close

Redaksi

Berita Terkini

Lelang Jabatan Kepala Sekolah

1350309IMG-4422780x390Oleh: Retno Listyarti

Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melelang jabatan kepala sekolah mengundang pro dan kontra di kalangan guru dan birokrat pendidikan.

Kecemasan dampak lelang tampaknya menghinggapi para birokrat pendidikan  dan kepala  sekolah yang sedang menjabat. Sebaliknya, optimisme dan harapan baru justru muncul dari sebagian besar guru yang yakin lelang jabatan kepala sekolah akan secara signifikan mendongkrak kualitas pendidikan di DKI Jakarta.  Persoalan pokok berkaitan dengan kepala sekolah selama ini adalah tata cara perekrutan dan pengangkatan  kepala sekolah melalui penunjukan oleh kepala dinas pendidikan.

Kepala sekolah dan pengawas sekolah adalah dua jabatan yang sewarna karena jabatan pengawas selama ini juga didominasi mantan kepala sekolah. Peran kepala sekolah sangat besar, memberi peluang  dan bertindak sebagai penentu  kunci seorang guru meraih jabatan kepala sekolah. Guru kritis yang kerap mengevaluasi kebijakan kepala sekolah dalam mengelola sekolah tertutup peluangnya mendapat rekomendasi untuk menjadi calon kepala sekolah.

Guru kritis versus penurut

Dari beragam pengalaman dapat disimpulkan, guru berkarakter penurut, tidak mempermasalahkan kebijakan kepala sekolah yang cenderung sering melanggar peraturan, akan berpeluang besar dapat rekomendasi sebagai calon kepala sekolah dari kepala sekolah tempat si guru tersebut bertugas. Sebaliknya, guru yang kerap mengkritik kebijakan sekolah dan ketaktransparanan di sekolah tertutup peluangnya dapat rekomendasi.

Selama ini, ada sejumlah masalah dalam jabatan kepala sekolah yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Pertama, tata cara pengangkatan kepala sekolah yang prosedurnya tak melibatkan pihak luar atau lembaga yang diperkirakan independen, semisal dewan pendidikan, dapat ditafsir proses dan hasil perekrutannya tidak lagi didasarkan pada pertimbangan obyektif, tetapi yang dominan adalah pertimbangan subyektif.

Kedua, masalah antre calon kepala sekolah yang terlalu panjang di level kepala SMA. Akibat daftar antre yang terlalu panjang, ada calon yang sudah memasuki masa pensiun tidak kebagian menjadi kepala sekolah. Pertanyaan setiap orang adalah mengapa Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengambil kebijakan mengadakan atau membuat daftar antre yang terlalu panjang? Alhasil, bagaikan antre yang terlalu panjang saat akan memperoleh tiket kereta api, lahirlah calo yang menawarkan kemudahan: Anda tidak perlu antre, tetapi harga tiket agak sedikit mahal. Bahkan ada yang tidak sabar antre mencari calo tiket lain walau harganya sangat mahal.

Informasi yang dihimpun Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) menyebutkan, lama antre bagi calon kepala sekolah di DKI Jakarta 2 tahun hingga 10 tahun. Di SMA Negeri 50, misalnya, hingga pensiun sang calon tak kebagian menjadi kepala sekolah. Di SMA Negeri 5, calon kepala sekolah yang antre harus menanti menjadi kepala sekolah selama delapan tahun. Sementara di SMA Negeri 59, akibat kelamaan waktu antre, tugas menjadi kepala sekolah hanya dijalani tiga tahun langsung pensiun.

Padahal, sesuai Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010, Pasal 3 Ayat (2), waktu antre yang dimulai dari tahap persiapan sampai pengangkatan dan penempatan calon menjadi kepala sekolah hitungan waktunya selama dua tahun.  Daftar antrean calon kepala sekolah menjadi kepala sekolah melebihi waktu dua tahun merupakan bentuk pelanggaran hukum. Selain itu, juga berdampak psikologis yang menekan calon kepala sekolah antrean. Selama ini kuat dugaan, untuk jadi kepala sekolah kuncinya adalah ada yang membawa dan harus ada yang dibawa.

Ketiga, masalah kepala sekolah yang diparkir, yakni kepala sekolah yang sudah menjalani tugas selama dua periode (delapan tahun). Mereka ini masuk dalam daftar parkir untuk menjadi kepala sekolah pada periode ketiga, dengan waktu parkir 6 bulan-24 bulan. Kepala sekolah yang diparkir ini menimbulkan beban psikologis dan dapat memperkecil peluang calon kepala sekolah antre untuk menjadi kepala sekolah. Contoh kasus, mantan Kepala SMA Negeri 13, Jakarta Utara, yang diparkir tiga bulan kemudian diangkat lagi menjadi kepala sekolah di SMA Negeri 111 Jakarta Utara. Padahal, yang bersangkutan tak punya prestasi menonjol saat memimpin sekolah sebelumnya.

Sekolah unggul vs reguler

Keempat, masalah penempatan kepala sekolah. Publik tak tahu dasar dan kriteria seorang calon kepala sekolah ditempatkan di suatu sekolah, Akhirnya setiap orang berpikir jika ditempatkan menjadi kepala sekolah di sekolah yang unggul (favorit), kemungkinan calon kepala sekolah berkompetensi tinggi. Dugaan yang mendekati kepastian, semakin besar kompetensi yang dimiliki seorang calon, ia akan dihadiahi bertugas jadi kepala sekolah di sekolah unggulan.

Seharusnya, yang jadi harapan publik adalah semakin rendah tipe sekolah, semakin membutuhkan calon yang berkompetensi tinggi. Dengan begitu, barulah dapat terjadi perubahan di suatu sekolah, yaitu terangkatnya tipe sekolah dari semula bertipe reguler jadi sekolah bertipe unggul. Kalau calon kepala sekolah berkompetensi tinggi ditempatkan di sekolah unggulan, keadaan seperti ini membuat kepala sekolah tak kreatif karena tidak ada tantangan. Tanpa kerja keras pun ia akan  diuntungkan karena kondisi sekolah yang sudah sempurna

Kelima, masalah mutasi kepala sekolah. Dinas Pendidikan DKI Jakarta diduga tidak memiliki dasar, kriteria, dan peta acuan memutasi kepala sekolah. Sebagai contoh Kepala SMA Negeri 100 didesak dimutasi, padahal sisa waktu berdinas tinggal setahun karena memasuki usia pensiun. Sementara Kepala SMA Negeri 113 dipindahtugaskan ke SMA Negeri 100 walau sisa waktu berdinas tinggal satu tahun lagi karena juga memasuki usia pensiun. Pertimbangan mutasi seperti ini sungguh tidak mempertimbangkan efektivitas serta hasil pencampaian program pengelolaan sekolah.

Lelang jabatan kepala sekolah adalah salah satu langkah Pemprov DKI Jakarta mengatasi kelima permasalahan tersebut. Lelang mendesak dilakukan karena hendak mendongkrak kualitas pendidikan di DKI Jakarta langsung ke akar masalahnya.

Kualitas kepala sekolah sangat menentukan kemajuan suatu sekolah mengingat salah satu fungsi kepala sekolah adalah  penjaga mutu. Melalui lelang jabatan ini, diharapkan DKI Jakarta dapat kepala-kepala sekolah berkualitas guna mendorong peningkatan kualitas sekolah di DKI Jakarta.

Berita Terkini

Pendidikan Sains yang Kreatif Menyenangkan Anak

1400205sains780x390JAKARTA, KOMPAS.com — Pendidikan sains yang kreatif ternyata sangat menyenangkan siswa. Hal itu, antara lain, terlihat pada pameran sains yang merupakan salah satu rangkaian Indonesia Science Festival 2013 yang berlangsung pada 2-5 Desember di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta.

Siswa dan guru SD adu kreatif untuk membuat media belajar serta eksperimen sains dan matematika yang bernuansa pendidikan sekaligus menghibur.

Permainan ular tangga yang sudah dikenal luas, misalnya, bisa dimodifikasi untuk pembelajaran Matematika. M Fais Habiburohman, siswa kelas III SDN Cipete XI, Jakarta, bersama Rifa Aulia mengkreasikan permainan ular tangga untuk pembelajaran perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan, yang diberi judul Sepak Bola Matematika dan Ular Tangga Matematika.

”Fais tadinya takut sama Matematika. Bahkan, dia sering tidak masuk kalau pelajaran Matematika. Lalu, dia suka membuat permainan Matematika di kertas, seperti ular tangga. Sekarang dia malah asyik belajar Matematika,” kata Agustina, guru SDN Cipete XI, Jakarta.

Permainan ular tangga untuk belajar operasi hitungan bilangan bulat juga jadi kegemaran siswa SDN Gandaria Utara 08 Pagi, Jakarta. Berbagai persoalan sains dan matematika menjadi menyenangkan dengan permainan ini.

Sementara itu, siswa SD Madina Islamic School Jakarta menggabungkan pembelajaran sains dan seni. Siswa diajak menemukan pewarna alami dengan memanfaatkan tanaman di sekitar untuk dipakai saat membatik. Siswa pun menemukan pewarna alami untuk warna kuning dari kunyit, warna merah dari buah bit, warna hijau dari daun cincau, dan warna coklat dari kulit jengkol.

Selain menghadirkan pameran sains, Indonesia Science Festival ke-10 ini juga diisi lomba karya kreativitas sains siswa bidang IPA dan Matematika yang diikuti 100 finalis.

Ibrahim Bafadal, Direktur Pembinaan SD Kemdikbud, mengatakan, ada 499 naskah yang masuk dari 23 provinsi untuk lomba yang diikuti siswa dan guru.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan, naskah yang masuk masih sedikit. Padahal, jumlah siswa dan guru SD di Indonesia mencapai puluhan juta orang. (ELN)

Berita Terkini

Politeknik Aceh Wisuda 152 Lulusan D-III

BANDA ACEH – Politeknik Aceh mewisuda 152 lulusan D-III angkatan ke-3 di Hall kampus setempat, Sabtu (7/12). Dalam wisuda yang dihadiri unsur pemerintahan dan industri ini, Politeknik Aceh meluluskan 19 orang dengan predikat cumlaude.

Kepala Unit Pengembangan Bisnis Politeknik Aceh, Fakhruddin SST kepada Serambi meyebutkan, para wisudawan berasal dari program Teknik Elektronika Industri, Informatika, Mekatronika, dan Akuntansi. “Sebagian lulusan tidak dapat mengikuti wisuda karena sedang bekerja di berbagai industri di luar Aceh, dan ada juga yang sedang melanjutkan D-IV di Malang dan Surabaya,” ujarnya.

Sementara lulusan yang diwisuda, menurut Fakhruddin, tidak hanya berasal dari Aceh. Namun juga berasal dari Sumatera Utara dan pulau Jawa. “Hingga angkatan ke-3 ini telah ada 452 mahasiswa yang diluluskan,” demikian sebutnya.(hs)

Berita Terkini

Antusiasnya Murid SD Amerika terhadap Aceh

shafa-sharvina2

SHAFA SHARVINA, siswi Pesantren Darul Ulum Banda Aceh, sedang mengikuti Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya di Amerika Serikat, melaporkan dari Ohio
 
BARU-BARU ini saya datangi Dellroy Elementary School, sebuah sekolah dasar (SD) yang terletak tak jauh dari rumah host family (keluarga angkat), tempat saya bernaung selama beberapa bulan ini di Ohio, Amerika Serikat (AS).

Kedatangan saya dan seorang teman dari Thailand yang juga siswa pertukaran pelajar ke SD itu bukan tanpa alasan. Kami diundang oleh salah guru yang kebetulan merupakan guru kelas adik angkat saya. Ini pun berawal ketika adik angkat saya itu menceritakan tentang ia yang sekarang memiliki dua orang kakak dari negara lain. Caranya bercerita yang sangat antusias membuat gurunya tertarik dan akhirnya mengundang kami untuk mendatangi kelas dan mempresentasikan sesuatu tentang negara kami masing-masing.

Kebetulan sekali, kami diundang tepat pada salah satu hari di International Education Week. Di minggu itu hampir seluruh siswa pertukaran yang sedang berada di seluruh penjuru dunia memang harus menyampaikan sekurang-kurangnya satu presentasi di sekolah-sekolah, baik itu sekolah dasar atau menengah.

Kesempatan ini saya gunakan sebaik mungkin. Mempresentasikan Indonesia dan Aceh kepada murid kelas 3 SD yang masih sangat belia, masih punya banyak kesempatan untuk menggapai cita-cita. Siapa tahu di antara mereka ada yang nantinya menjadi siswa pertukaran ke Indonesia atau mungkin Aceh? Terlebih mengingat saya mungkin adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang pernah mereka temui. Setidaknya saya sudah ikut serta membuka mata mereka pada dunia luar yang tak pernah mereka jamah, jauh dari jangkauan yang mungkin saja orang tua mereka juga tak tahu di mana letaknya Indonesia (seperti sebagian orang Amerika lainnya). Dengan begitu mereka bisa menceritakan apa yang saya sampaikan kepada orang-orang lain, sehingga Indonesia dikenal dunia. Oleh karena itu, saya coba persiapkan semuanya matang-matang. Mulai dari bahan presentasi, bendera Indonesia, baju adat Aceh, uang seribuan, gantungan kunci bertuliskan ACEH, dan tentu saja mental. Saya harus benar-benar siap menghadapi berbagai pertanyaan dari anak-anak itu.

Sebelum saya presentasi, teman saya yang berasal dari Thailand inilah yang presentasi lebih dulu. Anak-anak itu terlihat sangat antusias, apalagi ketika teman saya ini menuliskan namanya dalam bahasa Thailand. Ketika tiba giliran saya, saya pun berusaha membuat anak-anak itu tetap antusias. Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah, “Apakah kamu harus selalu memakai itu?” sambil mereka menunjuk jilbab saya. Sambil tersenyum dan sangat hati-hati, saya jelaskan bahwa ini adalah kewajiban agama saya. Mereka pun akhirnya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Yang paling membuat mereka antusias adalah ketika saya keluarkan pakaian adat Aceh yang saya bawa jauh-jauh dari tanah kelahiran, merelakan koper saya tersita tempatnya untuk sepasang pakaian yang agak tebal lengkap dengan aksesorinya. Dengan warna yang agak mencolok dan disukai anak-anak, banyak sekali yang mengacungkan tangan ketika saya tanyakan siapa yang mau mencobanya. Mereka rela berbaris untuk sekadar mencoba pakaian itu, sambil tak henti-henti mengatakan bahwa pakaian itu sangat bagus.

Tak hanya itu, di akhir presentasi saya berikan mereka kenang-kenangan. Mereka semua duduk rapi dengan raut wajah tak sabar. Sebelum membagikannya, saya ucapkan banyak terima kasih karena mereka telah mendengarkan presentasi saya dengan sangat antusias. Lalu saya kelilingi kelas sambil membagikan uang Rp 1.000 dan gantungan kunci bertuliskan ACEH kepada setiap anak. Melihat nominal 1.000, mata mereka berbinar, seolah yang ada di tangan mereka adalah $1.000. Akhirnya banyak yang datang kepada saya sambil bertanya, “Apakah ayahmu seorang yang kaya raya? Tentu iya. Kalau tidak, mana mungkin kamu bisa membagikan uang sebanyak ini kepada kami?”

Sambil menahan tawa saya jelaskan bahwa uang sebanyak itu tidak cukup berarti bagi mereka, kecuali beberapa buah permen. Banyak juga yang mendatangi saya dan bertanya bagaimana cara melafalkan kata ACEH yang ada di gantungan kunci yang saya bagikan.

Sebagai kenang-kenangan lain, saya tuliskan nama mereka di kartu kecil dalam tulisan Arab Melayu. Ini karena baik bahasa Indonesia maupun bahasa Aceh tak punya huruf khusus yang berbeda dari bahasa Inggris. Sebagai bagian dari anak pesantren yang tahu sedikit bahasa Arab, akhirnya tulisan Arab yang jadi andalan saya. Yang pasti, hari itu akan menjadi hari yang tak terlupakan baik bagi saya maupun mereka. [email penulis: shafvina@yahoo.com]

Berita Terkini

SDN 67 Sosialisasikan Adiwiyata Mandiri

BANDA ACEH – SDN 67 Percontohan Banda Aceh sebagai satu-satunya sekolah pemegang Piala Adiwiyata di Banda Aceh, Sabtu (7/12), menyosialisasikan tentang penghargaan itu kepada 10 sekolah lain calon penerima Adiwiyata. Acara sehari itu dibuka Kepala Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota (DK3) Banda Aceh, Ir Jalaluddin MT.

Jalaluddin mewakili Wakil Wali Kota mengatakan pihaknya siap mendukung pengembangan sekolah hijau di Banda Aceh. “Kami siap membantu sejumlah pohon penghijauan untuk sekolah,” katanya dalam pertemuan yang dihadiri 10 kepala sekolah dan 20 guru.

Pembukaan sosialisasi sekolah menuju Adiwiyata Mandiri itu juga dihadiri Sekretaris Disdikpora Banda Aceh, Drs T Angkasa, Kabid Dikdas Sabri TS, dan Kasi Kurikulum Dikdas Marwan SAg. Piala Adiwiyata ini sendiri diberikan kepada sekolah yang berwawasan lingkungan.

Ketua Pelaksanaan Adiwiyata SD Percontohan, Caswo SPd mengatakan, untuk sosialiasi ini melibatkan dua instruktur masing-masing Muhammad dan Husni Suardi, serta Kepala SDN 67 Percontohan, Deni Hayati, yang menjelaskan tentang kebijakan.(sir)

 

Berita Terkini

Oknum Guru MIN Diadukan ke Kankemenag

* Dituduh pukul murid

SIGLI – Kasus pemukulan murid oleh oknum guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kampong Asan, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, telah dilaporkan ke Kankemenag setempat. Kasus itu dijadwalkan akan diselesaikan besok, Senin (9/12).

Menurut keteragann kepala MIN Kampong Asan, Drs Arbi, yang dihubungi Serambi kemarin menyebutkan, kasus dugaan pemukulan murid oknum guru di madrasah yang dipimpinannya itu telah disampaikan ke Kankemenag Pidie. Dijelaskan Arbi, peristiwa itu terjadi saat Bad seorang guru di madrasah itu menanyakan pada murid yang berada dalam kelas kelas V yang kebetulan saat itu belum ada guru yang masuk ke ruang tersebut. Sehingga proses belajar mengajar di kelas V belum berlangsung. Tiba-tiba masuk Bad ke ruang tersebut. Lalu, menanyakan kepada murid pelajaran apa hari ini. Kebetulan, sebagian murid menjawab pelajaran Penjaskes dan sebagian lagi menyebukan Quran Hadis.

Murid yang menjawab Panjaskes termasuk Islami Sadakta putri dari Fauzi dipanggil ke depan. Masih menurut keterangan Arbi, saat itu Bad menarik jilbab murid itu dan guru tersebut membantah memukul murid.

Kata Arbi, tindakan yang dilakukan oknum guru kemungkinan ada kaitannya dengan riwayat penyakit bahwa oknum guru itu menderita darah tinggi. “Kasus itu baru satu kali terjadi di MIN Kampong Asan. Saya juga telah menasehati Pak Bad, bahwa sekarang guru dilarang berbuat kekerasan pada murid,” katanya.

Sementara menurut Fauzi orang tua murid tersebut mengaku sangat kecewa terhadap prilaku oknum guru MIN Kampong Asan yang memukul anaknya. Katanta Fauzi, oknum guru itu merasa tersinggung dengan jawaban murid itu. Sehingga tak mampu membendung emosi dan memukul murid, sehingga murid kelas V MIN tersebut menangis. Seharusnya, tambah Fauzi jika ada masalah di rumah, guru tidak membawa ke sekolah, sehingga murid tidak menjadi korban. “Kami berharap kasus pemukulan terhadap murid tidak terjadi lagi. Kantor Kemenag Pidie harus memeberikan teguran dan mengevaluasi terhadap oknum guru tersebut,” pinta Fauzi.(naz)

Berita Terkini

Kebijakan Tak Boleh Tinggal Kelas Masih Bingungkan Guru

1404276780x390SURABAYA, KOMPAS.com — Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang tak membolehkan siswa sekolah dasar tinggal kelas bertujuan baik agar siswa bisa berkembang sesuai dengan potensinya. Namun, kebijakan ini bisa menjadi tidak efektif jika tidak disertai perubahan metode belajar di kalangan guru.

Sejumlah guru juga masih kebingungan dengan kebijakan tersebut. ”Terus bagaimana jika siswa kelas I SD belum bisa membaca dan menulis, apakah harus naik kelas juga?” kata Sutini, Kepala SDN Suwanggaling IV Kota Surabaya, Senin (2/12/2013). Ia dimintai tanggapannya soal kebijakan baru Kemendikbud yang tidak membolehkan siswa SD tinggal kelas. Pemerintah juga menghapus kebijakan ujian nasional di sekolah dasar.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Ramon Mahondas mengatakan, penghapusan siswa tinggal kelas untuk memotivasi siswa meningkatkan potensinya. Karena itu, guru di 150.000 sekolah dasar akan segera diberikan pelatihan.

Murid yang belum memahami pelajaran tetap boleh naik kelas, tetapi harus mengulang pelajaran yang belum dikuasai. Bentuk penilaian rapor SD juga berubah, tidak lagi berisi angka-angka, tetapi berbentuk deskriptif untuk menilai sikap, keterampilan, dan pengetahuan. ”Penilaian di SD tidak ada angka, tetapi narasi,” ujarnya.

Kebijakan ini sebenarnya sudah diterapkan di negara-negara maju. Meski demikian, kebijakan ini menuntut guru memahami secara mendalam karakter dan potensi siswa.

Sulitkan anak

Menurut Sutini, jika anak dipaksakan naik kelas, justru akan menyulitkan anak karena materi pelajarannya lebih sulit. ”Guru yang melakukan evaluasi tentu lebih tahu kondisi setiap anak,” kata Sutini.

Hal yang sama dikatakan Wakil Kepala SD Katolik Santa Maria Kota Surabaya Christina Purtiwi. Menurut dia, naik tidaknya murid adalah otonomi sekolah yang disepakati dalam rapat dewan guru. ”Kami tidak akan paksakan anak naik kelas kalau kemampuannya belum memadai. Kepada orangtuanya pun kami jelaskan,” kata Christina.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SDK Santo Carolus, Surabaya, Florentinus Lusiyanto menyatakan kurang setuju jika sistem tinggal kelas ditiadakan.

”Jadi, apa gunanya mengukur keberhasilan siswa kalau pada akhirnya akan naik kelas semua?” kata Florentinus.

Sulit terukur

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Dimyati juga masih belum memahami kebijakan pemerintah yang tidak membolehkan siswa SD tinggal kelas. ”Prestasi siswa akan sulit terukur,” ujarnya.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Wijanarto justru memiliki pendapat berbeda. Menurut dia, sistem itu mendorong guru untuk lebih intensif memperhatikan siswa. Meski demikian, komposisi guru dan siswa harus dipertimbangkan. Jika menerapkan sistem itu, idealnya guru mengawasi maksimal 20 anak, sedangkan saat ini banyak guru yang mengajar 40 siswa.

Berita Terkini

Rakyat Indonesia Berutang Banyak pada Guru….

1130391IMG-9007780x390JAKARTA, KOMPAS.com – Guru adalah sebuah pekerjaan yang menuntut profesionalisme. Guru adalah sumber inspirasi yang memacu perkembangan muridnya menjadi orang mandiri.

Guru pula sosok yang berada di garis paling untuk membentuk Generasi Emas Indonesia. Pada intinya, seluruh masyarakat Indonesia berutang banyak pada guru.

Demikian diungkapkan Board of Trustee Tanoto Foundation, Anderson Tanoto, terkait digelarnya kegiatan Gerakan Guru Indonesia Kreatif memeriahkan Hari Guru Nasional di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Dilaksanakan pada 25 November 2013 lalu, Tanoto Foundation menggelar acara tersebut dengan beragam kegiatan meliputi lomba mewarnai, lomba cerita rakyat, lomba peta buta, lomba stan terbaik, serta lomba pentas seni dan kreativitas guru dan siswa.

“Guru di Indonesia sangat penting di komponen negeri ini. Tidak hanya 3–5 tahun, tetapi juga seluruh masa depan di Indonesia tergantung pada kualitas guru,” kata Anderson kepadaKompas.com, Senin (2/12/2013).

Anderson menuturkan tentang pentingnya peran guru. Ia percaya, bahwa pendidikan adalah kunci menuju penanggulangan kemiskinan antargenerasi. Untuk itulah, pihaknya menggelar kegiatan ini sebagai salah satu bentuk kontribusi meningkatkan kualitas guru.

Sebagai hasil kerja sama antara Tanoto Foundation dan Asian Agri dan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), puncak acara Gerakan Guru Indonesia Kreatif ini adalah pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) untuk pembuatan alat peraga pembelajaran terbanyak, yaitu sekitar 9.778 alat peraga terbuat dari sedotan oleh 1.569 guru dalam waktu 30 menit. Pemecahan rekor ini telah dilaksanakan Minggu (24/11/2013) lalu, dihadiri oleh Head of Tanoto Foundation Sihol Aritonang, Sekretaris Unit Implementasi Kurikulum Pusat Kemendikbud Efriyanto, dan Kapolda Riau Brigjen Condro Kirono.

Head of Tanoto Foundation Sihol Aritonang mengatakan, Tanoto Foundation telah menyelenggarakan program Pelita Pendidikan di tiga provinsi di Sumatera, yaitu di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara sejak 2010. Program Pelita Pendidikan ini berupa program peningkatan kualitas pendidikan pada sekolah dasar di wilayah pedesaan. Di antaranya adalah program Pelita Sekolah Asri (Aman, Sehat, dan Ramah Lingkungan), Pelita Pustaka Lestari, Pelita Guru Mandiri, Pelita Sekolah Unggulan, 3E (Education, Enhancement, dan Empowerment), dan Forum Pelita. Realisasinya antara lain pembinaan 210 sekolah dasar, renovasi 94 ruang kelas, pembangunan 110 toilet di SD, dan melatih 2.500 guru SD.

Kepala Pengelola Perpustakaan SD Sering Barat, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Nur Hamimah, mengatakan SD Sering Barat merupakan salah satu sekolah dasar yang mendapatkan pelatihan pengelolaan yang ditujukan untuk para guru. Para guru diminta lebih kreatif dalam mendorong minat baca siswa agar mau membaca buku-buku di perpustakaan.

“Kami sangat berterima kasih. Berkat pelatihan kepustakaan dari Tanoto Foundation, perpustakaan kami menjadi lebih ramai. Banyak anak-anak yang membaca di perpustakaan dan mereka menjadi lebih termotivasi untuk membaca di perpustakaan karena kami berusaha menarik minat mereka dengan kegiatan kreatif setelah mendapatkan pelatihan,” ungkap Nur.

Selain itu, Tanoto Foundation memberikan bantuan berupa pengadaan buku-buku perpustakaan yang diputar atau ditukarkan ke sejumlah sekolah setiap tiga bulan sekali.

“Pemerintah daerah memang telah mengalokasikan dana cukup besar untuk pengembangan pendidikan. Tapi, pengembangan pendidikan dan peningkatan kualitas guru ini semestinya memadukan visi antara pemerintah dan swasta agar berjalan lebih baik,” timpal Bupati Pelalawan HM Harris.

Berita Terkini

Tidak Ada Lagi Siswa Tinggal Kelas di SD

1112197-sem-ujian-nasional-780x390JAKARTA, KOMPAS.com — Ujian nasional untuk sekolah dasar, sekolah dasar luar biasa, dan madrasah ibtidaiyah mulai tahun 2014 dihapuskan. Selain itu, mulai tahun depan juga, tidak ada lagi murid sekolah dasar yang tinggal kelas.

Murid yang belum memahami atau menguasai pelajaran tetap boleh naik kelas, tetapi harus mengulang pelajaran yang belum dikuasainya. Bentuk penilaian rapor sekolah dasar juga berubah, tidak lagi berisi angka-angka, tetapi berbentuk deskripsi untuk menilai sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa peserta didik.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Ramon Mohandas mengatakan hal itu sebelum Rapat Koordinasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 dan Ujian Nasional 2014, Minggu (1/12) malam, di Jakarta. ”Penilaian di SD tidak ada angka, tetapi narasi,” katanya.

Untuk memperkenalkan sistem yang baru, kata Ramon, telah dilakukan pelatihan untuk guru pendamping yang turun ke lapangan. Mereka telah dijelaskan bentuk rapor, cara penilaian, dan pemberian angka. Pelatihan tahun depan mencakup 150.000 sekolah dasar, lebih besar dibandingkan tahun ini yang hanya mencakup 6.000 sekolah dasar.

Kepala Unit Implementasi Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tjipto Sumadi menambahkan, penilaian narasi dalam rapor harus menggunakan bahasa positif karena usia anak yang masih dalam batasan usia emas. Penilaian narasi juga harus bisa memotivasi anak untuk meningkatkan kemampuannya. ”Selama ini jika anak diberi nilai lima atau nilai merah, justru kurang baik dari sisi psikologis anak,” kata Tjipto.

Siapkan kisi-kisi

Meski ujian akhir diserahkan ke sekolah, kata Ramon, pemerintah tetap membuat kisi-kisi soal yang diserahkan ke sekolah agar ada standar kualitas soal. Kisi-kisi soal itu terdiri dari 25 persen dibuat pemerintah dan 75 persen dari satuan pendidikan yang berkoordinasi dengan kabupaten/kota serta provinsi.

”Keterlibatan pemerintah dalam membuat kisi-kisi soal jangan dianggap sebagai intervensi pemerintah. Semata-mata hanya agar ada standar kualitas soal, memudahkan sekolah sekaligus meningkatkan mutu sekolah secara bertahap,” kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Dadang Sudiyarto.

Kisi-kisi soal itu sesuai dengan mata pelajaran yang akan diujikan, yaitu di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah meliputi mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA. Adapun untuk sekolah dasar luar biasa (SDLB), mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika, Bahasa Indonesia, IPS, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Ujian sekolah untuk SD/SDLB/MI/Paket A/Ula akan diselenggarakan serentak pada 19-21 Mei.

Tahun lalu ujian nasional sekolah dasar dan sederajat diikuti 4,25 juta siswa di 148.361 sekolah.

Ujian nasional

Ujian nasional untuk SMP dan SMA sederajat masih akan tetap diselenggarakan. Sekretaris Jenderal Kemdikbud Ainun Na’im menjelaskan, ujian nasional tahun depan untuk SMA/MA/SMK sederajat, termasuk Paket C dan Paket C Kejuruan, dilaksanakan 14-16 April 2014. Sementara itu, UN susulan SMA/SMK sederajat pada 22, 23, dan 24 April 2014.

Adapun ujian nasional untuk SMP/MTs/sederajat termasuk SMPLN/Paket B/Usto (sekolah tingkat SMP nonformal di Kemenag) akan diselenggarakan pada 5-8 Mei. Sementara itu, UN susulan bagi SMP sederajat akan diselenggarakan pada 12, 13, 14, dan 16 Mei 2014. ”Nilai kelulusannya tetap minimal 5,5,” kata Ainun Na’im.

Ahli evaluasi pendidikan Elin Driana mengatakan, ujian nasional untuk semua jenjang pendidikan idealnya dihapus. Kalaupun sekarang masih diselenggarakan ujian nasional untuk SMP dan SMA sederajat, mestinya komposisi kelulusan berdasarkan rapor lebih besar daripada nilai UN. Saat ini untuk kelulusan siswa, komposisi nilai rapor 40 persen, sedangkan ujian nasional 60 persen.

”Sebab, nilai rapor lebih menggambarkan kondisi murid yang sesungguhnya. Guru juga lebih mengetahui kondisi dan kemampuan siswa sehari-hari,” kata Elin. (LUK)

Berita Terkini

250 Siswa Ikut Festival Film Sains

BANDA ACEH – Sebanyak 250 pelajar SD, SMP dan SMA serta perwakilan guru mengikuti Festival Film Sains 2013 yang diselenggarakan Earth Hour Aceh, WWF Indonesia dan Goethe Institut di Balai Kota Banda Aceh, Sabtu (30/11). Festival ini dibuka Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.

Dalam sambutannya, Illiza mengatakan, Pemko Banda Aceh menyambut baik penyelenggaraan festival film ini, dimana tahun ini Banda Aceh dipilih bersama 19 kota lainnya di Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan ini. “Kita harapkan film yang ditayangkan dapat meneruskan pesan-pesan untuk mengajak banyak orang paham tentang pentingnya mewujudkan energi keberlanjutan,” kata Illiza.

Menurutnya, Pemko bersama Earth Hour Aceh sejak 2012 lalu telah bersama-sama membuat gerakan efisiensi energi melalui kampanye Earth Hour dimana Pemko Banda Aceh berpartisipasi untuk ikut serta dalam aksi memadamkan lampu selama 1 jam setiap bulan Maret yang serentak dilakukan di kota lainnya. “Aksi padam lampu satu jam hanya awal untuk sebuah komitmen yang kami tunjukkan,” imbuhnya.

Ketua panitia festival film sains, M Syarif Al Hayat kepada Serambi mengatakan, festival film ini menampilkan 11 film dengan berbagai topik tentang energi, iptek, air, dan lingkungan hidup. “Selain menonton film, siswa kami ajak melakukan permainan dengan berbagai eksperimen serta menjawab berbagai kuis yang mengasah pemahaman mereka setelah menonton film,” ujarnya.

Sementara Koordinator Earth Hour Aceh, Chik Rini mengatakan, film-film yang ditayangkan di festival film tersebut mengajak siswa untuk menjelajah teknologi di bidang energi ramah lingkungan. “Kami berharap siswa tertantang untuk mrnciptakan teknologi sederhana bersumber dari energi yang ramah lingkungan seperti memanfaatkan sumber air, udara dan matahari,” kata Chik Rini.

Selain itu menurutnya, siswa diajak untuk lebih hemat memanfaatkan energi seperti listrik yang ada saat ini, karena masih menggunakan sumber dari bahan bakar fosil yang tidak berkelanjutan.(ni)

1 4 5 6 7 8 15
Page 6 of 15