close

fitriadi

Berita Terkini

Lomba Media Pembelajaran Interaktif SMK

Kegiatan ini merupakan ajang bagi guru-guru kejuruan untuk mengembangkan media pembelajaran. Guru-guru kejuruan pada Kompetensi Keahlian yang ditentukan akan mengembangkan media pembelajaran interaktif secara mandiri perorangan sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Selanjutnya media interaktif ini akan dinilai kualitas dan kesesuaiannya dengan pembelajaran yang dimaksud berdasarkan kriteria yang ditentukan juri. Kompetensi Keahlian yang dilombakan adalah sebagai berikut :

  1. Teknik Kendaraan Ringan
  2. Tata Boga / Kuliner / Pastry
  3. Lanskap dan Pertamanan
  4. Teknik Pengelasan
  5. Teknik Komputer dan Jaringan

Surat Pemberitahuan dan Juknis Silahkan Download Disini

 

read more
Berita Terkini

Disdik Aceh Bangun Fasilitas SMAN 3 Kluet Utara

Tapaktuan – Guna menunjang kualitas pendidikan di daerah, Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh terus memperhatikan pembangunan fasilitas SMA Negeri 3 Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan.

Kepala SMA Negeri 3 Kluet, Tarmizi SPd kepada media ini, Sabtu (16/10/21) mengatakan, Disdik Aceh sangat serius memperhatikan pembangunan fasilitas sekolah dengan memberikan sembilan paket bangunan dan fasilitas pembelajaran.

“Sembilan paket bangunan itu berupa ruang Laboratorium Kimia, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), ruang Tata Usaha (TU, ruang Laboratorium Bahasa, ruang laboratorium Biologi dan ruang laboratorium Komputer, kesemuanya lengkap dengan perabotannya,” kata Tarmizi.

Dikatakannya selain bangunan fisik yang sudah dimulai pekerjaannya sejak September bulan kemarin dan rampung pada bulan November mendatang disamping itu jug ada bantuan peralatan TIK, peralatan media pembelajaran dan peralatan kimia.

Kesembilan paket itu baik berupa bangunan fisik maupun peralatan sekolah sangat mendukung untuk pengembangan kualitas pendidikan di SMA 3 Kluet Utara, ucapnya.

Tarmizi menyampaikan saat ini SMA berlokasi di Gampong Tinggi Kecamatan Kluet Utara yang ia pimpin memiliki 128 orang siswa dengan tenaga pengajar sebanyak 14 orang guru PNS dan guru honorer berjumlah 8 orang ditambah pegawai Tata Usaha dengan fasilitas yang diberikan itu sangat membantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

“Perolehan fasilitas sekolah ini diusulkan oleh kepala sekolah ke Disdik Aceh selanjutnya ditender langsung dan prinsipnya siapapun yang mengelola dari rekanan yang telah dipercayakan, Alhamdulillah SMA Negeri 3 Kluet Utara akan memiliki sarana dan prasarana sekolah dan inilah yang sangat penting dan diutamakan,” ujar Alumni Prodi Matematika FKIP-USK ini.

Ucapan terima kasih kepada Disdik Aceh dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Selatan serta komite sekolah yang sangat mendukung dengan memberikan perhatian ke SMA Negeri 3 Kluet Utara harapannya sekolah yang terletak dipedesaan ini mampu bersaing dan bersanding dengan sekolah lainnya, pungkas Tarmizi.

read more
Berita Terkini

Tekad Membangun Pendidikan, Alhudri Kunjungi Sekolah Terpencil Wilayah Utara-Timur Aceh

Idi- Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM bersama jajarannya melakukan perjalanan mengunjungi sekolah yang berada di kawasan pedalaman Aceh, mulai dari wilayah utara hingga perbatasan Sumatera Utara.

Kegiatan yang dilakukan selama empat hari, sejak Kamis, 14 hingga 16 Oktober 2021 dimulai dari SMA Negeri 1 dan 2 Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, SMA Negeri 1 dan 2 Pante Bidari, SMA Negeri 1 Peunaron, SMK Negeri 1 Lokop Serbajadi, serta SMK Negeri 1 Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur.

Perjalanan yang dilakukan Kadisdik Aceh beserta rombongan sangatlah menantang, area jalan yang dilalui untuk mencapai sekolah-sekolah tersebut penuh dengan hambatan dan rintangan. Untuk sampai ke Simpang Jernih, Kadisdik harus menempuh perjalanan melalui Ibu Kota Aceh Tamiang.

Beberapa kali, mobil yang ditumpangi Alhudri beserta jajarannya terperosok dalam rawa penuh lumpur. Saat mengunjungi Pante Bidari misalnya, rombongan bahkan harus mendorong mobil yang ditumpangi karena areal jalan yang sangat berlumpur dan terjal. Namun, tekad yang kuat membangun pendidikan dari pelosok negeri membuatnya begitu bersemangat menempuh medan yang berat tersebut.

Jarak lokasi antara sekolah satu dengan lainnya tidaklah dekat, sehingga butuh waktu tempuh yang tidak sedikit. Kadisdik Aceh berada di sekolah dari sore hingga malam hari agar dapat maksimal bertemu dan berdiskusi dengan warga sekolah.

“Kita kesini tujuannya untuk melihat dan merasakan kondisi pendidikan, terutama tantangan bagi guru dan tenaga kependidikan yang berada di pedalaman. Karena kita harus bersama-sama dalam memajukan pendidikan Aceh,” tutur Alhudri.

Kunjungan ini dilakukan Alhudri merupakan bagian dari bentuk komitmen Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan dalam dalam upaya melakukan pemerataan mutu Pendidikan di Aceh. Ia ingin memastikan program-program pendidikan telah berjalan dengan baik di pelosok Aceh.

Untuk mencapai ke sekolah-sekolah yang ada di pelosok, rombongan Kadisdik harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan kondisi jalan yang terjal, rusak dan berdebu dengan melintasi belantara perkebunan sawit dan hutan.

Kadisdik berharap dengan kedatangan pihaknya dapat memberikan motivasi dan penghargaan secara langsung bagi warga sekolah yang ada di daerah terpencil.

“Ini merupakan upaya mewujudkan cita-cita dan komitmen Pemerintah Aceh dalam membangun pemerataan kualitas pendidikan di Aceh. Sehingga lulusan SMA, SMK dan SLB di pedalaman mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” ungkapnya.

Kehadiran Kadisdik Aceh disambut gembira oleh warga sekolah. Menurut mereka ini merupakan kesempatan yang akan dimanfaatkan untuk menyampaikan keluh kesah yang dirasakan guru dan tenaga pendidikan di daerah terpencil.

“Selama sekolah ini berdiri, kami bersyukur baru kali ini dikunjungi oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh,” kata Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Peunaron.

Hal yang sama diutarakan Camat Serbajadi, Taufik Hidayat, menurutnya kunjungan kadisdik Aceh ke sekolah-sekolah pedalaman merupakan kesempatan bagus bagi pihaknya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat terkait pengelolaan pendidikan di daerah pedalaman.

Sesampai di sekolah tersebut, Alhudri meninjau sarana prasarana sekolah, satu persatu ruangan yang dijadikan untuk proses belajar mengajar dilihatnya. Tak luput, Ia juga menyaksikan kondisi toilet dan kantin siswa. Ia senang melihat perkembangan yang lebih baik di satuan pendidikan.

Tidak lupa, mantan Kepala Dinas Sosial Aceh ini juga mengapresiasi ketekunan dan kegigihan para guru dan tenaga kependidikan yang mengajar di sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman.

“Kami kemari ingin merasakan bagaimana getirnya perjuangan guru-guru saat mengajar di sekolah pelosok. Kita mempunyai cita-cita yang sama untuk meningkatkan mutu pendidikan Aceh,” ujarnya di hadapan para guru SMK Negeri 1 Simpang Jernih.

Alhudri menuturkan agar dapat menciptakan generasi Aceh yang lebih baik kedepan, para guru dan tenaga kependidikan harus menjalankan proses belajar mengajar dengan kreatif dan inovatif serta menjunjung tinggi kearifan lokal.

Dirinya juga menghimbau agar jangan sampai ada anak Aceh usia sekolah yang tidak masuk dalam lembaga pendidikan. Karena, menurutnya, pendidikan saat ini merupakan layanan gratis dan mendapat jaminan dari pemerintah.

“Anak-anak Aceh saat ini adalah generasi masa depan kita, baik buruknya generasi Aceh sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang didapat saat ini. Karena itu saya memohon kepada bapak/ibu guru semua, tolong diasuh dan diasah mereka dengan baik. Mereka ini adalah mutiara yang memerlukan pembinaan yang tepat dari sang guru,” kata Alhudri.

Alhudri mengharapkan agar pembelajaran tatap muka dapat terus berjalan diperlukan upaya pencegahan terhadap penyebaran Virus Covid-19, yaitu dengan penerapan protokol kesehatan dan mempercepat proses vaksinasi bagi guru dan siswa.

“Alhamdulillah, sudah mulai terlihat hasil dari ikhtiar vaksinasi yang kita lakukan, saat ini jumlah orang yang terpapar virus Covid-19 sudah terus menurun di Aceh. Semoga tahun depan kita sudah bebas dari wabah ini,” ujarnya penuh harap.[]

read more
Berita Terkini

Kacabdisdik Aceh Selatan, MGMP Kendali Bagi Peningkatan Mutu Guru

Tapaktuan – Dalam rangka mewujudkan peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dalam pengembangan profesionalisme guru, maka Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Wilayah Aceh Selatan menyelenggarakan MGMP jenjang guru SMK.

Kegiatan MGMP itu dibuka oleh Kacabdisdik Wilayah Aceh Selatan, Annadwi SPd MM di Aula Cabang Dinas Pendidikan setempat, Kamis (14/10/2021).

Annadwi mengatakan bahwa MGMP ini sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia pendidik khususnya profesional guru.

“Ini merupakan usaha untuk mempersiapkan guru agar memiliki berbagai wawasan, pengetahuan, keterampilan dan memberikan rasa percaya diri untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai guru profesional,” ujarnya.

Sasaran peserta dalam kegiatan MGMP SMK ini adalah ketua dan anggota yang tergabung dalam komunitas MGMP bidang studi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam, PJOK, Kesenian, Pendidikan Agama Islam, Tekhnik Komputer dan Informatika serta Bimbingan dan Konseling.

Lebih lanjut MGMP ini SMK ini diharapkan menjadi gugus kendali dan penjamin dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan, tutup Annadwi.

read more
Berita Terkini

Ners Rody Motivasi Peserta LKS Nasional Perwakilan Aceh

BANDA ACEH | Ketua Umum (Ketum) Indonesia Motivator Community (IMC) Aceh, Hj. Ners Rosdiana, SKM., S.Kep menjadi motivator bagi peserta pembekalan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) yang akan bertanding pada LKS tingkat Nasional Akhir Oktober 2021.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Aceh berlangsung mulai 12 -14 Oktober 2021 dipusatkan di Aula Hotel Madinatul Zahra Aceh Besar.

Pada kegiatan tersebut, Ners Rody menyampaikan materi dengam tema “Membangun Konsep Diri yang Positif dan Berkarakter”. Kata dia, konsep diri memiliki peranan penting dalam menentukan perilaku individu, sebagai cermin bagi individu dalam memandang dirinya.

“Individu akan bereaksi terhadap lingkungannya sesuai dengan konsep dirinya,” tegas motivator yang juga PNS pada Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh, Hj. Ners Rosdiana, SKM., S.Kep yang dikutip media ini, pada Kamis (14/10/2021).

Ners Rody juga mengatakan setiap orang ada ciri khas, ada fitur pembeda, dan pastinya karakter tidak sama. Karakter tak bisa diubah, tapi karakter bisa dibentuk.

Menurutnya, ada empat karakter dasar manusia. Pertama populer, orang yang memiliki kepribadian menarik. Orang seperti ini memiliki sifat humoris, hebat, emosional, percaya diri tinggi dan kepo.

Kedua flegmatis; orang yang memiliki kepribadian mudah diatur. Sifatnya mudah diatur, pendiam, toleransi tinggi dan suka mengalah.

Ketiga kuat, orang yang memiliki kepribadian mumpuni. Sifatnya antara lain memimpin, mengatur, petualang, pantang menyerah dan idaman.

Keempat sempurna, orang yang memiliki kepribadian yang perfect. Sifatnya rapi, teratur, rasa ingin tahu, antusias, penuh pertimbangan, idealis, dan setia.

Peserta yang merupakan siswa dan guru pembimbing perwakilan Aceh pada ajang LKS Nasional ini terlihat sangat antusias mendengar setiap materi yang disampaikan oleh Ketua IMC Aceh.

read more
Berita Terkini

Tim Verifikasi Provinsi Aceh Apresiasi Kesiapan SLBN Aceh Selatan

TAPAKTUAN – Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Aceh Selatan mulai berbenah untuk menyiapkan aktifitas proses belajar mengajar setelah keluarnya izin operasional dari Gubernur Aceh.

Untuk mensukseskan kegiatan belajar mengajar itu tim dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh melakukan verifikasi langsung ke SLB Negeri Aceh Selatan, Kamis (14/10/2021).

Koordinator rombongan dari Bappeda dan Disdik Aceh, Zulfikar SSTP MSi, Kasubbid Pemerintahan dan Kelembagaan Bappeda Provinsi Aceh memberikan apresiasi atas kesiapan yang dilakukan oleh Kepala SLB Negeri Aceh Selatan bersama dewan guru dan orang tua siswa serta masyarakat bahkan kepala sekolah menjemput langsung ke Banda Aceh mengambil izin operasional.

“Hari ini kami turun ke lokasi untuk melihat langsung kesiapan akan dimulainya kegiatan belajar mengajar yang selama ini belum dilaksanakan dan memverifikasi apa-apa saja kebutuhan serta mendengarkan harapan dari kepala sekolah,” kata Zulfikar.

Dikatakannya, dari pembicaraan dengan orang tua siswa ada kerinduan yang amat besar supaya anak-anak mereka penyandang Disabilitas agar tetap sekolah sama halnya seperti siswa-siswa normal lainnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Dukungan baik dari Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan maupun dari Pemerintah Provinsi Aceh serta stakehoders pendidikan secara bersama untuk memberikan perhatian bagi putra-putri Aceh Selatan penyandang Disabilitas dengan mendukung secepatnya dimulainya proses belajar mengajar,” ucap Zulfikar.

Hal yang sama disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Selatan, Annadwi SPd MM diwakili Kasubbag Tata Usaha, Fahrizal Kesuma Wijaya SH agar SLB Negeri Aceh Selatan segera dimulainya aktifitas sekolah.

“Pihak Cabdisdik Wilayah Aceh Selatan sering mengkoordinasikan ke Disdik Aceh agar siswa yang sudah mendaftar segera dimulai proses belajar mengajar dan segala proses administrasinya merupakan tanggung jawab cabang dinas bersama kepala sekolah, terbukti dengan proses yang cepat dikeluarkannya izin operasional” ujar Fahrizal.

Disampaikannya, Cabdisdik Wilayah Aceh Selatan mengupayakan agar siswa penyandang Disabilitas yang saat ini bersekolah diluar daerah seperti Aceh Barat Daya akan kita bicarakan kepada orang tuanya agar anaknya kembali sekolah di SLB Negeri Aceh Selatan.

Fahrizal menambahkan, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Luar Biasa tentu guru-guru spesialis dibidangnya apalagi ada sarjana putra-putri Aceh Selatan Alumni Pendidikan Luar Biasa kita harapkan mereka mau mengajar dan mengabdikan diri untuk memajukan daerah.

Sementara Plt Kepala SLB Negeri Aceh Selatan, Aslinar SAg menyampaikan harapannya ke tim dari provinsi, sekolah yang didirikan pada tahun 2019 yang lalu belum memiliki pagar supaya segera dibangun pagar keliling.

“Sekolah yang berlokasi di Gampong Ujong Padang Asahan Kecamatan Pasie Raja ini ada siswa yang rumahnya jauh dari lokasi sekolah, tentu alat transportasi berupa bus salah satu kebutuhan,” ucapnya.

Selain fasilitas asrama siswa dan rumah dinas guru yang perlu dibangun tentu dapodik guru-guru yang mengajar di SLB Negeri Aceh Selatan mereka rata-rata masih honor untuk segera terdaftar di Disdik Aceh agar mendapatkan honor dari provinsi dan memudahkan mereka untuk mengikuti seleksi PPPK, pungkas Aslinar.

read more
Berita Terkini

Perkuat Pendidikan Karakter, Disdik Aceh Sosialisasi Bahaya Narkoba Kepada Pelajar

Banda Aceh – Berbagai upaya dilakukan oleh Dinas Pendidikan Aceh, dalam upaya menguatkan pendidikan karakter, salah satunya dengan bekerjasama dengan DPP Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN) untuk memberikan pemahaman bahaya narkoba kepada pelajar.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM diwakili Kepala UPTD Balai Tekkomdik, T. Fariyal, MM saat membuka pelatihan dan pendidikan dasar konselor sebaya bagi peserta didik dalam upaya pencegahan dini terhadap bahaya narkoba di Aula Kantor Cabang Disdik Wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, Rabu (13/10/2021).

“Pendidikan karakter ini terhadap siswa menjadi benteng dan faktor penting untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, karena generasi muda rentan dan muda terpengaruh dengan barang haram itu, karena ketidak mengertian dan informasi yang kurang akan bahaya mengkonsumsi narkoba,” katanya.

Sadar akan bahaya narkoba, Fariyal mengajak semua elemen bangsa, seperti pemerintah, aparat penegak hukum, institusi pendidikan, masyarakat dan pelajar untuk melakukan usaha pencegahan, memperkecil ruang gerak peredaran narkoba serta gerakan perangi narkoba secara serius dan terus menerus.

“Baik dengan pendekatan preventif maupun represif, sehingga upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba ini dapat berjalan efektif di Aceh. Khusus untuk pencegahan di kalangan pelajar, Disdik Aceh melakukan sosialisasi langsung di kalangan siswa terkait bahaya narkoba,” terang Kepala UPTD Balai Tekkomdik Aceh.

Sementara Ketua Umum DPP IKAN, Syahrul Maulidi, SE, M.Si mengatakan narkoba merupakan musuh nomor satu bangsa Indonesia. Hal ini tak terlepas dari fakta bahwa setiap hari 30-50 orang Indonesia meninggal akibat narkoba. Sosialisasi ini dilakukan agar siswa mampu membentengi diri dari ancaman bahaya narkoba.

“Generasi muda saat ini merupakan sasaran utama para bandar narkoba dengan berbagai macam modus yang mereka lakukan. Begitu besar potensi dari para bandar narkoba menjadikan remaja sebagai target mereka,” ungkapnya.

Syahrul menegaskan apabila remaja sudah mulai menggunakan narkoba maka para bandar narkoba akan mendapatkan beberapa keuntungan di antaranya jumlah pemakai bisa semakin meningkat karena memanfaatkan rasa keingintahuan dan rasa penasaran yang tinggi dari remaja.

“Kami mengimbau kepada para siswa untuk tidak memiliki rasa penasaran terhadap narkoba dan jangan pernah coba- coba memakai narkoba. Sekali mencoba maka akan ada coba coba yg berikutnya sampai ketahap ketergantungan terhadap narkoba,” pintanya.

read more
Berita Terkini

Terobos Pedalaman Aceh Tamiang, Kadisdik Upayakan Pemerataan Mutu Pendidikan

ACEH TAMIANG- Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM beserta jajarannya melakukan perjalanan jauh melewati jalanan berdebu dan bebatuan hingga menerobos jalanan setapak di tengah perkebunan sawit serta menaiki perahu untuk menyeberangi sungai menuju daerah pedalaman Kabupaten Aceh Tamiang.

Rombongan Disdik Aceh yang dipimpin langsung Kadisdik Aceh meninjau sejumlah sekolah pelosok Aceh Tamiang, yaitu SMA Negeri 1 Bandar Pusaka, SMA Negeri 1 Sekerak dan SMA Negeri 1 Tamiang Hulu.

Alhudri begitu bersemangat ingin melihat langsung kondisi pendidikan serta berjumpa para guru dan siswa yang berada di daerah pelosok. Ia juga terkenang memori saat menjadi Camat di Samar Kilang, sebuah daerah pedalaman Kabupaten Bener Meriah.

Semua itu dilakukan sebagai upaya membangun pendidikan berkualitas dari pelosok negeri. Alhudri bercita-cita melakukan perubahan di sektor pendidikan melalui pemerataan mutu pendidikan di seluruh Aceh, sehingga lulusan SMA, SMK dan SLB mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

Salah satu sekolah yang paling jauh dikunjungi Kadisdik Aceh yaitu SMA Negeri 1 Sekerak. Tak mudah jalan menuju ke sekolah yang terletak di Desa Sulum. Orang nomor 1 di Disdik Aceh harus menaiki motor melewati berbagai rintangan, mulai jalanan bebatuan dan berlumpur hingga jembatan gantung menyeberangi sungai.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri, MM mengajak semua pihak agar memiliki tekad yang sama untuk memajukan pendidikan. Targetnya, para lulusan sekolah yang diterima di Perguruan Tinggi terus meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun.

“Saat ini kita sudah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Namun, wabah Covid 19, masih ada di muka bumi ini. Kami ingatkan agar penerapan protokol kesehatan jangan diabaikan ” ujarnya.

Alhudri berharap agar pembelajaran tatap muka dapat terus berjalan, diperlukan upaya pencegahan terhadap penyebaran virus Covid-19, yaitu dengan penerapan protokol kesehatan dan mempercepat proses vaksinasi bagi guru dan siswa.

“Alhamdulillah, sudah mulai terlihat hasil dari ikhtiar vaksinasi yang kita lakukan, saat ini jumlah orang yang terpapar virus Covid-19 mulai menurun di Aceh. Hal itu dapat dilihat dari data yang dipaparkan tim Satgas Covid setiap harinya,” tuturnya.

Hampir tiga jam Alhudri memompa semangat para guru dan siswa yang berada disana. Ia mengapresiasi ketekunan dan kegigihan para guru dan tenaga kependidikan yang mengajar di SMA Negeri 1 Sekerak.

“Bapak dan Ibu gurunya sudah bersemangat. Adik-adik juga harus lebih semangat sekolahnya ya. Karena kita sudah memiliki fasilitas yang memadai disini. Di Pameu, Aceh Tengah, anak-anak harus belajar di Balai Desa untuk bisa bersekolah,” tuturnya penuh semangat.

Kadisdik berharap agar lulusan SMA Negeri 1 Sekerak untuk dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Untuk mencapai itu, para guru diminta untuk dapat mengembangkan inovasi dalam pembelajaran serta melakukan pembinaan guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Kami kesini untuk merasakan, apa yang telah dirasakan guru-guru kami yang mengajar di pelosok. Kita memiliki cita-cita yang sama untuk meningkatkan mutu pendidikan Aceh,” ujarnya di hadapan para guru.

Sementara SMA Negeri 1 Sekerak memiliki 3 rombongan belajar dengan jumlah siswa 60 orang yang berasal dari tiga desa. Saban hari para siswa harus berjalan sekitar 5 hingga 10 kilometer untuk menuju sekolah. Jalanan berdebu dikala musim kemarau dan berlumpur di saat musim hujan, bahkan banjir sudah biasa mereka lalui.

Tak kalah hebat, setiap hari para guru yang mengajar di sana, selain harus menyeberangi motornya dengan rakit kayu, mereka juga harus mengendarai motor untuk menuju sekolah, karena medan jalan yang dilalui juga sangat curam yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.

“Jalan ini kalau hujan sering banjir dan berlumpur, jika musim panas jalannya berdebu. Kadang guru yang tinggal di seberang sungai tidak bisa lewat kalau hujan dan harus berhati-hati karena sangat licin,” kata Bachtiar, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang yang ikut mendampingi Kadisdik Alhudri, Jumat, 8/10/2021.

Kacabdin Aceh Tamiang mengapresiasi semangat dan perjuangan para guru di daerah terpencil dalam mengajar dan membimbing para siswa agar lulus ke Perguruan Tinggi dan diterima di Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja.

“Tentu tidak sama perjuangan antara guru yang berada di perkotaan dan daerah terpencil. Materi pembelajaran yang diajarkan juga harus disesuaikan dengan kemampuan siswanya,” ungkapnya.

Meski demikian, Kabupaten Aceh Tamiang secara umum memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik, hal tersebut terlihat dari jumlah lulusan yang berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri semakin meningkat setiap tahunnya.

“Ini semua berkat kerjasama yang baik antara para guru dengan kepala sekolah. Sedangkan Cabdin hanya mendorong penguatan program pendidikan melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) untuk menuju Aceh Carong,” ungkapnya.[]

read more
Berita Terkini

Siswa dan Guru SMKN Penerbangan Aceh Dilatih Anti Perundungan

Jatinganpelajaraceh.com I Banda Aceh – Sebanyak 152 taruna/taruni beserta dewan guru dan tenaga kependidikan (tendik) SMK Negeri Penerbangan Aceh, dilatih anti perundungan dalam tema workshop yang bertajuk ‘Anti Perundungan di Lingkungan SMK Pusat Keunggulan yaitu SMK Negeri Penerbangan Aceh, Senin (4/10/2021) di ruang hanggar sekolah setempat.

Kegiatan tersebut dibuka oleh kepala SMK Negeri Penerbangan Aceh, Baihaqi S.Pd, M. Pd. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa SMKN penerbangan Aceh merupakan salah satu SMK dari 7 SMK di provinsi Aceh yang mendapatkan kesempatan menjadi SMK Pusat Keunggulan.

“Kegiatan anti perundungan itu bertujuan untuk mencegah aksi bullying di lingkungan SMKN Penerbangan Aceh.” ujar Kepala SMK Negeri Penerbangan Aceh ini.

Sementara output dari acara workshop anti bullying ini hari ini, kata Baihaqi, akan melahirkan sebanyak 30 orang Duta _Agen of Change (AOC)_ dari kalangan siswa Taruna dan Taruni.

“Peserta yang mengikuti acara ini akan kami arahkan menjadi agen anti bullying serta menjadi tangan kanan sekolah untuk mencegah perundungan di lingkungan SMKN Penerbangan Aceh dan masyarakat sekitar” lanjut Baihaqi.

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Zoelfadly dari smart team. Menurutnya, dunia ini begitu cepat berubah dan perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri.

“Oleh karena itu, mari kita ciptakan iklim yang baik di lingkungan sekolah salah satunya mencegah tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan orang lain seperti bullying” Kata Zoelfadly dari smart team.

Sebagaimana diketahui, SMK Negeri Penerbangan rutin melakukan dan pembinaan bagi siswa, guru dan tenaga kependidikan, apalagi SMK yang berlokasi di Blang Bintang ini menjadi salah satu sekolah penggerak di Aceh Besar.

read more
Kupi Pancung

Tukang “Meunyet Nyet” Apa Mungkin Karena “Ku’eh” ?

Perselisihan yang terjadi antar pertemanan sering sekali terjadi, entah disebabkan oleh perbedaan pendapat, pemahaman, sikap, sifat atau faktor kecil lainnya. Permasalahan yang tidak segera diselesaikan berakibat pada masalah yang kecil menjadi bumerang yang lebih besar lagi. Permasalahan ini akan menjadi momok di hati kita, yang sewaktu-waktu akan meledak. Hal ini disebabkan karena sering kali jika terjadi perselisihan kita hanya saling mendiamkan satu sama lain atau justru malah saling menghujat membicarakan keburukan-keburukan lawan kita. Permasalahan sebaiknya dibicarakan dengan baik-baik, dari hati ke hati.

Istilah “Meunyet-nyet” sering kita dengar dalam kosakata bahasa Aceh, yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya nyinyir; mengulang-ulang perintah atau permintaan, nyenyeh, dan cerewet (KBBI V edisi online). Ketika seseorang melakukan kesalahan baik dalam ucapan mau tindakan, maka si tukang “nyet nyet” akan selalu membahas kesalahan itu berulang-ulang (ata-ata sot). Bahkan, sering pula, kesalahan itu dipelintir agar orang yang membuat kesalahan akan merasa menyesal dan tidak tenang.

Sifat nyinyir ini bisa disebabkan karena bawaan seseorang selalu sinis dan cerewet. Di manapun ia berada dan kemanapun ia pergi selalu saja ada yang ingin dikomentari. Sehingga muncul postingan status di media yang bernada nyinyir.

Sebagai contoh, ada orang yang membuat terobosan atau ide-ide baru dan tidak dilibatkan dia, maka digiring opini negatif seakan-akan yang dibuat tersebut salah dan sia-sia, dan lebih parah lagi disebutkan bahwa orang tersebut mendapatkan bayaran yang mahal. Maka tidak heran langsung dibuat status dimedia sosial “nyan pane, item pubuet karena jai peng”. Sehingga orang seperti itu malah sering di istilahkan “Ku”eh” dalam Bahasa Aceh.

Namun, belakangan yang terjadi adalah memanfaatkan sosial media sebagai tempat curhat, melampiaskan amarah dan emosi. Sosial media menjadi tempat yang dirasa pas untuk ajang saling sindir-menyindir. Permasalahan bukannya mereda namun malah semakin memanas. Sosial media sebaiknya digunakan untuk menciptakan karya sebagai pelampiasan perasaan, bukan sebagai tempat mengumpat hujatan sebagai pelampiasan perasaan. Mungkin diantara kita masih banyak yang menggunakan sosial media belum dengan bijak

Menanggapi persoalan tersebut, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi lahirnya pernyataan sindiran seperti Dilansir dari Psychology Today yaitu :

Dipermainkan ekspektasi

Seseorang dalam relasinya dengan dunia luar sulit sekali untuk tidak berekspektasi. Bahkan, pada kenyataan riil yang terjadi pun akan lahir ekspektasi. Si tukang sindir merasa tidak bahagia sebab, terjadi jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang dialami.

Mengalami situasi sulit atau canggung

Situasi sulit atau canggung mendorong seseorang memilih mengutarakan sindiran daripada to the point. Menyindir juga bisa jadi satu cara bagi seseorang untuk merespons ketegangan atau perasaan tak nyaman yang digerakkan oleh situasi yang menyedihkan. Itu artinya, bagi si tukang sindir dengan mengucapkan pernyataan sindiran membuatnya lebih lega.

Tidak memiliki keberanian cukup

Jika cukup berani mengutarakan apa adanya berdasarkan kenyataan, mungkin seseorang tidak akan merespons situasi di sekitarnya dengan sindiran. Faktanya, seseorang yang suka menyindir bergantung pada kepekaan orang disekelilingnya agar memahami apa yang ia maksudkan.

Pada satu sisi, mengemas kalimat membutuhkan kecerdasan. Tetapi di lain sisi dapat membuat orang lain sakit hati dan menimbulkan putusnya hubungan.

Orang yang lebih ramah dan teliti lebih suka to the point

Berdasarkan penelitian, orang yang lebih ramah dan teliti tidak menggunakan bahasa sindiran dan humor sebagai cara untuk meremehkan atau menyinggung orang lain. Meski tidak bisa diukur sebaliknya atau orang yang suka menyindir bukan orang yang ramah dan teliti.

Tetapi yang pasti ada dua kemungkinan, sindiran dipakai untuk menjalin relasi atau dapat menegaskan jarak dengan orang lain.

Kalimat sindiran dipakai untuk mendeteksi radar sosial

Karena tidak memiliki keberanian, dalam posisi sulit, dan tertekan pada kenyataan yang dialami, kalimat sindiran biasa dipakai untuk mendeteksi radar sosial. Ini berarti sindiran dapat dipakai untuk memastikan posisi atau mendeteksi posisi lawan bicara yang disindir.

Apakah lawan bicara yang disindir terhubung atau punya pikiran yang sama atau tidak, maka kalimat-kalimat yang tidak to the point lebih dipilih untuk diucapkan.

Saat ini akibat perkembangan teknologi yang sangat cepat, budaya “Meunyet nyet” berubah dari face to face di warung kopi menjadi sindir menyindir di media sosial, sehingga hampir semua orang membacanya dan tentu bagi sebagian orang menanggapinya sebagai status orang kurang bahagia.

Penulis merasa prihatin dengan fenomena tersebut, hampir setiap grup WhatsApp mulai grup komunitas, organisasi, hingga grup bapak-bapak penyuka “bulukat boh drien” pun saling nyinyir. Seharusnya kita masing-masing harus instropeksi diri tentang sesuatu persoalan, yang mungkin tidak sepenuhnya kita ketahui jadi tidak perlu direspon atau memang mungkin fenomena ini hanya ada bagi kalangan tertentu yang suka mengkritik sesuatu tanpa informasi yang lengkap atau memang sudah menjadi sifatnya begitu, kalau dipinjam lirik sebuah lagu Aceh “Ku’eh cit ka dalam pruet”

 

*Penulis Merupakan Pengamat Dunia Maya

read more
1 28 29 30 31 32 57
Page 30 of 57