan khususnya di Kabupaten Bireuen. Insyaallah, dalam waktu dekat kita rampungkan pengurus baru yang siap menggerakkan semangat sharing and growing together,” pungkas Feri Irawan.

read more
Berita Terkini

Raih Keberhasilan Ini, Kadisdik Aceh Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan

Jaringanpelajaraceh.com  I Takengon – Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT melalui Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Alhudri MM, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para guru dan tenaga kependidikan yang telah berhasil mengantarkan siswa/i Aceh masuk peringkat 8 nasional dengan jumlah terbanyak yang diterima pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) serta peringkat 5 nasional pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2021.

Capaian tersebut juga sangat diapresiasi oleh Kadisdik Aceh dan disampaikan dihadapan para kepala sekolah, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Pengawas SMA, SMK dan SLB saat berkunjung ke Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Bireuen – Lhokseumawe – Aceh Utara, serta Aceh Tengah – Bener Meriah yang berlangsung sampai Sabtu, 19 Juni 2021.

Dalam pertemuan itu, Kadisdik Aceh mengungkapkan, tujuan kunjungan tersebut tidak lepas dari prestasi pendidikan Aceh berkat kerja keras para guru dan tenaga kependidikan sehingga pendidikan Aceh masuk kedalam peringkat sepuluh besar nasional.

“Kami ingin mengajak agar semua pihak sekolah baik itu kepala sekolah, gurunya maupun tenaga kependidikan untuk senantiasa kompak dalam mendidik generasi Aceh untuk mewujudkan visi Aceh Carong,” tuturnya.

Oleh karena itu Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, memerintahkan dirinya untuk menyampaikan salam terimakasih dan apresiasi atas prestasi pendidikan Aceh tersebut.

“Bapak Gubernur mengucapkan ribuan terima kasih karena bapak dan ibu guru sudah mengangkat martabat dan derajat orang Aceh, karena pendidikan ini tidak mungkin baik tanpa sentuhan tangan dingin bapak/ ibu. Bapak/ibu lah yang berhadapan langsung dengan para siswa,” kata Alhudri.

Alhudri juga menampik kualitas mutu guru rendah, padahal sudah cukup banyak anak-anak didik para guru di Aceh telah sukses.

Apalagi dengan keluarnya pengemuman dari LTMPT yang menempatkan Aceh urutan ke -8 nasional pada SBMPTN dan urutan ke – 5 nasional pada SNMPTN telah membantah semua tudingan selama ini diarahkan kepada para kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan yang bertanggung jawab penuh untuk mendidik generasi Aceh.

“Tidak mudah untuk mempertahankan prestasi ini apabila semua pihak tidak memiliki mindset yang sama dalam mewujudkan pendidikan Aceh yang lebih baik,” ujarnya.[]

*Sosialisasi Asesmen Nasional*

Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Hamdani, M.Pd yang ikut dalam rombongan ikut mensosialisasikan Asesmen Nasional yang akan mulai dilaksanakan pada September 2021.

Hamdani menuturkan, dalam asesmen nasional ini ada tiga kompetensi yang diuji, pertama kompetensi minimum, literasi numerasi, dan survey lingkungan.

Asesmen dilakukan untuk pemetaan mutu sekolah bukan mutu siswa, adapun yang dites adalah siswa kelas 2 (dua) sebanyak 45 orang secara acak atau random.

“Dari sekarang kita sudah melakukan sosialisasi agar pelaksanaannya pada September 2021 dapat berjalan sukses. Harapan kita semua sekolah yang ada di Aceh bisa meningkatkan mutu sekolah dalam pelaksanaan asesmen tahun ini,” kata Hamdani.[]

read more
1 34 35 36 37 38 57
Page 36 of 57