close

Redaksi

Berita Terkini

SDN 17 Peudada Terendam Lumpur

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – SDN 17 Peudada Bireuen terendam lumpur akibat diterjang banjir, Kamis (19/12/2013). Kondisi itu mengakibatkan proses belajar mengajar di sekolah pedalaman tersebut lumpuh total.

Pantauan Serambinews.com, untuk bisa masuk ke komplek sekolah itu harus mengarungi lumpur setebal 50 sentimeter. Sedangkan dalam ruang kelas dan ruang guru, lumpurnya mencapai tumit orang dewasa. Beberapa murid dan guru tampak membersihkan lumpur yang merendam sekolah mereka. Kondisi itu akibat saluran sekitar sekolah sudah dangkal.

Seluruh ruang kelas dan ruang guru serta pekarangan sekolah berlumpur. Sebagian mobiler dan fasilitas sekolah rusak akibat diterjang banjir dan direndam lumpur. Begitu pun toilet sekolah tersebut tidak bisa digunakan lagi.(*)

Berita Terkini

Microsoft: Guru Tak Boleh Gaptek

0930106microsoft-reuters780x390SAMARINDA, KOMPAS.com — PT Microsoft Indonesia menyatakan prihatin bila para guru masih menggunakan metode mengajar tradisional yang cenderung monoton dan membosankan bagi siswa. Keprihatinan itu terungkap pada gelaran acara program Partners In Learning (PIL), yang dibuka Senin (16/12/2013).

Melalui kegiatan yang dijadwalkan berlangsung sampai Kamis (19/12/2013), Microsoft Indonesia mengajak para guru di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara untuk belajar bersama, dimulai dari 80 guru yang mengikuti program PIL.

Perwakilan dari Microsoft Indonesia, Budi Setyono, mengatakan, guru saat ini harus punya kompetensi dalam metode pengajaran agar tak ketinggalan dari siswanya, termasuk soal tekonologi.

“Saat ini siswa mampu mengakses informasi dunia hanya melalui sebuah laptop ataupunhandphone. Jangan sampai lantaran gurunya tidak up to date siswa jenuh ketika pengajaran oleh guru,” ujar Budi, Selasa (17/12/2013).

Budi mengatakan, Microsoft melalui program corporate social responsibility (CSR) merangkai beragam program untuk meningkatkan kompetensi guru di bidang teknologi. “Microsoft mengajak para guru untuk melek teknologi, tidak gaptek (gagap teknologi),” ujar dia.

Salah satu peserta, Badrut Tamam, mengatakan, program ini sangat membantu. “Sekurang-kurangnya saya bisa meng-upgrade pengetahuan saya tentang dunia teknologi,” kata dia. Badrut sependapat bahwa para guru pada hari ini harus punya inovasi dalam metode pengajaran.

Implementasi teknologi dalam metode itu, menurut Badrut, tak bisa dihindari. “Seandainya semua guru bisa melakukan pembelajaran di kelasnya dengan basis IT sebagaimana yang diajarkan tim dari Microsoft ini, siswa tidak akan jenuh karena suasana belajar bisa dikondisikan rileks dan menyenangkan,” ujar dia.

Berita Terkini

Penyandang Tunanetra Tak “Gaptek”

0746049tuna-netra780x390JAKARTA, KOMPAS.com – Penyandang tunanetra tak kalah dengan yang bermata awas dalam mengakses teknologi informasi. Mereka belajar memaksimalkan teknologi informasi dan komunikasi bagi kehidupan mereka. Caranya? Mereka mendengarkan ”gadget berbicara”.
”Dengarkan instruksinya, lalu kita ketukkan jari di layar. Putar-putar sedikit. Nanti laman akan terbuka,” ujar Adi Ariyanto (36), yang duduk di tengah ruangan, dikerubungi rekan-rekannya. Semuanya tunanetra.
Tak berapa lama kemudian, telepon pintar Adi bersuara membacakan tulisan di layar. Adi mengandalkan pendengaran dan ketukan jari sebagai navigasi ketika menggunakan telepon pintar alias smartphone. Kali itu, dia mengandalkan voice over di telepon genggamnya.
Saat itu Adi Ariyanto sedang memperagakan kepada sesama tunanetra cara mengeksplorasi teknologi telepon pintar. Di rumah salah satu anggota, Yudhi Hermawan, di Pondok Cabe, sekitar 30 tunanetra berdatangan dari berbagai wilayah Jakarta berbekal tongkat peraba jalan. Ada yang menumpang ojek langganan, kendaraan umum, ataupun diantar oleh sahabat dan kerabat. Beramai-ramai anggota komunitas IT Center for The Blinds (ITCFB) belajar aplikasi di telepon pintar.
Teknologi informasi dan komunikasi memudahkan kehidupan tunanetra. Adi menjelaskan tentang aplikasi lookaround berupa peta yang dapat menyebutkan, tidak hanya nama jalan, tetapi juga nomor rumah. Kemudian dia bercerita tentang aplikasi taptapsee bahkan memungkinkan tunanetra mengenali gambar yang terekam sebuah foto. ”Kita tinggal foto bendanya nanti aplikasi di telepon pintarnya akan bersuara mengatakan gambar apa itu. Contohnya, gambar perempuan duduk di kursi. Aplikasinya akan menyebutkan a woman is sitting on the chair ketika gambar itu muncul,” ujar Adi.
”Wah, penting, nih, bisa tahu duit, ha-ha,” celetuk anggota lainnya, Yudhi Hermawan (20). ”Betul tuh, he-he-he. Aplikasi ini bisa deteksi koin atau nilai pada uang kertas. Bisa juga kita pakai untuk baca buku di perpustakaan,” timpal Adi.

Mencerahkan
Kumpul-kumpul anggota ITCFB yang diramaikan dengan kocokan arisan bulanan itu sudah berlangsung tujuh kali. Dan, setiap kalinya, selalu ada anggota yang berbagi informasi khusus tentang teknologi informasi.
Sejak berdiri pada Juni 2012,
ITCFB berfokus pada bidang teknologi informasi bagi tunanetra. Komunitas dicetuskan oleh empat orang tunanetra, yaitu Aris Yohanes, Ahmad Ali Shahab, Rafik Akbar, dan Muhammad Hasbi yang tertarik bidang IT dan ingin memajukan tunanetra di Indonesia dalam bidang IT.
Tunanetra berpeluang memanfaatkan teknologi. Sayangnya, belum semua tunanetra paham mengaksesnya. ”Tunanetra yang sudah lama biasanya sudah kenal teknologi yang dapat membantu mereka. Tetapi, mereka yang baru menjadi tunanetra itu yang cenderung putus asa. Mereka akan merasa terhibur begitu tahu, ” papar Aris Yohanes (28).
Semula, anggota ITCFB berdiskusi tentang teknologi informasi di jejaring sosial. Banyak tunanetra yang mempunyai akun jejaring sosial. Grup diskusi ITCFB ini bukan hanya diperuntukkan bagi para tunanetra. Masyarakat luas pun diharapkan dapat bergabung. Semakin banyak orang yang bergabung dan aktif memberikan informasi teknologi, kian berlimpah informasi dan ilmu yang dapat diterapkan oleh tunanetra. Anggota di jejaring sosial mencapai 1.200 orang.
Mereka lalu merilis sebuah website yang menyajikan informasi teknologi yang aksesibel bagi tunanetra. Website itu dilengkapi dengan program tutorial audio yang dijalankan dengan menggunakan radio streaming. Tak puas hanya di dunia maya, mereka lalu kopi darat untuk berbagi ilmu. Kata Aris, teknologi yang diaplikasikan oleh tunanetra berbeda karena kebutuhannya pun berbeda. ”Teknologi informasi yang paling bermanfaat bagi tunanetra terutama berbasis screen reader atau pembaca layar dan Braille,” ujarnya.
Akses terhadap teknologi mencerahkan kehidupan tunanetra. Yudhi Hermawan mengatakan, mulai ada tunanetra yang bekerja sebagai pegawai telemarketing yang selalu berhubungan dengan nasabah melalui komputer dan jalur telepon. ”Untuk bekerja sebagai telemarketing, kami mesti paham teknologi informasi dan komunikasi. Tunanetra perlu dibekali teknologi dan kemampuan mengaksesnya. Nantinya, tidak ada alasan masyarakat memandang tunanetra itu tidak bisa apa-apa,” ujar Yudhi, yang bekerja sebagai pegawai telemarketing di bank swasta itu.

Membuat peranti lunak
Tak kalah canggih, sibel bagi tunanetra Indonesia. Para pemrogram kerap tidak terpikir soal aksesibilitas. ITCFB telah merilis software perdananya, Makfufin Adzan Software Accessible (MASA).
”Itu software pengingat waktu shalat dan kalender Hijriah bagi tunanetra. Sudah ada peranti lunak serupa, tetapi tidak terakses dan tidak cocok programnya untuk komputer milik tunanetra yang biasanya menggunakan program khusus pembaca layar,” ujar Aris. Komunitas tunanetra itu juga membuat program pengubah browser menjadi versi mobile.
Demi berbagi ilmu, anggota ITCFB mengadakan pula acara tekno keliling ke berbagai daerah. Workshop itu bertujuan memotivasi tunanetra di berbagai daerah agar mengakses teknologi. ”Belum semua tunanetra tahu kalau telepon pintar ada yang bisa ’bicara’, apalagi di daerah-daerah. Kami ingin banyak merambah ke daerah untuk mengedukasi teman-teman mengakses gadget,” ujar Aris.
Tidak mesti mengikuti pendidikan khusus teknologi informasi untuk mengakses teknologi itu. Aris dan Yudhi yang merupakan pegiat di ITCFB, misalnya, berpendidikan SMA dan bekerja di bidang telemarketing. Namun, sejak lama mereka sangat menyukai teknologi informasi dan piawai mengaksesnya. Bahkan, Aris mampu membuat program. Sudah tidak zaman lagi anggapan bahwa tunanetra terbelakang dalam urusan teknologi. Mereka menunjukkan tunanetra pun bisa ”melek teknologi”.

Berita Terkini

MM Online… Sedikit Tatap Muka, Kualitas Belajar Tetap Canggih!

1013009shutterstock-132457238780x390KOMPAS.com – Berawal dari pemikiran ketimpangan pertumbuhan ekonomi dengan pendidikan di Pulau Jawa dan luar Jawa, serta aspek tempat dan waktu yang semakin terbatas, BINUS Business School meluncurkan program Magister Management (MM) Online. MM Online merupakan sebuah metode perkuliahan maupun pembelajaran sebagai tren digital dan kecanggihan teknologi internet.

Program Director MM Executive Tubagus Hanafi Soeriaatmadja menjelaskan muara terbentuknya program pendidikan berteknologi tinggi ini. Dilihat dari sudut pandang luas Indonesia, menurut Tubagus, pertumbuhan ekonomi di atas 7 % di luar Jawa, sementara pertumbuhan ekonomi di Jawa di bawah lima persen. Sementara itu, sekolah dan pendidik hampir keseluruhan terpusat di Pulau Jawa.

“Artinya, ekonomi tumbuh tidak dibarengi dengan perkembangan pendidikan yang ada. Dari sudut pandang lebih sempit lagi, yaitu dilihat dari sudut pandang warga Jakarta, tak sedikit eksekutif muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Padahal, kebanyakan dari mereka masih memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi,” ujar Hanafi kepada Kompas.com di di BINUS Business School, Jakarta, pekan lalu.

Hanafi mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi kendala mereka meraih pendidikannya, yaitu waktu dan lokasi.

“Kemudian kami mencoba mencari solusinya, yaitu metode pendidikan yang bisa diakses orang luar Pulau Jawa, serta tidak terbatas lokasi dan waktu. Kami hadirkan MM Online ini sebagai salah satu solusi,” kata Hanafi.

Hanafi mengatakan, program MM Online adalah program hybrid atau ramah lingkungan. Jika di kelas biasa atau umum ada jadwal dan jam kuliahnya, pada MM Online ini mahasiswa bebas untuk belajar maupun me-review mata kuliah kapan pun ia mau.

Namun, lanjut Hanafi, bukan berarti kebebasan itu tanpa kontrol. Walaupun mendapat kebebasan untuk kuliah secara online, pihak universitas tetap memberikan batas waktu ataudateline pengumpulan tugas.

Tak hanya pengumpulan tugas yang diberikan batas waktu. Semua pertanyaan mahasiswa kepada dosen pun ada batas waktunya. Misalnya, jika mahasiswa bertanya pada Senin, dosen dapat menjawab satu hingga tujuh hari ke depan.

Pengalaman

Sampai saat ini, Binus University telah berpengalaman selama empat tahun menggelar program online, yaitu Binus Online Learning untuk program S-1. Adapun untuk program master atau S-2 berbasis teknologi, binus mempeloporinya dengan menawarkan metode MM Online.

“Sehingga dalam membangun sistem online di MM Online ini Binus tidak perlu lagi melewati proses yang berliku,” ujar Hanafi.

Secara teknis, jumlah mahasiswa dibatasi menjadi 25 mahasiswa tiap kelasnya. Padahal, sistem perkuliahan online bisa mencapai kapasitas hingga ratusan mahasiswa. Namun, karena alasan efektifitas belajar mengajar dan sebagai kampus yang memiliki Akreditasi A, seorang dosen di Binus tidak boleh mengajar lebih dari 25 mahasiswa tiap kelasnya.

“Karena berbasis teknologi dan internet, teknik atau metode pembelajaran yang kami terapkan tidak lagi utuh dengan tatap muka setiap hari di kelas, melainkan melalui video conference,diskusi kelompok (via chatting), dan sebagainya menggunakan perangkat teknologi dan internet,” papar Hanafi.

Namun, lanjut Hanafi, kegiatan tatap muka tetap dilaksanakan. Paling tidak, kata dia, kegiatan tatap muka di kelas dilaksanakan selama dua kali, yaitu di awal dan akhir semester. Kegiatan tatap muka pertama dilaksanakan saat perkenalan antar mahasiswa dengan sang dosen.

“Di pertemuan pertama itu itu akan dijelaskan mengenai peraturan-peraturan yang berlaku selama perkuliahan dan penjelasan terkait perkuliahan berbasis online,” kata Hanafi.

Setiap minggunya, para mahasiswa juga mendapatkan materi mata kuliah lewat powerpointsatau slide presentations yang dilengkapi dengan suara (voice) sang dosen. Mahasiswa dapat belajar dan me-review pencapaian pembelajarannya kapan pun ia inginkan.

“Setelah mendengarkan review dan presentasi, mahasiswa berkewajiban mengisi top up quizterkait materi yang telah dipelajari sebelumnya. Materi dapat dilanjutkan kalau seluruh pertanyaan dalam quiz itu dapat dijawab dengan benar,” ujar Hanafi.

Di hari berikutnya, dosen bersama mahasiswa belajar melalui alternatif lain, dengan forumchatting dan blog. Alternatif belajar ini menjadi sarana mahasiswa untuk memberikan pendapat berdasarkan pertanyaan yang diajukan oleh dosen maupun sebaliknya. Dalam satu sesi ini, dimana satu mata kuliah dipelajari selama tiga bulan, akan ada satu kali dalam tiga bulan, metode pembelajaran melalui video conference.

Hanafi menjelaskan, video tersebut merupakan video belajar antarmahasiswa dengan dosen. Metode perkuliahan ini dapat berupa presentasi tugas, diskusi langsung, maupun kuliah dari dosen tamu.

“Di akhir perkuliahan tetap akan ada kegiatan temu muka dengan pelaksanaan ujian akhir. Hal ini untuk menanggulangi upaya kecurangan, misalnya saja jangan sampai sekretarisnya yang mengerjakan ujian, karena online dan tidak ada yang mengawasi,” kata Hanafi.

Untuk Anda semua yang berminat mengikuti perkuliahan BINUS MM Online, pendaftaran perkuliahan sudah ditutup pada 2 Oktober 2013 lalu. Pada Desember ini, program MM online baru akan diujicobakan kepada mahasiswa dan mulai aktif pada Februari 2014 mendatang.

Berita Terkini

“Blended Learning”, ketika Belajar Bahasa Tak Cukup dengan Tatap Muka

1600541shutterstock-158275679780x390JAKARTA, KOMPAS.com – Seiring perkembangan teknologi informasi, pembelajaran bahasa Inggris tak lagi hanya menerapkan sistem tatap muka. Sistem blended learning menjadi jawaban mempelajari bahasa Inggris sesuai kebutuhan saat ini.

“Ini (blended learning) pendekatan yang simpel untuk mengintegrasikan cara pembelajaran tradisonal tatap muka dan jarak jauh dengan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang digunakan oleh guru dan siswa. Pembelajaran pun lebih komunikatif,” kata Jenny Lee, Chief Operating Officer PT Direct Language Solution (DLS), di Jakarta, Kamis (12/12/2013).

Jenny mengatakan, saat ini pihaknya tengah memfasilitasi kebutuhan tersebut. Seluas 300 meter persegi, Direct English menerapkan pembelajaran berbasis Blended Learning, yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka, kelas jauh, internet, serta sumber-sumber yang bersifat offline dan online.

Dengan cara tersebut, lanjut Lee, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi. Para siswa juga tidak hanya akan belajar bahasa Inggris, namun diarahkan membuka interaksi dan mengikuti aktivitas sosial untuk memungkinkan mereka menerapkan ilmu yang didapatnya dalam kehidupan sehari-hari.

“Di sini siswa sendiri menentukan kapan ‘kelulusan’ program yang diikutinya. Kami ajarkan mereka kedewasaan yang bertanggung jawab. Mereka dituntut punya komitmen, namun tetap kami pantau,” ujar Jenny, yang juga selaku COO PT Impact Teaching Center (ITC), didampingi Matthew Brown, New Business Manager untuk Linguaphone Group.

Dia menambahkan, pihaknya menargetkan usia muda dan dewasa menjadi siswa pelatihan bahasa Inggris di bawah naungan Linguaphone Group ini. Usia dewasa yang dimaksud di sini adalah mereka yang berusia lanjut atau mereka yang tergabung dalam suatu komunitas.

“Sekarang ini trennya berbeda. Para kakek dan nenek juga ingin mengimbangi kemampuan berbahasa Inggris para cucunya. Sekarang itu belajar bahasa Inggris mulai diperkenalkan di usia pre school, bahkan sejak usia bayi. Nah, kakek-nenek zaman sekarang juga tidak mau kalah,” ujarnya.

Berita Terkini

Aceh Selatan Singkirkan Juara Bertahan

TAPAKTUAN – Tuan rumah Aceh Selatan mencatat hasil mengesankan saat menumbangkan juara bertahan Pekan Olahraga Aceh (PORA), Bireuen 1-0 dalam pertarungan Grup J di Lapangan Naga, Tapaktuan, sore kemarin. Sebagaimana diketahui, Kota Juang Bireuen merupakan juara bertahan PORA (dulu bernama Porda) mulai di Takengon 2006, dan Bireuen tahun 2010. Namun, pasukan Munzir harus melupakan impian lolos ke PORA di Aceh Timur. Karena, sebelumnya Bireuen juga takluk di tangan pemain Aceh Utara 0-2.

Jujur saja, tanda-tanda kegagalan anak-anak Bireuen sudah terlihat sejak babak penyisihan grup. Mereka hanya mampu berada di runner-up di bawah Aceh Barat. Bahkan, pada pertandingan pertama, mereka di luar dugaan menyerah dari Gayo Lues 0-1. Beruntung pada perlagaan kedua, Bireuen menang tipis atas Aceh Barat 2-1.

Kekalahan Bireuan tak lepas dari buruknya penampilan mereka. Dalam duel penentuan itu, mereka harus bermain dengan sembilan pemain di mana Mawardinur, dan Riki Mustaqin diusir wasit akibat pelanggaran keras. Praktis, berkurangnya pemain membuat mereka didikte skuadra tuan rumah.

Gol tunggal tuan rumah dihasilkan Edi Saputra pada menit 16. Gol ini berawal dari hasil kerjasama antara Zaimul Isra dengan Firman Mahya. Umpan matang ke depan gawang Bireuen diakhiri oleh hentakan manis Edi Saputra. Skor 1-0 bertahan hingga laga berakhir.

Hasil ini menempatkan Aceh Selatan berada di posisi kedua setelah mengantongi nilai empat. Guna memuluskan jalan menuju PORA tahun depan, Firman Mahya dkk cukup bermain imbang melawan Aceh Utara di pertandingan terakhir, Rabu besok. Hasil imbang akan membuat Banda Aceh akan tersingkir meski menang besar dari Bireuen.

Di partai pertama, Aceh Utara memastikan lolos setelah menumbangkan Banda Aceh 1-0. Gol semata wayang mereka dihasilkan Saifuddin pada menit 80-. Dengan hasil ini, maka Aceh Utara menjadi tim pertama ke PORA Aceh Timur. Kini, peluang Aceh Selatan dan Banda Aceh berada di tangan mereka.

Sekum PSSI Aceh Selatan, H Rustam SE MM mengatakan, bahwa perlagaan hari ini tak ada karena keempat tim istirahat setelah bertanding selama dua hari berturut-turut. Duel akan dilanjutkan Rabu besok dengan dua partai.

“Bagi pencinta si kulit bundar di Aceh Selatan, kami berharap untuk dapat menyaksikan pertandingan terahir. Sebab pertandingan ini akan lebih seru, karena ini merupakan babak penentuan bagi tim tuan rumah Aceh Selatan,” ungkap Rustam yang juga Sekretaris Panitia Pelaksana.(tz)

Berita Terkini

Meningkatkan Mutu Pendidikan

PEMERINTAH Aceh Jaya melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Aceh Jaya mengirimkan  30 kepala sekolah dari semua jenjang untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) peningkatan kompetensi di Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Kemendikbud RI di Karang Anyar, Jawa Tengah, pertengahan November 2013 lalu.

Langkah ini sebagai salah satu dari serangkaian upaya Dinas Pendidikan setempat dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah sekolah di daerah itu setelah sebelumnya mengirimkan 100 orang guru untuk memperdalam ilmu di lembaga Diklat P4TK Kemendikbud di Yogyakarta dan Bandung. Wakil Bupati Aceh Jaya, Tgk Maulidi, menyebutkan, dengan  adanya pengetahun yang tinggi  yang dimiliki oleh para guru,  maka mutu pendidikan siswasiswi pun akan meningkat.

Ia menyebutkan, selain soal pengiriman guru ke luar daerah untuk memperdalam ilmu, Dinas Pendidikan setempat juga mengadakan kegiatan sosialisasi pendidikan inklusif. Sosialisasi ini dinilai penting bagi para kepala  sekolah, selain karena Aceh Jaya  belum memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB) juga karena para kepala sekolah dan guru di wilayah ini belum pernah mendapatkan informasi tentang pendekatan program ini.

“Padahal banyak anak yang masuk kategori luar biasa di sekolah, yang seharusnya mendapatkan  layanan pendidikan inklusif. Hal yang dimaksud disini bukan hanya anak yang memiliki keterbatasan atau hambatan fisik, tapi juga anak yang memiliki tingkat kecerdasan sangat tinggi. Ini perlu penanganan khusus melalui pendidikan inklusif,” ujar Wabup Tgk Maulidi. (*)

Berita Terkini

Pendaftaran SNMPTN Dimulai Januari 2014

1034446SNMPTN780x390

BANDUNG, KOMPAS.com — Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2014 yang merupakan seleksi calon mahasiswa baru tanpa tes tertulis dimulai 6 Januari 2014. Pendaftaran secara online dimulai dengan pengisian pangkalan data sekolah dan siswa dengan masa waktu tiga bulan.

Adapun pendaftaran oleh siswa dilakukan pada 17 Februari-31 Maret. Pengumuman kelulusan pada 27 Mei 2014.

Ketua Umum Pengurus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 Ganjar Kurnia yang juga Rektor Universitas Padjadjaran dalam peluncuran SNMPTN 2013 di Bandung, Rabu (11/12) malam, mengatakan, pendaftaran SNMPTN tidak dikenai biaya sejak tahun lalu.

Kuota yang disediakan untuk mahasiswa baru melalui SNMPTN 150.000 kursi dan setiap PTN atau program studi minimal menyediakan 50 persen daya tampung untuk SNMPTN. Seleksi dilakukan berdasarkan prestasi akademik siswa yang dilihat dari nilai rapor, hasil ujian nasional, dan prestasi lain.

Peluncuran SNMPTN dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. Hadir dalam peluncuran itu Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud Djoko Santoso dan sejumlah rektor perguruan tinggi negeri.

Menurut Ganjar, pendaftaran secara online didukung PT Telkom Indonesia. Adapun untuk siswa di daerah yang sulit mengakses internet akan dibantu PT Pos Indonesia. ”Akses secara gratis disediakan di kantor pos di kecamatan,” kata Ganjar.

Pada penerimaan SNMPTN tahun ini, pemerintah tetap memberikan kesempatan kepada calon mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu dan dari daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Pemerintah menyediakan beasiswa Bidikmisi.

Akhmaloka, Rektor Institut Teknologi Bandung, mengatakan, panitia SNMPTN akan mengusulkan kepada dinas pendidikan/instansi yang berwenang untuk memberikan sanksi pemberhentian kepala sekolah yang curang, misalnya manipulasi nilai.

Selain SNMPTN, ada juga Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) yang berdasar hasil tes/tertulis. Kuotanya minimal 30 persen. Seleksi lainnya adalah seleksi mandiri yang diserahkan kepada setiap PTN dengan kuota maksimal 20 persen dari daya tampung. (ELN)

Berita Terkini

Aceh Juara Umum Kejurnas Anggar

PEANGGAR Aceh foto bersama usai menjadi juara umum dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Anggar Antar-PPLP dan Pelajar Se-Indonesia Tahun 2013 yang berakhir Minggu (8/12), di Gedung Hall Serba Guna Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh. SERAMBI/MUHAMMAD HADI
PEANGGAR Aceh foto bersama usai menjadi juara umum dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Anggar Antar-PPLP dan Pelajar Se-Indonesia Tahun 2013 yang berakhir Minggu (8/12), di Gedung Hall Serba Guna Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh. SERAMBI/MUHAMMAD HADI

BANDA ACEH – Aceh tampil sebagai juara umum usai mengoleksi tiga medali emas, empat perak, dan lima perunggu, dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Anggar Antar-PPLP dan Pelajar Se-Indonesia Tahun 2013. Gelar ini menjadi milik Aceh setelah di hari terakhir berhasil menambah satu emas, satu perak, dan satu perunggu di Gedung Hall Serba Guna Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Minggu (8/12).

Even yang diikuti 12 provinsi ini ditutup oleh anggota DPRA, Jamaluddin T Muku. Sedangkan piala bergilir diserahkan langsung oleh Sekretaris Dispora Aceh, Asnawi yang diterima oleh Manajer Tim Anggar Aceh, Kamaruzzaman.

Tambahan medali emas Aceh di hari terakhir berkat penampilan konsisten Ody Tasmara, Naufal Efendi, Yudi Anggara Putra, dan Fadhil Ramadhan, pada nomor floret putra beregu tingkat SMA. Mereka mampu menaklukkan kuartet peanggar Kalimantan Timur di final dengan skor 45-28. Sebelumnya, atlet Aceh merebut tiket final usai menghentikan Riau dengan skor 45-31. Sedangkan Kaltim menuju final usai mengalahkan Jawa Tengah dengan skor 45-44.

Di nomor sabel putra beregu tingkat SMA, Aceh gagal meraih medali emas. Karena di final, Ferry Ramadhan, Nurul Bakri, M Dhimas Mahendra, dan Ajri El Mubarak, dikalahkan wakil Sumatera Selatan. Aceh lolos ke final usai mengkandaskan Kalimantan Barat dengan skor 45-40. Sedangkan Sumsel melaju ke final setelah membungkam Riau dengan skor 45-41. Tambahan satu medali emas ini membuat Sumsel naik lima tingkat ke posisi kedua menggeser Jawa Timur.

Kuartet peanggar Aceh lainnya, Intan Juwita, Ayu Safitri, Laras, dan Dana Ovinggi, hanya mampu meraih perunggu di nomor degen putri tingkat SMA. Mereka gagal melaju ke final usai ditaklukkan Kalimantan Barat 45-32. Kalbar sendiri kemudian merebut medali emas di nomor ini usai mengatasi Jawa Tengah di final dengan skor 45-39. Jateng lolos ke final usai mengalahkan Sumatera Utara 45-43.

Kabid Olahraga Dispora Aceh, Musri Idris mengatakan, gelar juara ini merupakan suatu kebanggaan bagi Aceh. Karena dalam even itu pihaknya menurunkan 36 atlet yang berasal dari binaan PPLP dan pelajar daerah di Aceh. Para atlet ini ditangani oleh enam pelatih, yaitu Agus Salim (degen putri), M Safrijal (floret putra), Al Hadi (sabel putra), Endang Subarna (floret putri), Ivansyah (sabel putri), dan Dodi Eri Zulmi (degen putra), dengan Manajer Kamaruzzaman. “Kita berharap prestasi ini bisa meningkat dalam kejuaran lain, bahkan hingga ke PON mendatang,” harapnya.(adi)

1 3 4 5 6 7 15
Page 5 of 15